Sinergi Mahasiswa KKN ITS Paluta dan Warga Rondaman Siburegar, Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Gizi

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Sinergi Mahasiswa KKN ITS Paluta , ubah lahan tidur jadi kebun gizi dan Apotek Hidup. (Mitra Harahap/Sumut Pos)
Sinergi Mahasiswa KKN ITS Paluta , ubah lahan tidur jadi kebun gizi dan Apotek Hidup. (Mitra Harahap/Sumut Pos)

 

PADANG LAWAS UTARA, Sumutpos.jawapos.com — Lahan pekarangan yang sebelumnya dibiarkan tanpa manfaat kini mulai memberi harapan baru bagi warga Desa Rondaman Siburegar, Padang Lawas Utara (Paluta). Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Institut Teknologi dan Sains (ITS) Paluta mengubah lahan tidur menjadi kebun gizi sekaligus apotek hidup.

Program penanaman tanaman hortikultura dan tanaman obat keluarga tersebut menjadi langkah sederhana namun konkret dalam mendorong ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Tidak hanya membuat lingkungan desa lebih hijau, kebun yang dibangun juga diarahkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan dapur warga.

Mahasiswa KKN terlibat langsung sejak tahap awal, mulai dari mengolah tanah, menggemburkan lahan hingga menanam bibit. Lahan yang digunakan berasal dari pekarangan warga yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara produktif.

Bumbu Dapur hingga Sayuran Cepat Panen

Tanaman yang dipilih tidak ditentukan secara sembarangan. Mahasiswa menyesuaikannya dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus mempertimbangkan tanaman yang mudah dirawat dan memiliki manfaat langsung.

Untuk kelompok apotek hidup dan bumbu dapur, warga menanam kunyit, daun sereh dan halas atau lengkuas. Selain menjadi bagian penting dalam masakan sehari-hari, tanaman tersebut juga dikenal sebagai bahan ramuan herbal tradisional.

Baca Juga: Wadah Bakat Sepak Bola Mampet, Guru dan Siswa Huragi Desak Pemkab Palas Hidupkan Kembali LPI

Sementara untuk tanaman hortikultura, mahasiswa dan warga memilih bayam, kangkung serta timun. Komoditas tersebut memiliki masa panen relatif singkat sehingga hasilnya diharapkan dapat segera dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sayur segar rumah tangga.

Jika dikelola secara konsisten, kebun sederhana tersebut berpotensi mengurangi sebagian pengeluaran warga untuk kebutuhan dapur. Lebih dari itu, masyarakat memiliki sumber pangan yang tumbuh di lingkungan rumah sendiri.

Lahan Warga, Tenaga Mahasiswa

Program tersebut berjalan melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Warga menyediakan lahan pekarangan yang selama ini belum produktif, sementara mahasiswa KKN memberikan tenaga sekaligus pendampingan dalam proses pengelolaannya.

Perwakilan mahasiswa KKN ITS Paluta menyebut keterlibatan warga menjadi kunci agar program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

“Kami sangat mengapresiasi warga yang bersedia memberikan lahannya. Tenaga dari kami dan lahan dari warga menjadi bentuk sinergi yang sangat baik,” ungkap perwakilan mahasiswa KKN ITS Paluta, Kamis (20/8/2026).

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pengabdian yang lebih nyata. KKN tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk meninggalkan sesuatu yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program berakhir.

Baca Juga: Warga Semangat Gunung Geruduk Kantor Bupati Karo, Desak Jalan Diperbaiki dan Pungli Dihentikan

Pemerintah Desa Rondaman Siburegar menyambut positif inisiatif tersebut. Kebun produktif yang telah dibangun diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa.

Justru, keberlanjutan program berada di tangan warga. Perawatan rutin, pengembangan jenis tanaman dan pemanfaatan hasil panen menjadi langkah berikutnya agar lahan yang sebelumnya tidur dapat terus menghasilkan.

Pada akhirnya, kebun gizi dan apotek hidup tersebut bukan sekadar deretan tanaman di pekarangan rumah. Ia menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari ruang paling dekat dengan keluarga: halaman rumah sendiri.

Editor : Johan Panjaitan
ITS sulap lahan kkn mahasiswa