KARO, Sumutpos.jawapos.com – Sepekan berlalu sejak kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Berastagi, Kabupaten Karo. Namun, persoalan tersebut belum sepenuhnya berakhir. Hingga Rabu (19/8/2026), sebanyak 15 siswa dari dua sekolah masih menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit.
Kasus ini bermula setelah sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG. Kondisi para korban sempat beragam. Sebagian dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang, namun beberapa di antaranya kembali mengalami gejala yang mengharuskan mereka mendapatkan penanganan medis.
Dari empat siswa yang sebelumnya dirujuk ke rumah sakit di Medan, satu korban telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan menjalani pemulihan di rumah.
Korban tersebut adalah Inka Cristi, siswa SMK Bersama Swasta Berastagi, yang sebelumnya menjalani perawatan di RSU Bina Kasih Medan. Informasi mengenai kondisi Inka disampaikan Dinas Kominfo Kabupaten Karo pada Rabu (19/8).
Sementara tiga siswa lainnya masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Haji Medan. Mereka masing-masing Christmas Dayana Shite, siswa SMA Negeri 1 Berastagi, serta Febi Yona br Purba dan Ana Karina br Karo, keduanya merupakan siswa SMK Bersama Swasta Berastagi.
Baca Juga: Dukung Ekosistem EV di Sumut, PLN Siapkan 141 SPKLU di 113 Lokasi
Di Berastagi, 14 siswa lainnya juga masih mendapatkan perawatan di RS Efarina dan RS Amanda.
“Ini data sementara yang kita peroleh,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Sumatera Utara, Zulkarnain Barus.
Kondisi Sempat Membaik, Kembali Dikeluhkan
Perkembangan kondisi korban menjadi perhatian karena tidak seluruh siswa yang sempat dinyatakan membaik benar-benar pulih.
Sejumlah siswa yang sebelumnya diperbolehkan pulang kembali mengalami keluhan kesehatan. Gejala yang muncul antara lain kejang, mual, pusing hingga sesak napas.
Salah satunya Lia Malemta br Sitepu, siswa SMK Bersama Berastagi. Setelah sempat menjalani perawatan dan diperbolehkan pulang, Lia kembali dilarikan ke RS Amanda Berastagi pada Selasa (18/8) malam setelah mengalami sejumlah keluhan tersebut.
Kondisi itu membuat jumlah siswa yang masih menjalani perawatan medis kembali tercatat sebanyak 15 orang.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kasus keracunan ini belum dapat dianggap selesai hanya karena sebagian korban telah diperbolehkan pulang. Pemantauan terhadap kondisi kesehatan siswa tetap diperlukan, terutama bagi mereka yang kembali mengalami gejala setelah menjalani perawatan.
Bupati Karo Turun Memantau
Di tengah proses pemulihan para korban, Bupati Karo Antonius Ginting bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Karo turun langsung mengecek kondisi para siswa yang masih dirawat di Medan, Rabu siang.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan para korban memperoleh penanganan kesehatan secara cepat dan tepat. Bupati bersama Forkopimda juga berkoordinasi dengan tenaga kesehatan serta pihak terkait mengenai perkembangan kondisi masing-masing siswa.
Baca Juga: INDOMOBIL Expo Medan 2026 Hadirkan Perdana Leapmotor, Changan dan Indomobil eMotor
Pemerintah Kabupaten Karo memastikan pemantauan terhadap para korban akan terus dilakukan sampai seluruh siswa dinyatakan pulih.
Bupati Antonius menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan siswa menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Evaluasi juga dilakukan terhadap pelaksanaan program MBG setelah munculnya kasus keracunan yang menimpa siswa di Berastagi.
Langkah evaluasi menjadi penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Program MBG yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi siswa harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan pangan, kualitas makanan, serta pengawasan yang ketat pada setiap tahapan penyediaannya.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Karo didampingi Wakil Bupati Karo Komando Tarigan, Ketua DPRD Karo Iriani Tarigan, serta Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo Edmond Novvery Purba.
Sepekan setelah kejadian, perhatian kini tertuju pada dua hal: memastikan seluruh korban benar-benar pulih dan mengungkap secara menyeluruh penyebab kejadian. Sebab, bagi para siswa dan keluarga mereka, persoalan ini bukan sekadar soal program yang harus dievaluasi, melainkan menyangkut keselamatan yang tidak boleh dipertaruhkan.(deo/han)
Editor : Johan Panjaitan