MEDAN, SUMUT POS - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara mencatat satu kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumut.
Kebakaran tersebut terjadi di kawasan hutan lindung di Desa Sampur Toba, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.
Kepala DLHK Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, mengatakan pihaknya hingga saat ini baru menerima laporan adanya titik kebakaran di wilayah Samosir.
Baca Juga: Reny Pardede Angkat Bicara, Tegaskan Pendiri Yayasan Darma Agung 9 Ahli Waris DR TD Pardede
“Untuk sementara ini yang kita terima laporannya hanya satu, yaitu di Samosir,” ujar Heri saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Selasa (25/8/2026).
Berdasarkan laporan Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah XIII, kebakaran terjadi di Bukit Sitalmak, Desa Sampur Toba, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 17.45 WIB.
Lokasi kebakaran diketahui berada di kawasan berstatus hutan lindung dengan tutupan lahan berupa belukar dan campuran. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.
Informasi mengenai kebakaran tersebut pertama kali diperoleh dari laporan masyarakat. Selain itu, kejadian tersebut juga diketahui melalui siaran langsung di media sosial yang menunjukkan adanya kebakaran di kawasan Bukit Sitalmak.
Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas KPH XIII kemudian melakukan pengecekan dan konfirmasi kepada salah seorang pemilik lahan yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Setelah informasi dipastikan, Tim Satgas Penanggulangan Karhutla Kabupaten Samosir langsung bergerak untuk melakukan upaya pemadaman. Sejumlah unsur dikerahkan untuk mencegah api semakin meluas.
Personel dari KPH XIII, Manggala Agni, pemadam kebakaran, kepolisian, BPBD Kabupaten Samosir hingga masyarakat setempat terlibat dalam proses pemadaman.
Dalam laporan KPH XIII disebutkan, sekitar pukul 22.00 WIB, api sudah dapat dikendalikan dan dinyatakan padam.
“Tim Satgas Penanggulangan Karhutla Samosir segera merespons dan melakukan pemadaman langsung. Sekitar pukul 22.00 WIB api dapat dikendalikan atau padam,” ucap Heri.
Meski api telah padam, petugas tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang berpotensi kembali menyala dan menyebabkan kebakaran susulan.
Heri mengatakan, pencegahan karhutla tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi.
“Penyuluhan terus kita lakukan kepada masyarakat, terutama di daerah-daerah yang memang rawan terjadi kebakaran,” kata Heri.
Ia menjelaskan, salah satu kebiasaan masyarakat yang berpotensi memicu terjadinya karhutla adalah pembakaran lahan untuk mendapatkan rumput muda dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Heri mengatakan, berdasarkan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi pada Agustus masih relatif basah di sejumlah wilayah Sumatera Utara.
Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya karhutla saat ini belum terlalu tinggi dibandingkan periode ketika kondisi cuaca lebih kering.
“Kalau melihat kondisi sekarang, berdasarkan data BMKG, Agustus masih termasuk musim basah. Jadi kekhawatiran terhadap kebakaran lahan saat ini belum terlalu tinggi,” katanya.
Heri mengatakan, berdasarkan kondisi cuaca dan pola musim, ancaman yang perlu diantisipasi menjelang akhir tahun bukan hanya kebakaran, tetapi juga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
“Yang menjadi kekhawatiran kita justru menjelang akhir tahun adalah potensi bencana banjir dan tanah longsor. Karena itu, kewaspadaan dan koordinasi tetap harus dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan kondisi cuaca perlu terus dipantau karena dapat memengaruhi kondisi lingkungan dan kawasan hutan.
Curah hujan tinggi dalam waktu tertentu dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor, terutama di wilayah yang memiliki kontur perbukitan dan lereng. (san/ram)
Editor : Juli Rambe