Semarak Kebudayaan, Sofyan Tan Ajak Fotografer Berkarya dengan Jujur

Juli Rambe • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:11 WIB
BERSAMA: Para peserta Semarak Budaya foto bersama Anggota DPR RI, Sofyan Tan. (Dok: Panitia)
BERSAMA: Para peserta Semarak Budaya foto bersama Anggota DPR RI, Sofyan Tan. (Dok: Panitia)

 

MEDAN, SUMUT POS- Kementerian Kebudayaan bersama Komisi X DPR RI dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan menggelar Semarak Budaya bertema “Dalam Satu Bingkai Kebhinnekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia” di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu (23/9). 

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berdasarkan data yang disampaikannya, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa dan 729 bahasa daerah.

Keberagaman itu, tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai pakaian adat, tradisi, seni hingga kuliner. Karena itu, seluruh kekayaan tersebut perlu didokumentasikan agar menjadi arsip yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Anggota DPRD Sumut Ahmad Hadian Bantah Dugaan Korupsi Anggaran Wasbang yang Dilaporkan KAMMI Sumut

“Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah,” ujar Sofyan Tan.

Selain sebagai rekam jejak sejarah, fotografi menurutnya memiliki fungsi sebagai cermin pembentuk identitas, sarana pendidikan dan diplomasi budaya, serta media kritik sosial.

Ia mencontohkan, sebuah foto dapat menyampaikan pesan mengenai nilai kebersamaan dan pendidikan moral tanpa harus menggunakan banyak kata. 

Di sisi lain, Sofyan Tan mengingatkan pelaku fotografi menghadapi tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia menyebut sekitar 83 persen fotografer kini telah memanfaatkan AI dalam berkarya.

Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya berdampak pada dunia fotografi, tetapi juga berbagai profesi lain, termasuk dokter dan akademisi, terutama terkait persoalan etika dan plagiarisme.

“Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh perasaannya mengalir ke sana. Walaupun bidikan foto hanya berlangsung satu detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan mempengaruhi kebijakan satu negara,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PFI Medan, Risky Cahyadi mengatakan bahwa kegiatan ini untuk menginggatkan masyarakat tentang pentingnya profesi fotografer. 

"Fotografi dapat merekam dan menjadi memori untuk generasi yang akan datang," tutupnya. (ram)

Editor : Juli Rambe
semarak budaya Sofyan Tan pfi medan