KARO, Sumutpos.jawapos.com-Aktivitas belajar mengajar di SMA Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, dihentikan sementara, Jumat (14/8). Keputusan tersebut diambil menyusul peristiwa keracunan massal yang diduga terjadi setelah siswa menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Siswa yang sempat datang ke sekolah dipulangkan. Sebagian lainnya memilih mendatangi sejumlah rumah sakit untuk menjenguk teman-teman mereka yang masih menjalani perawatan.
Hingga Jumat pagi, sebanyak 143 siswa masih mendapat penanganan medis di empat rumah sakit, yakni RS Efarina, RS Amanda, RSU Kabanjahe dan RS Mina Kabanjahe.
Kepala SMA Negeri 1 Berastagi, Normawati Martiana Ginting, S.Pd., mengatakan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar dilakukan karena sekolah masih memprioritaskan pemulihan kondisi kesehatan para siswa yang terdampak.
Baca Juga: MyPertamina Berbagi Hadiah Kemerdekaan Hadir di 24 SPBU Sumbagut
“Seperti hari pertama setelah kejadian, saya telah menugaskan dan membagi para guru ke empat rumah sakit. Hari ini juga begitu, para guru saya tugaskan ke empat rumah sakit,” ujar Martiana.
Menurutnya, jumlah siswa SMA Negeri 1 Berastagi yang terdampak dalam peristiwa tersebut mencapai 147 orang. Namun, hingga Jumat pagi, 143 siswa masih harus menjalani perawatan medis.
Sekolah pun kini menempatkan pemulihan siswa sebagai prioritas utama. Para guru secara bergantian ditugaskan mendampingi dan memantau kondisi para siswa di rumah sakit.
“Harapan kami semua anak-anak ini sehat kembali, sehingga mereka bisa kembali ke sekolah seperti biasa,” ucap Martiana.
Evakuasi Berlangsung Cepat
Martiana turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan berbagai unsur yang bergerak cepat ketika kejadian berlangsung. Menurutnya, proses evakuasi para siswa mendapat dukungan luas dari masyarakat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI dan Polri.
Baca Juga: Russell Westbrook, Raja Triple-Double, Pensiun setelah 18 Musim di NBA
“Luar biasa, semua datang membantu kami. Semua ambulans, baik dari Kabanjahe maupun Berastagi, datang ke sekolah. Pihak Polri, TNI, semua cepat tanggap,” katanya.
Respons cepat tersebut menjadi bagian penting dalam proses penanganan para siswa yang mengalami gangguan kesehatan. Setelah kejadian, para korban segera dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Siswa Mulai Trauma
Di tengah proses pemulihan, dampak psikologis juga mulai terasa di lingkungan sekolah. Sejumlah siswa mengaku masih trauma untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.
Beberapa pelajar yang ditemui di lingkungan SMA Negeri 1 Berastagi bahkan mengaku belum sempat menyantap menu MBG ketika peristiwa terjadi. Namun, kejadian tersebut tetap membuat mereka khawatir.
“Nggak mau lagi (makan), nanti keracunan pulak. Mending kami bawa bontot sendiri dari rumah,” ujar sejumlah pelajar.
Baca Juga: Nasser Al-Khelaifi Digadang Jadi Suksesor Gianni Infantino
Peristiwa tersebut membuat suasana SMA Negeri 1 Berastagi berubah drastis. Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar kini lebih banyak berfokus pada pemulihan siswa.
Dengan masih dirawatnya 143 siswa, pihak sekolah belum memprioritaskan kembalinya aktivitas belajar seperti biasa. Keselamatan dan kesehatan para siswa menjadi pertimbangan utama sembari menunggu seluruh korban dinyatakan pulih.
Pihak sekolah berharap kondisi para siswa segera membaik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal. Namun, pengalaman tersebut meninggalkan kekhawatiran baru di kalangan siswa sekaligus menjadi pengingat pentingnya jaminan keamanan pangan dalam setiap pelaksanaan program MBG. (deo/han)
Editor : Johan Panjaitan