STABAT, Sumutpos.jawapos.com-Kesabaran warga terhadap kondisi jalan yang rusak akhirnya pecah. Seratusan masyarakat memblokir akses Jalan Perintis Kemerdekaan, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Kamis (13/8/2026).
Jalan tersebut merupakan salah satu jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Kota Binjai dengan Stabat. Aksi dilakukan sejak sekitar pukul 08.00 WIB sebagai bentuk protes terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai semakin membahayakan pengguna jalan.
Kerusakan jalan disebut telah berlangsung sekitar enam bulan. Awalnya, kerusakan hanya berupa lubang-lubang kecil. Namun, kondisi tersebut semakin parah hingga lubang membesar dan mengancam keselamatan pengendara, khususnya pengguna sepeda motor.
Baca Juga: DPRD Sumut Desak AIJ dan Dhirga Surya Segera Digabung
Aksi blokir sempat membuat antrean kendaraan, terutama truk, mengular di badan jalan. Polres Binjai kemudian turun ke lokasi. Kabag Ops Polres Binjai Kompol Henry Tobing memimpin personel untuk mengurai situasi sekaligus memastikan arus lalu lintas kembali berjalan.
Kondisi pun mulai mencair setelah polisi bersama pemerintah kecamatan berdialog dengan masyarakat. Massa akhirnya membuka akses jalan sehingga kendaraan kembali dapat melintas.
Enam Bulan Rusak, Warga Akhirnya Turun ke Jalan
Camat Binjai, Andi Siregar, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kondisi jalan yang tak kunjung mendapat perbaikan permanen.
Menurutnya, pemerintah kecamatan telah berupaya melakukan penanganan sementara dengan menimbun lubang menggunakan material sirtu. Namun, langkah tersebut justru menimbulkan persoalan baru berupa debu yang mengganggu masyarakat dan pengguna jalan.
Baca Juga: Ratusan Siswa SMA Negeri 1 Berastagi Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG
“Dari pihak kecamatan tadi memberikan pemahaman dan pengertian, bahwasanya dalam hal perbaikan jalan ada proses tender dan segala macam,” kata Andi.
Ia memastikan anggaran perbaikan jalan tersebut telah disiapkan Pemerintah Kabupaten Langkat pada tahun ini.
“Jadi tadi kami sampaikan bahwa tahun ini sudah dianggarkan oleh pemkab,” sambungnya.
Untuk mengurangi dampak debu, pihak kecamatan juga telah melakukan penyiraman secara berkala. Namun, pelaksanaannya sempat terkendala kelangkaan minyak sehingga penyiraman tidak berjalan optimal.
Andi mengatakan pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan penyiraman dapat dilakukan guna menekan persoalan debu sebelum perbaikan permanen dilaksanakan.
Warga Minta Kepastian, Bukan Sekadar Janji
Setelah membuka blokade, masyarakat tidak langsung membubarkan diri. Perwakilan warga bersama pemerintah kabupaten melanjutkan pembahasan di Kantor Desa Sambirejo.
Baca Juga: Bidan ASN Tersangka Dugaan Pembuangan Bayi, Dinkes Binjai Surati Polres Minta Kejelasan Status
Pertemuan tersebut diarahkan untuk menghasilkan kesepakatan dan langkah konkret terkait penanganan jalan rusak.
Desakan warga bukan tanpa alasan. Aksi blokir kali ini bukan yang pertama. Persoalan serupa bahkan pernah memicu aksi pemblokiran pada Mei 2026.
Berulangnya aksi menunjukkan persoalan jalan tersebut telah menjadi keresahan yang belum sepenuhnya teratasi.
Di satu sisi, pemerintah menyebut proses perbaikan membutuhkan tahapan administrasi dan pengadaan. Di sisi lain, masyarakat menghadapi kerusakan jalan setiap hari.
PUTR Pastikan Oktober Mulai Dikerjakan
Kepastian akhirnya disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Langkat, Arie Ramadhany.
Ia menegaskan, perbaikan Jalan Kwala Madu, Desa Sambirejo, dijadwalkan mulai dikerjakan pada Oktober 2026.
“Bulan Oktober 2026 dikerjakan,” tegas Arie.
Baca Juga: DPRD Medan Dorong Warga Laporkan Lurah SKH II, Muslim Harahap: Silakan Tempuh Jalur Hukum
Saat ini, menurutnya, proses lelang pekerjaan masih berlangsung.
“Ini masih proses lelang,” pungkasnya.
Janji pengerjaan Oktober kini menjadi titik tunggu masyarakat. Setelah aksi blokir dua kali dalam beberapa bulan, warga tentu tidak hanya membutuhkan kepastian jadwal, tetapi juga pekerjaan yang benar-benar terealisasi. (ted/han)
Editor : Johan Panjaitan