Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Warga Sidodadi Keluhkan Sulitnya Mendapatkan LPG 3 Kg

Juli Rambe • Sabtu, 6 Juni 2026 | 22:35 WIB
KELUH: Pertemuan warga Sidodadi PNK Pulo Padang mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 Kg ke anggota DPRD Labuhanbatu. (Dok: Fajar/Sumut Pos)
KELUH: Pertemuan warga Sidodadi PNK Pulo Padang mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 Kg ke anggota DPRD Labuhanbatu. (Dok: Fajar/Sumut Pos)

 

RANTAU PRAPAT, SUMUT POS- Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram kembali dikeluhkan warga di Lingkungan Sidodadi PNK, Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. 

Warga menduga distribusi gas subsidi di wilayah tersebut tidak tepat sasaran. Sehingga masyarakat yang berhak justru kesulitan mendapatkan pasokan.

Keluhan itu disampaikan sejumlah warga kepada Anggota DPRD Labuhanbatu, Tommy Raymen, saat melakukan pertemuan dengan masyarakat pada Jumat malam (5/6/2026).

Baca Juga: 82 Jamaah Haji Tebingtinggi Tiba di Tanah Air dengan Selamat

Menurut warga, dalam beberapa waktu terakhir mereka kesulitan memperoleh gas elpiji 3 Kilogram meskipun di wilayah tersebut terdapat pangkalan LPG bernomor 121413737543040 milik Dewi Varanju yang beragen ke PT Rantau Wijaya Sukses.

Warga menilai lokasi Lingkungan Sidodadi yang berada di perbatasan Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Labuhanbatu Utara membuat pengawasan distribusi LPG subsidi kurang optimal. Akibatnya, muncul dugaan adanya penyaluran yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Salah seorang warga, Parlan (61), mengaku keluarganya kesulitan membeli gas subsidi di pangkalan yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia mengatakan istrinya pernah mendatangi pangkalan tersebut untuk membeli gas elpiji 3 kilogram, namun ditolak oleh petugas dengan alasan bukan pelanggan atau nasabah pangkalan.

"Istri saya datang untuk membeli gas, tapi tidak dibolehkan. Katanya bukan nasabah mereka. Akhirnya terpaksa mencari gas ke tempat lain," ujar Parlan.

Karena tidak mendapatkan gas di pangkalan, lanjut Parlan, istrinya harus mencari hingga ke sejumlah kios di wilayah Bilah Barat. Di lokasi tersebut, gas elpiji subsidi diperoleh dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga eceran yang ditetapkan.

Parlan juga mengaku kerap melihat warga dari luar lingkungan datang membeli gas elpiji menggunakan becak maupun kendaraan lain dalam jumlah cukup banyak. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga setempat karena pasokan gas subsidi dinilai tidak lagi diprioritaskan bagi masyarakat sekitar yang berhak menerimanya.

Menanggapi keluhan masyarakat, Anggota DPRD Labuhanbatu Tommy Raymen turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi di lapangan. Ia menegaskan bahwa gas elpiji 3 kilogram merupakan barang bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sehingga distribusinya harus dilakukan secara adil dan tepat sasaran.

Menurut Tommy, laporan warga terkait sulitnya memperoleh LPG subsidi harus menjadi perhatian serius seluruh pihak yang terlibat dalam rantai distribusi, mulai dari agen, pangkalan hingga pemerintah daerah.

"Kami akan menindaklanjuti keluhan ini dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Jangan sampai masyarakat yang berhak justru kesulitan mendapatkan gas subsidi, sementara ada pihak-pihak tertentu yang membeli dalam jumlah besar," tegas Tommy.

Selain dugaan penjualan kepada pembeli dalam jumlah besar, warga juga mencurigai adanya praktik penjualan dengan sistem pesan antar atau COD yang diduga turut memengaruhi ketersediaan gas subsidi di lingkungan tersebut.

Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak pangkalan LPG yang dikeluhkan warga belum berhasil dimintai keterangan terkait tudingan dan keluhan yang disampaikan masyarakat. (fdh/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#warga labuhanbatu kesulitan gas 3 kg #lpg 3 kg