KARO, Sumutpos.jawapos.com – Aktivitas Gunung Sinabung yang kembali menunjukkan gejolak membuat jajaran Kodam I/Bukit Barisan meningkatkan kesiapsiagaan. Sebanyak 1.279 personel gabungan disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas vulkanik yang dapat berdampak terhadap masyarakat di kawasan rawan bencana.
Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi menyusul erupsi Gunung Sinabung dalam beberapa hari terakhir. Meski aktivitas gunung api itu disebut mulai menunjukkan kecenderungan menurun, potensi erupsi susulan tetap menjadi perhatian.
Kesiapsiagaan dalam skala besar ditandai dengan Apel Kesiapsiagaan Gunung Sinabung di Makodim 0205/Tanah Karo, Jalan Jamin Ginting, Desa Raya, Kecamatan Berastagi, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Dukung Kemitraan Pers, AKPERSI Tebingtinggi Dorong Penguatan Anggaran Kominfo 2027
Apel dipimpin langsung Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendi Antariksa dan didampingi Dandim 0205/Tanah Karo Letkol Inf Robert Panjaitan. Sejumlah unsur turut hadir, di antaranya Bupati Karo Antonius Ginting, Kajari Karo Edmond N. Purba, Kapolres Karo AKBP Pebriandi Haloho, BPBD, Dinas Kesehatan, Satpol PP, Damkar, Basarnas serta instansi terkait lainnya.
Usai memimpin apel, Pangdam bersama rombongan bergerak ke Pos Pemantauan Gunung Api Sinabung di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat. Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi gunung sekaligus memperoleh informasi terbaru dari petugas pemantauan.
Hendi mengatakan, berdasarkan pemantauan terkini, aktivitas Sinabung cenderung menurun. Namun, kondisi tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai situasi yang sepenuhnya aman.
Justru, menurutnya, potensi erupsi masih harus diantisipasi.
“Untuk aktivitas ini kecenderungannya menurun, tetapi tidak boleh lengah karena kondisi yang menurun ini bisa juga menjadi titik erupsi yang mulai 31 Agustus kemarin, sehingga bisa terjadi erupsi-erupsi besar lainnya. Kita harus mengantisipasi,” ujar Hendi.
Untuk menghadapi kemungkinan skenario terburuk, Kodam I/Bukit Barisan telah menyiagakan 1.279 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri dan unsur pendukung lainnya.
Baca Juga: Abu Vulkanik Sinabung Bergerak ke Utara-Timur Laut, Pengungsi Anak Dapat Pendampingan
Kesiapan itu tidak berhenti pada pengerahan pasukan. Langkah evakuasi terhadap masyarakat juga telah dilakukan, khususnya warga Desa Kuta Tengah. Lima posko pengamanan disiapkan di sejumlah wilayah Kabupaten Karo yang diprediksi dapat terdampak apabila terjadi erupsi dengan skala lebih besar.
“Upaya-upaya evakuasi sudah dilakukan kepada masyarakat, khususnya Desa Kuta Tengah. Sampai dengan saat ini ada lima posko pengamanan di wilayah Kabupaten Karo, terutama di wilayah yang diprediksi akan mendapatkan dampak cukup signifikan apabila terjadi erupsi yang lebih besar lagi,” katanya.
Hendi menegaskan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Karena itu, warga diminta tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona merah berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk menjauhi zona merah yang direkomendasikan oleh PVMBG,” tegasnya.
Baca Juga: Tak Kekurangan Kader, Jiji dan Ronggur Dinilai Cocok Emban Koordinator KAHMI Binjai
Kesiapsiagaan tersebut menjadi penting karena karakter aktivitas gunung api tidak selalu dapat diprediksi hanya berdasarkan kecenderungan sesaat. Penurunan aktivitas, seperti disampaikan Pangdam, tetap harus diiringi kewaspadaan dan kesiapan menghadapi kemungkinan perubahan kondisi.
Karena itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, tenaga kesehatan dan berbagai unsur terkait diminta bergerak dalam satu komando ketika situasi membutuhkan respons cepat.
Dengan 1.279 personel yang disiagakan dan lima posko pengamanan yang telah tersedia, kesiapan lapangan kini diarahkan pada satu tujuan: memastikan masyarakat di wilayah rawan memperoleh perlindungan dan bantuan secepat mungkin apabila aktivitas Sinabung kembali meningkat.(deo/han)
Editor : Johan Panjaitan