Bupati Batubara Pastikan Mitigasi Petani dan Nelayan Terdampak Pembangunan Bendung Sidalu Dalu

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:06 WIB
Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., C.L.A., bersama Wakil Bupati Batubara Syafrizal , S.E., M.AP saat diwawancarai Sumutpos, usai Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81, Senin (17/8/2026) lalu di gedung Kantor Bupati Batubara. (Liberti H Haloho/Sumut Pos)
Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., C.L.A., bersama Wakil Bupati Batubara Syafrizal , S.E., M.AP saat diwawancarai Sumutpos, usai Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81, Senin (17/8/2026) lalu di gedung Kantor Bupati Batubara. (Liberti H Haloho/Sumut Pos)

 

BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com — Pemerintah Kabupaten Batubara memastikan tidak akan membiarkan masyarakat menanggung sendiri dampak pembangunan Bendung Sidalu Dalu di Kecamatan Air Putih. Mitigasi bagi petani dan warga yang terdampak banjir akibat pengalihan debit air di hilir Sungai Gambus Laut kini menjadi perhatian pemerintah daerah.

Bupati Batubara Dr H Baharuddin Siagian menegaskan, meski pembangunan Bendung Sidalu Dalu berada dalam kewenangan Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumatera Utara, Pemkab Batubara tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan masyarakat terdampak mendapat penanganan.

“Saya paham Bapak/Ibu dirugikan. Memang benar proyek Bendung Sidalu Dalu ini kewenangan PSDA Provinsi Sumut. Tapi sebagai Bupati, saya tidak akan tinggal diam. Pemkab Batubara hadir untuk memastikan masyarakat terdampak segera mendapat mitigasi, mulai inventarisasi, bantuan bibit hingga pendampingan,” ujar Baharuddin.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tren, Ini Manfaat Yoga bagi Kesehatan Tubuh

Pernyataan itu disampaikan Baharuddin bersama Wakil Bupati Batubara Syafrizal usai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Batubara, Senin (17/8/2026).

Proyek Didorong Segera Permanen

Menurut Baharuddin, komunikasi dengan PSDA Sumut dan UPT Bah Bolon terus dilakukan. Pemkab Batubara mendorong percepatan pembangunan Bendung Sidalu Dalu secara permanen agar persoalan dampak sementara yang kini muncul dapat segera diatasi.

Di balik persoalan yang sedang dihadapi warga, pemerintah melihat proyek tersebut memiliki manfaat besar dalam jangka panjang. Bendung Sidalu Dalu merupakan bagian penting dari sistem irigasi yang ditargetkan menopang pengairan ribuan hektare lahan pertanian.

“Saya sudah komunikasi dengan PSDA Sumut dan UPT Bah Bolon agar proyek ini dipercepat, dibangun permanen, dan dampak ke masyarakat diminimalkan. Karena kalau sudah jadi, setidaknya 1.460 hektare di lima desa di Batubara yang menikmati. Termasuk lahan masyarakat yang sekarang terdampak, nantinya diharapkan lebih aman dari banjir,” katanya.

Baca Juga: Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir, Tegaskan Tak Akan Membiarkannya

Proyek Bendung Sidalu Dalu sendiri telah diperjuangkan masyarakat di Daerah Irigasi Cinta Damai/Cinta Maju selama lebih dari tiga tahun. Bendung tersebut ditargetkan mengairi sekitar 1.460 hektare lahan pertanian di lima desa, termasuk Pematang Panjang, Kampung Kelapa, Limau Sundai, dan Suka Ramai.

Dampak Tak Hanya Dirasakan Petani

Namun, manfaat jangka panjang proyek tersebut kini berhadapan dengan persoalan di lapangan. Pengalihan debit air disebut tidak hanya berdampak terhadap petani dan warga di hilir Sungai Gambus Laut, tetapi juga nelayan.

Sebelumnya, anggota DPRD Sumatera Utara Ir Yadhi Khoir Harahap MBA turut menyoroti kondisi nelayan di Kuala Indah. Aliran air yang disebut tidak sampai secara optimal ke muara membuat sebagian nelayan menghadapi kesulitan dalam menjalankan aktivitas melaut.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Pembangunan infrastruktur irigasi memang menjanjikan manfaat besar bagi pertanian, tetapi dampak selama proses pembangunan tetap harus ditangani agar masyarakat tidak menjadi pihak yang menanggung risiko paling besar.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Batubara, Hendra, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan inventarisasi terhadap dampak banjir akibat pengalihan debit air pembangunan Bendung Sidalu Dalu.

Baca Juga: Arsenal vs Coventry City: Beban Juara Bertahan dan Ancaman Sang Penantang

“Tim tengah turun ke lapangan melakukan inventarisasi dampak pada masyarakat petani di sana,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).

Kunci Irigasi 10 Ribu Hektare Sawah

Hendra menjelaskan, Bendung Sidalu Dalu tidak dapat dipisahkan dari sistem irigasi yang lebih besar di Batubara. Secara makro, Bendung Sumanggar berfungsi sebagai pembagi air ke tiga sistem, yakni Sungai Sidalu Dalu, Sungai Tanjung, dan Daerah Irigasi Perkotaan.

Sistem tersebut menopang pengairan sekitar 10.000 hektare areal persawahan di Kabupaten Batubara. Sementara Bendung Sidalu Dalu secara khusus ditargetkan mengairi sekitar 1.460 hektare lahan pertanian di lima desa.

Karena itu, pembangunan bendung secara permanen dinilai menjadi salah satu kunci penguatan sektor pertanian di Kecamatan Air Putih dan Batubara secara keseluruhan.

Baca Juga: Tidur Cukup Jadi Kunci Menjaga Kesehatan Tubuh dan Pikiran

“Kalau 1.460 hektare ini aman airnya dan produktif, begitu juga bendung pembagi di Sumanggar/Tanjung Muda lancar yang mengairi 10.000 hektare areal persawahan, sudah barang tentu ini bisa menjadi lumbung pangan sekaligus penggerak ekonomi petani kita,” ujar Hendra.

Potensi Ekonomi Capai Rp750 Miliar

Potensi ekonominya pun tidak kecil. Dengan asumsi produktivitas padi mencapai tujuh ton gabah per hektare dan harga sekitar Rp6.500 per kilogram, nilai produksi pertanian dari kawasan tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp350 miliar dalam satu musim tanam.

Jika pola tanam dapat dilakukan dua kali dalam setahun dan sistem irigasi berjalan optimal, potensi ekonomi bagi petani Batubara diproyeksikan mencapai sekitar Rp750 miliar per tahun.

Angka tersebut menjadi alasan kuat mengapa percepatan pembangunan Bendung Sidalu Dalu terus didorong. Namun, manfaat ekonomi masa depan itu tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat yang saat ini terdampak.

Pemerintah kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus: memastikan proyek strategis tersebut segera selesai dan memberi manfaat maksimal, sekaligus menjamin petani, warga, serta nelayan tidak dibiarkan menghadapi dampak pembangunan sendirian.

“Dengan terbangunnya Bendung Sidalu Dalu secara permanen, harapan masyarakat petani dan kita semua agar petani bisa mengelola areal persawahan dengan baik bisa menjadi kenyataan,” pungkas Hendra. (lib/han)

Editor : Johan Panjaitan
bendung sidalu dalu nelayan petani Bupati Batu Bara mitigasi