Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Masyarakat Desa Tanjung Baringin di Padang Lawas Masih Hidupkan Tradisi 10 Muharram, Masak Bubur Asyura Beramai- ramai

Juli Rambe • Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:35 WIB
MASAK: Warga saat bergotong royong memasak Bubur Asyura. (Dok: Mitra Harahap/ Sumut Pos)
MASAK: Warga saat bergotong royong memasak Bubur Asyura. (Dok: Mitra Harahap/ Sumut Pos)

 

PALAS, SUMUT POS– Aroma harum rempah yang dimasak tungku tercium begitu menjejakkan kaki di Desa Tanjung Baringin, Kecamatan Barumum Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kamis (25/6/2026) siang. 

Warga tampak kumpul di halaman rumah masyarakat sambil bercanda tawa. Ada yang sedang membersihkan bahan masakan, ada yang meracik dan ada pula yang sedang berusaha menghidupkan api agar menyala.

Setelah diselidiki, ini merupakan tradisi warga dalam menyambut 10 Muharram. Berkumpul untuk bersilaturahim sambil memasak makanan yang disebut dengan Bubur Asyura.

Baca Juga: Sekolah Unggulan Berakreditasi A, SMKS Musda Perbaungan Buka Penerimaan Siswa Baru 2026

Opung Suti, sebagai tuan rumah dalam acara ini mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sebuah tradisi. Melainkan momentum untuk mempertebal iman dan takwa, sekaligus merawat ingatan umat Islam terhadap peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Salah satu napak tilas sejarah yang paling lekat dengan filosofi bubur Asyura adalah kisah bersandarnya bahtera Nabi Nuh AS.

"Tradisi ini mengingatkan kita pada peristiwa besar sejarah Islam. Salah satunya ketika kapal Nabi Nuh AS akhirnya mendarat dengan selamat setelah diterjang banjir besar yang dahsyat. Saat itu, para pengikut beliau mengumpulkan bahan makanan yang tersisa dan memasaknya menjadi bubur sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT," tutur Oppung Suti penuh khidmat.

Filosofi "mengumpulkan sisa bahan makanan" itulah yang kemudian menjelma menjadi tradisi bubur Asyura yang sarat akan gotong royong dan pembagian rezeki kepada sesama.

Opung Aira, yang juga menginisiasi acara ini menekankan bahwa esensi utama dari keriuhan di depan tungku ini adalah mempererat hubungan antar-manusia (hablum minannas).

"Kegiatan rutin ini adalah cara kami menjaga dan meningkatkan hubungan silaturahim. Kami ingin mempererat ikatan tali persaudaraan antara sesama warga di sini. Kita semua umat Muslim adalah bersaudara," tambahnya.

Dijelaskannya, setelah matang, bubur Asyura yang kaya akan cita rasa khas tersebut langsung dibagikan kepada warga sekitar dan masyarakat yang melintas. Senyum merekah di wajah anak-anak hingga lansia yang mengantre wadah bubur mereka menjadi penutup manis dari perayaan 10 Muharram ditahun ini. Sebuah tradisi sederhana, namun ampuh menjaga api kebersamaan tetap menyala di tengah masyarakat.

Jika Anda ingin mencoba membuat sajian ini di rumah, ikuti komposisi bahan umum dan langkah-langkahnya berikut:

◦ Bahan Utama: 200 gram beras, 500 ml kaldu ayam, dan 1000 ml santan (dari sedang hingga kental). 

◦ Bahan Isian (Campur sesuai selera): 50 gram kacang hijau, 50 gram kacang tanah, jagung manis pipil, potongan ubi jalar, dan singkong. 

◦ Bumbu Halus: Bawang merah, bawang putih, sedikit kunyit, ketumbar, dan merica. Jangan lupa tambahkan serai yang digeprek dan daun salam. 

Cara Pembuatan:

Tumis bumbu halus bersama serai dan daun salam hingga harum.

Masukkan beras yang sudah dicuci bersih.Tambahkan air kaldu ayam, lalu masak hingga menjadi bubur yang agak encer.

Masukkan bahan isian yang keras terlebih dahulu (kacang-kacangan dan umbi) agar empuk, kemudian tuang santan. Aduk terus menerus agar santan tidak pecah. 

Masak hingga bubur mengental dan semua bahan matang. Tambahkan garam secukupnya. (mag-12/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#bubur asyura #tradisi 10 Muharram #padang lawas