BATU BARA, Sumutpos.jawapos.com – Pekerjaan perbaikan Bendung Daerah Irigasi (DI) Cinta Dame/Cinta Maju di Sei Dalu-Dalu, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, mulai menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
Pengalihan aliran air selama proses pengerjaan tidak hanya berdampak pada lahan pertanian yang mengalami limpasan air, tetapi juga mengganggu aktivitas nelayan di Desa Kuala Indah.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi D DPRD Sumatera Utara, Ir H Yadhi Khoir Harahap, MBA. Anggota DPRD Sumut dari Daerah Pemilihan V yang meliputi Batu Bara, Asahan dan Tanjungbalai itu meminta pihak pelaksana segera mencari solusi agar dampak proyek dapat ditekan dan masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan.
Keluhan tersebut disampaikan kepala desa dan masyarakat Kuala Indah kepada Yadhi.
"Nelayan Kuala Indah juga tidak bisa melaut karena pengalihan air sungai untuk pekerjaan perbaikan bendung DI Cinta Dame/Cinta Maju di Sei Dalu-Dalu," ujar Yadhi kepada Sumut Pos, Minggu (9/8/2026).
Petani Terdampak Limpasan, Nelayan Kehilangan Akses
Menurut Yadhi, persoalan yang muncul di lapangan memiliki dampak berbeda bagi masyarakat.
Di satu sisi, sebagian petani menghadapi limpasan air yang berpotensi merusak tanaman. Namun di sisi lain, berkurangnya debit air menuju muara justru membuat nelayan kesulitan menjalankan aktivitasnya.
"Sebagian masyarakat terdampak air melimpas dan merusak tanaman mereka. Sebagian lagi air tidak sampai ke muara Sei Dalu-Dalu dan Sei Tanjung sehingga nelayan sulit menuju laut," katanya.
Situasi tersebut, menurut Yadhi, menunjukkan pentingnya perencanaan dan pengelolaan aliran air selama proses pekerjaan berlangsung. Perbaikan infrastruktur memang dibutuhkan, tetapi dampak turunannya harus diperhitungkan sejak awal.
Protes UPT Bah Bolon
Yadhi mengaku telah menyampaikan protes kepada Kepala UPT Bah Bolon, Syahrial Efendi, selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. Ia juga berkomunikasi dengan kepala seksi terkait, Sadikan.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah proses sosialisasi kepada masyarakat.
Baca Juga: Emosi Ditegur Soal Wanita Lain, Suami di Sibuhuan Hantam Kepala Istri Pakai Batu
Yadhi mempertanyakan apakah informasi mengenai pengalihan aliran air dan konsekuensi pekerjaan telah disampaikan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat yang bergantung pada aliran Sei Dalu-Dalu, Sei Tanjung, dan Sei Gambus.
"Saya menengarai adanya kelalaian dalam sosialisasi kegiatan perbaikan Bendung Cinta Dame/Cinta Maju di Sei Dalu-Dalu. Pekerjaan tersebut tidak disosialisasikan secara baik dan menyeluruh kepada semua masyarakat terdampak," ujarnya.
Ia meminta pihak pelaksana segera memberikan penjelasan kepada masyarakat sekaligus menyusun langkah mitigasi agar persoalan tidak semakin meluas.
"Saya sudah meminta mereka segera menyampaikannya kepada masyarakat dan mencari solusi agar dampak pengerjaan dapat seminimal mungkin sehingga tidak merugikan masyarakat," katanya.
UPT Bah Bolon Mulai Berkoordinasi
Setelah mendapat protes, Kepala UPT Bah Bolon disebut telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak yang terdampak.
Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti pada koordinasi administratif, tetapi menghasilkan solusi konkret terhadap persoalan yang muncul selama pekerjaan berlangsung.
Yadhi memastikan dirinya akan terus memantau perkembangan di lapangan sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD Sumatera Utara.
"Saya akan terus memantau dan melakukan pengawasan sebagaimana fungsi kami sebagai anggota DPRD Sumatera Utara, apalagi ini merupakan proyek provinsi," ujarnya.
Baca Juga: Modus Pinjam Motor untuk Beli Rokok, Pemuda Tapsel Berakhir di Sel Polres Padang Lawas
Ia juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi apabila menemukan persoalan lain selama proyek berlangsung.
"Setiap informasi dan laporan yang diberikan masyarakat akan sesegera mungkin kita koordinasikan dengan UPT Bah Bolon sebagai penanggung jawab," katanya.
Perbaikan Bendung Tak Boleh Gagal
Di tengah munculnya berbagai keluhan, Yadhi menegaskan bahwa perbaikan Bendung Dalu-Dalu tetap harus berjalan hingga selesai.
Pasalnya, keberadaan bendung tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan pengairan lahan pertanian di wilayah DI Cinta Dame/Cinta Maju.
Menurut Yadhi, sekitar 1.460 hektare lahan tanaman padi membutuhkan dukungan sistem pengairan tersebut. Persoalan kerusakan bendung bahkan telah menjadi aspirasi masyarakat selama lebih dari tiga tahun.
"Yang jelas, pekerjaan perbaikan Bendung Dalu-Dalu harus sukses karena itu merupakan pengaduan, tuntutan, dan harapan masyarakat, khususnya petani yang berada di lingkup DI Cinta Dame/Cinta Maju," katanya.
Namun, keberhasilan proyek tidak semestinya diukur hanya dari rampungnya pekerjaan fisik. Dampak terhadap masyarakat sekitar juga harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.
Baca Juga: UEFA Siapkan Boikot, 5 Turnamen FIFA Terancam Jadi Korban Konflik dengan Gianni Infantino
"Perbaikan bendung harus dilakukan, tetapi tahapan pengerjaannya tidak boleh juga mengorbankan masyarakat lainnya," tegasnya.
Karena itu, Yadhi mendorong pihak pelaksana memperkuat komunikasi dengan masyarakat, memastikan pengaturan aliran air dilakukan secara tepat, serta menyiapkan langkah mitigasi terhadap dampak yang muncul.
Bagi masyarakat, perbaikan bendung memang telah lama dinantikan. Tetapi di tengah kebutuhan tersebut, ada kepentingan lain yang juga harus dijaga. Proyek untuk memperbaiki pengairan tidak boleh justru menciptakan persoalan baru bagi petani maupun nelayan.
Kini, tantangannya bukan sekadar menyelesaikan proyek, melainkan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat tanpa meninggalkan kerugian di wilayah lain. (lib/han)
Editor : Johan Panjaitan