Kunjungan Balasan DLH Binjai ke Lapas, Perkuat Kolaborasi Budidaya Magot

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:35 WIB

Kepala DLH Binjai, Ahmad Yani saat melihat kondisi rencana budidaya magot di Lapas Binjai. (Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)
Kepala DLH Binjai, Ahmad Yani saat melihat kondisi rencana budidaya magot di Lapas Binjai. (Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)

 

BINJAI, Sumutpos.jawapos.com – Upaya mengubah limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai terus didorong Pemerintah Kota Binjai. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Binjai melakukan kunjungan balasan ke Lapas Kelas IIA Binjai, Selasa (11/8/2026), untuk memperkuat kolaborasi pengelolaan limbah sekaligus menindaklanjuti rencana budidaya magot.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut setelah jajaran Lapas Kelas IIA Binjai sebelumnya mendatangi DLH untuk melihat langsung pengembangan budidaya magot yang dilakukan pemerintah daerah. Kegiatan studi tiru itu kemudian berkembang menjadi rencana kerja sama.

Kepala DLH Binjai Ahmad Yani mengatakan, lingkungan Lapas memiliki potensi besar untuk mengembangkan budidaya magot, terutama dengan memanfaatkan limbah organik yang selama ini dihasilkan dari aktivitas dapur.

Menurut Yani, gagasan tersebut sebelumnya telah dibicarakan secara informal bersama Kalapas Binjai Mochamad Mukaffi. Kini, rencana tersebut mulai diarahkan pada kerja sama yang lebih konkret.

“Rencana mau MoU, tapi belum sampai ke situ. Jadi, kita kerja sama lah, supaya mereka tidak lagi buang limbah makanannya. Mereka akan buat budidaya magot juga,” ungkap Yani, Rabu (12/8/2026).

Limbah Dapur Diubah Jadi Produktif

Saat ini, Lapas Binjai tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk memulai budidaya magot. Kedatangan jajaran DLH kali ini sekaligus untuk melihat kesiapan di lapangan serta membantu mengidentifikasi kebutuhan yang masih kurang.

Baca Juga: Tahap Akhir Seleksi KIP dan KPID Sumut Ditargetkan Digelar Akhir Agustus 2026

Yani menyebut, pemanfaatan limbah organik melalui budidaya magot memiliki dua manfaat sekaligus. Limbah makanan dapat dikelola sehingga tidak berakhir sebagai sampah, sementara kegiatan budidaya bisa menjadi aktivitas produktif bagi warga binaan.

“Mereka lagi proses itu (budidaya magot). Selama ini limbah organik belum dikelola dengan baik, jadi kita ajak untuk budidaya magot supaya menjadi kegiatan bersama warga binaan. Kita juga sudah jalin kerja sama dengan Korea kemarin terkait budidaya magot,” tambahnya.

Konsep tersebut membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Limbah organik diarahkan menjadi bagian dari kegiatan pembinaan yang memberikan keterampilan dan pengalaman bagi warga binaan.

Pembinaan Berjalan, Kepedulian Lingkungan Diperkuat

Kalapas Binjai Mochamad Mukaffi menyambut baik kunjungan jajaran DLH. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap kebersihan sekaligus mendukung program pembinaan di dalam Lapas.

Dalam kunjungan itu, rombongan DLH juga meninjau sejumlah kegiatan pembinaan yang tengah berjalan. Berbagai aktivitas produktif warga binaan menjadi perhatian, terutama kegiatan yang bertujuan membangun keterampilan, kemandirian, dan kesiapan mereka untuk kembali ke tengah masyarakat.

Mukaffi menilai pembinaan warga binaan tidak hanya membutuhkan program yang produktif, tetapi juga lingkungan yang sehat dan nyaman.

Baca Juga: Rp797,3 Juta Kerugian Negara Dipulihkan, Kejari Paluta Usut Kasus Korupsi Dinas Pertanian

Sebagai bentuk dukungan, DLH Binjai turut menyerahkan bantuan tempat sampah untuk mendukung pengelolaan kebersihan di lingkungan Lapas. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran seluruh warga Lapas dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup serta Kecamatan Binjai Barat. Dukungan seperti ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan sekaligus menjaga lingkungan Lapas tetap bersih, sehat, dan nyaman. Pembinaan yang baik harus didukung dengan lingkungan yang baik pula,” pungkas Mukaffi.

Kolaborasi DLH dan Lapas Binjai ini pada akhirnya bukan sekadar rencana budidaya magot. Ada upaya yang lebih besar untuk mengubah cara pandang terhadap limbah: dari sesuatu yang dibuang menjadi sumber daya yang bisa dikelola.

Di saat yang sama, kegiatan tersebut membuka ruang bagi warga binaan untuk belajar, bekerja, dan membangun keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat. (ted/han)

Editor : Johan Panjaitan
lapas kelas II A Binjai budidaya magot DLH Binjai kolaborasi