MEDAN, SUMUT POS- Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut), Ikhwan Ritonga, mengapresiasi langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang turun langsung ke Kabupaten Karo untuk meninjau korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ikhwan menilai kunjungan tersebut menunjukkan keseriusan BGN dalam menyikapi insiden keracunan yang dialami sejumlah siswa penerima program MBG di Kabupaten Karo.
Menurutnya, Kepala BGN bahkan menyempatkan diri datang langsung dari Jakarta di tengah kesibukan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga: PERADI Pergerakan dan UHN Fakultas Hukum Medan Jalin Kerjasama Gelar PKPA 2026
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BGN tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga mendatangi sejumlah rumah sakit untuk melihat kondisi para korban.
"Lihat kekecewaan Kepala BGN terhadap apa yang terjadi di Karo. Itu adalah bentuk kekecewaan. Sehingga kita apresiasi beliau bisa datang langsung dari Jakarta, padahal waktunya sangat-sangat sibuk menjelang hari kemerdekaan," kata Ikhwan dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Ia menyebut, kunjungan tersebut dilakukan dalam waktu singkat. Kepala BGN datang pada pagi hari dan kembali pada sore hari, namun tetap menyempatkan diri mengunjungi sejumlah korban yang menjalani perawatan.
"Kalau tidak salah beliau datang sehari sebelum tanggal 17 Agustus. Kita tahu seluruh menteri harus mengikuti upacara di Istana. Tetapi beliau menyempatkan satu hari datang pagi, pulang sore. Kunjungannya juga bukan tanggung-tanggung, ada beberapa kegiatan, termasuk ke Karo dan beberapa rumah sakit menjenguk para orang tua, keluarga korban, maupun siswa yang menjadi korban," ujarnya.
Politikus Gerindra tersebut mengatakan, sebagian korban juga mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Haji Medan. Menurutnya, para siswa tersebut dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang dinilai lebih memadai untuk menangani kondisi mereka.
Ikhwan juga mengungkapkan bahwa Kepala BGN disebut geram terhadap adanya kelalaian dalam proses pengelolaan makanan MBG di Karo.
Berdasarkan investigasi sementara yang disampaikan kepadanya, salah satu dugaan persoalan berkaitan dengan ikan yang terlalu lama berada di luar tempat penyimpanan dingin. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi kualitas makanan dan berpotensi menyebabkan keracunan.
"Katanya investigasi sementara itu soal faktor ikan yang sempat sampai 12 jam di luar dan tidak dimasukkan ke dalam freezer atau kulkas. Sehingga mungkin terjadi sedikit pembusukan dan kemudian mungkin mengakibatkan keracunan," ungkap Ikhwan.
Ia mengatakan, dugaan tersebut menjadi perhatian serius Kepala BGN. Bahkan, Kepala BGN disebut telah memberikan teguran keras kepada jajaran BGN yang berada di Sumut, termasuk pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap operasional dapur MBG.
"Ini yang disampaikan Kepala BGN, sehingga beliau marah kepada seluruh jajaran BGN di Sumatera Utara, termasuk para pimpinan BGN yang ada di wilayah Sumut," ujarnya.
Ikhwan menegaskan, apabila kelalaian tersebut terbukti, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab di lokasi kejadian harus mendapatkan sanksi tegas.
"Kepala SPPG pasti dievaluasi, kemudian beberapa jabatan yang menyangkut pengawasan juga mungkin perlu dievaluasi oleh BGN. Dan itu memang sudah disampaikan Kepala BGN terkait pemecatan dan akan diberikan sanksi yang sesuai atas kelalaian tersebut," tegasnya.
Menurut Ikhwan, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sebagai kesalahan kecil. Sebab, program MBG merupakan program prioritas nasional yang menyasar pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah.
Menurutnya, pengawasan harus dilakukan secara berlapis mulai dari proses pengadaan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan kepada para siswa.
Ikhwan menekankan agar para pengelola SPPG tidak menganggap remeh standar keamanan dan kualitas makanan karena program tersebut menyangkut kesehatan serta keselamatan anak-anak.
"Untuk kepala SPPG tidak main-main, karena ini merupakan program Pak Presiden. Ini program prioritas, program nasional yang harus dilaksanakan untuk memenuhi keterpenuhan gizi anak-anak di sekolah," katanya. (san/ram)
Editor : Juli Rambe