Petani Cabai Gambus Laut Menjerit, Gagal Panen Akibat Banjir dan Berharap Bantuan Pemerintah

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:25 WIB
Kondisi areal pertanian cabe di Desa Gambus Laut pasca terendam air, Minggu(16/8/2026). (Foto Liberti H Haloho/Sumut Pos)
Kondisi areal pertanian cabe di Desa Gambus Laut pasca terendam air, Minggu(16/8/2026). (Foto Liberti H Haloho/Sumut Pos)

 

BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com – Banjir yang merendam areal pertanian Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, mulai surut. Namun, bagi para petani, persoalan justru memasuki babak yang lebih berat.

Air yang perlahan meninggalkan lahan tidak serta-merta mengembalikan penghasilan yang hilang. Tanaman cabai dan padi rusak, hasil panen merosot, sementara modal yang telah ditanam terancam tak kembali.

Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani yang menggantungkan kehidupan dari lahan pertanian. Mereka kini harus memikirkan kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak hingga cicilan pinjaman perbankan di tengah hilangnya sumber pendapatan.

Debit air di hilir Sungai Gambus Laut memang mulai berangsur surut setelah dilakukan rekayasa aliran oleh PSDA Sumatera Utara. Kepala Desa Gambus Laut, Syafrifuddin, mengapresiasi langkah tersebut bersama DPRD Batu Bara, Dinas PU Batu Bara dan pihak rekanan proyek yang turut berupaya mengatasi persoalan banjir.

Baca Juga: Putri Kusuma Wardani dan Alwi Farhan Lolos Ujian Awal Kejuaraan Dunia BWF 2026

“Terima kasih kepada PSDA Sumut, DPRD Batu Bara, Dinas PU dan rekanan proyek yang telah mencari solusi atas persoalan banjir ini,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Namun, ia menegaskan, surutnya air belum berarti persoalan selesai. Dampak ekonomi yang ditinggalkan banjir justru menjadi pekerjaan rumah baru bagi masyarakat.

Cabai Terendam, Panen Hanya 50 Kilogram

Kerugian tersebut dirasakan langsung Ramawati, warga Dusun VI, Desa Gambus Laut. Dari lahan cabai seluas 13 rante, ia hanya mampu melakukan satu kali panen dengan hasil sekitar 50 kilogram.

Setelah itu, tanaman terendam air dan tak lagi bisa diandalkan untuk menghasilkan.

“Ini panen pertama sekaligus terakhir. Dari 13 rante hanya dapat 50 kilogram. Tanaman terendam air. Hasilnya untuk kebutuhan hidup, sekolah anak dan mencicil kredit BRI. Sudah pasti tidak cukup,” keluh Ramawati saat diwawancarai Sumutpos, Minggu (16/8/2026).

Dengan harga cabai sekitar Rp17 ribu per kilogram, hasil panen tersebut hanya menghasilkan sekitar Rp850 ribu. Nilai itu tentu jauh dari biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk mengolah lahan hingga tanaman memasuki masa produktif.

Bagi Ramawati, kerugian tersebut bukan sekadar angka. Ada kebutuhan keluarga dan kewajiban finansial yang tetap berjalan ketika lahan pertanian sudah tak lagi memberikan pemasukan.

Baca Juga: Gempa NTT Tewaskan 68 Orang, 253 Sekolah Rusak, Pemerintah Siapkan Kelas Darurat

Nasib serupa, bahkan lebih buruk, dialami Wito, petani cabai lainnya. Tanamannya sama sekali tidak sempat dipanen.

“Dua hari saja terendam, tanaman cabai mulai kuning, kemudian kering dan mati. Padahal sedang produktif,” katanya.

Tanaman yang terendam selama sekitar sepekan mengalami kerusakan parah. Buah cabai membusuk hingga tidak memiliki nilai jual.

“Enggak ada yang bisa dipanen. Buahnya busuk. Kalau dipanen pun tidak ada yang mau membeli. Silakan dicek langsung ke lapangan,” tegasnya.

Tanaman Padi Ikut Terancam

Banjir tidak hanya menghantam komoditas cabai. Tanaman padi milik warga juga mengalami kerusakan.

Muhammad Yakob Gultom, salah seorang petani, mengatakan tanaman padinya terendam ketika memasuki fase bunting. Kondisi tersebut membuat harapan mendapatkan hasil panen ikut terancam.

Belum selesai dengan persoalan genangan, petani kini harus menghadapi ancaman hama tikus yang mulai meningkat di areal persawahan.

“Kalau masih ada yang hidup, sekarang hama tikus juga sudah merajalela menyerang tanaman padi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menambah panjang daftar persoalan petani setelah banjir. Kerusakan tanaman berarti hilangnya pendapatan, sementara biaya produksi telah lebih dulu dikeluarkan.

Petani Minta Perhatian Bobby dan Pemkab Batu Bara

Di tengah situasi tersebut, petani Gambus Laut berharap pemerintah tidak berhenti pada penanganan banjir, tetapi juga turun tangan memulihkan kondisi ekonomi masyarakat yang terdampak.

Mereka meminta bantuan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah Gubernur Sumut Bobby Nasution dan Pemerintah Kabupaten Batu Bara untuk membantu petani yang mengalami gagal panen dan kehilangan modal usaha.

Baca Juga: Calafiori Cetak Gol 23 Detik, Arsenal Ukir Rekor di Community Shield

Selain bantuan pemulihan pertanian, petani juga berharap ada kebijakan khusus dari lembaga perbankan, terutama BRI, terkait kewajiban pembayaran kredit.

Mereka meminta keringanan atau penyesuaian pembayaran cicilan bagi petani yang kehilangan sumber pendapatan akibat banjir. Harapannya, para petani tidak semakin terpuruk setelah gagal panen.

Oktober Musim Tanam, Saluran Irigasi Justru Kering

Belum selesai memulihkan kerugian akibat banjir, persoalan baru kembali membayangi petani Gambus Laut.

Memasuki Oktober, masyarakat biasanya mulai bersiap memasuki musim tanam. Sejumlah traktor bahkan telah mulai masuk ke areal persawahan untuk mengolah lahan.

Namun, saluran irigasi sekunder di kawasan tersebut justru terlihat kering.

Kondisi ini membuat petani khawatir. Setelah kehilangan tanaman akibat kelebihan air, mereka kini justru berhadapan dengan ancaman kekurangan pasokan air ketika musim tanam berikutnya dimulai.

Ketua Kelompok Tani Gambus Laut, Pandapotan Gultom, berharap distribusi air menuju areal persawahan segera kembali normal.

“Kami berharap air masuk ke areal persawahan melalui saluran tersier. Kami juga berharap PSDA Sumut melakukan rekayasa aliran sungai agar saluran irigasi tersier di Gambus Laut bisa kembali mengalir,” harapnya.

Baca Juga: Hayden Panettiere Meninggal Dunia di Usia 36, Kepergiannya Terjadi Usai Rilis Memoar

Bagi petani Gambus Laut, persoalan air kini menjadi dua sisi yang sama-sama mengancam. Ketika air berlebih datang, tanaman rusak dan panen gagal. Ketika air dibutuhkan untuk musim tanam berikutnya, saluran irigasi justru mengering.

Karena itu, mereka berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang lebih menyeluruh, bukan hanya mengatasi genangan, tetapi juga memastikan sistem irigasi berjalan baik dan memberikan perlindungan bagi petani yang telah kehilangan modal. (lib/han)

Editor : Johan Panjaitan
banjir gagal panen Gubsu petani cabai