BELAWAN, SUMUT POS - Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) terus memantau dan mengawal penanganan Kapal Motor Nelayan (KMN) Teratai GT 6 asal Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang mengalami kerusakan mesin saat melaut di Perairan Selat Malaka.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (7/6/2026). Akibat kerusakan mesin, kapal kehilangan kemampuan manuver sehingga hanyut terbawa arus selama lima hari.
Kapal bersama enam orang anak buah kapal (ABK) bahkan sempat melewati perairan Malaysia hingga memasuki wilayah Thailand.
Baca Juga: Kemenekraf, Indosat, dan Adobe Berkolaborasi Ubah Kreativitas Menjadi Peluang Nyata
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Kodaeral I, Kolonel Laut (P) Wahyu Kurniawan, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi terhadap penanganan para nelayan tersebut.
"Akibat kerusakan mesin tersebut, kapal kehilangan kemampuan manuver dan hanyut selama lima hari hingga melewati perairan Malaysia dan memasuki wilayah Thailand bersama enam orang awak kapal di dalamnya," ujar Kolonel Wahyu Kurniawan saat memberikan keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Dalam kondisi darurat, dua orang ABK mengambil langkah nekat dengan berenang menggunakan tutup fiber tempat penyimpanan ikan untuk mencari bantuan. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah keduanya ditemukan dan ditolong oleh nelayan Malaysia.
Melalui koordinasi antarnelayan di wilayah perbatasan, kedua ABK tersebut berhasil kembali ke Indonesia pada 15 Juni 2026. Setibanya di Tanah Air, mereka segera melaporkan kondisi empat rekan mereka yang masih berada di atas kapal.
"Berkat bantuan nelayan Malaysia dan koordinasi antar nelayan di perbatasan, kedua ABK berhasil kembali ke Indonesia pada 15 Juni 2026 dan melaporkan kondisi rekan-rekannya yang masih berada di atas kapal," kata Wahyu.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Kodaeral I, empat ABK lainnya berhasil diselamatkan oleh nelayan Thailand. Seluruhnya dilaporkan dalam keadaan selamat. Sementara itu, KMN Teratai GT 6 ditarik oleh kapal patroli Angkatan Laut Kerajaan Thailand menuju pelabuhan terdekat di sekitar Pulau Tarutao.
Komandan Kodaeral I, Laksamana Muda TNI Deny Septiana, S.I.P., M.A.P., menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Atase Pertahanan Republik Indonesia di Thailand serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Songkhla guna mempercepat proses pemulangan para nelayan beserta kapal mereka.
"Kodaeral I akan terus berkoordinasi dengan Atase Pertahanan RI di Thailand serta KJRI Songkhla guna mempercepat proses repatriasi empat nelayan beserta kapal yang masih berada di Thailand," tegas Laksamana Muda TNI Deny Septiana.
Menurutnya, sinergi antara aparat negara dan masyarakat nelayan lintas negara menjadi faktor penting dalam penyelamatan para awak KMN Teratai GT 6. Berkat kerja sama tersebut, seluruh nelayan dapat ditemukan dalam keadaan selamat meskipun sempat terombang-ambing di laut selama beberapa hari.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi para nelayan agar selalu memperhatikan kondisi kapal sebelum berlayar. Kelaikan mesin, kelengkapan alat keselamatan, serta sarana komunikasi harus dipastikan dalam kondisi baik guna meminimalkan risiko saat menghadapi situasi darurat di tengah laut.
"Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi seluruh nelayan untuk memastikan kelaikan mesin, kelengkapan alat keselamatan, serta sarana komunikasi sebelum melaut guna menjamin keselamatan pelayaran dan keamanan di laut," tutup Wahyu. (san/ram)
Editor : Juli Rambe