Krismas Korban Keracunan MBG di Karo Dua Kali Masuk PICU

Juli Rambe • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 12:00 WIB
LEMAH: Krismas Br Sihite masih terbaring lemah (surat keterangan kontrol rawat inap). (Dok: keluarga)
LEMAH: Krismas Br Sihite masih terbaring lemah (surat keterangan kontrol rawat inap). (Dok: keluarga)
 

KARO, SUMUT POS- Perjuangan para siswa korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sembuh total, belum usai. Pasca kejadian pada 13 Agustus lalu, sejumlah siswa masih menjalani perawatan dan pemeriksaan medis.

Salah satunya Krismas Dayanti Br Sihite. Kondisi kesehatan siswi tersebut hingga kini masih belum menunjukkan perubahan berarti. Bahkan, Krismas telah dua kali menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan.

Kakak Krismas, Winda Sihite, mengatakan adiknya masih mengalami berbagai keluhan setiap hari meski telah menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan. 

Baca Juga: Warga Datangi Inspektorat Nisel, Pertanyakan Hasil Laporan Aduan Masyarakat

“Sudah satu bulan lebih adik kami Krismas dalam proses penyembuhan, tapi tidak ada perubahan. Tiap hari ada terus keluhannya,” ujar Winda.

Menurut Winda, keluarga telah melakukan berbagai upaya untuk membantu proses pemulihan Krismas. Selain menjalani pengobatan, pola makan juga diatur dan kondisi psikologis Krismas terus dijaga agar tetap tenang. 

“Pola makan sudah diatur, tidak lagi makan sembarangan. Kami keluarga juga berusaha menghibur adik kami ini biar tidak terlalu banyak berpikir, supaya dia lebih tenang dan fokus untuk proses penyembuhannya,” katanya.

Namun, kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan proses pemulihan Krismas yang hingga kini belum sesuai harapan. “Kenapa sudah satu bulan lebih tidak ada perubahan?” kata Winda.

Kekhawatiran keluarga semakin besar setelah Krismas dua kali mendapatkan perawatan di ruang PICU RS Haji Medan. Saat ini, Krismas masih mengeluhkan sejumlah masalah kesehatan, terutama sakit pada bagian perut dan kepala.

“Keluhannya perut sakit, ulu hati panas, kepala pusing,” ujar Winda.

Padahal Krismas juga telah menjalani pemeriksaan endoskopi. Menurut penjelasan yang diterima keluarga, pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya masalah pada lambung. “Hasil endoskopi lambung adik luka semua, dinding lambungnya retak, kata dokter,” ungkap Winda.

Selain keluhan fisik, keluarga juga membawa Krismas menjalani pemeriksaan terkait kondisi psikologis. Winda mengatakan, berdasarkan pemeriksaan psikiatri dan psikolog, Krismas disebut mengalami trauma setelah kejadian yang dialaminya.

Keluarga menyebut pemeriksaan tersebut dilakukan oleh psikiater dr. Sarah dan psikolog dr. Anggi. Winda juga mengatakan keluarga mendapat penjelasan bahwa dari pemeriksaan psikiatri, Krismas disebut mengalami delirium. Sementara hasil pemeriksaan EEG dan MRI disebut normal.

Menurut penjelasan yang diterima keluarga, kondisi tersebut tidak terdeteksi melalui pemeriksaan EEG dan MRI sehingga Krismas membutuhkan pendampingan psikolog. Karena itu, Winda berharap Krismas mendapat penanganan dan obat-obatan yang dinilai tepat untuk mendukung proses pemulihannya, sebagaimana harapan yang disampaikan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ketika mengunjungi para korban di Tanah Karo.

“Saya berharap perawatan dan obat yang diberikan sudah obat yang terbaik buat kesembuhannya. Kami hanya ingin Krismas segera pulih dan kembali menjalani aktivitas dan melanjutkan sekolah,” harapnya.

Winda juga mengajak masyarakat mendoakan kesembuhan adiknya yang hingga kini masih menjalani proses pemulihan.

Kontrol Lanjutan

Pada Kamis (24/9/2026), keluarga kembali membawa Krismas ke RS Haji Medan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Hal tersebut sesuai dengan Surat Keterangan Kontrol Rawat Inap yang diterbitkan UPTD Khusus RS Haji Medan.

Dalam surat tersebut tercatat Krismas menjalani rawat inap sejak 10 September hingga 19 September 2026. Surat tersebut ditujukan kepada dr. Beatrix Siregar dengan jadwal kontrol di Poliklinik Nefrologi Anak. Dalam surat itu juga disebutkan pasien belum dapat dikembalikan ke fasilitas perujuk dengan alasan masih memerlukan evaluasi perkembangan.

Sejumlah kondisi medis juga tercantum dalam surat tersebut, antara lain kolik abdomen, demam dengan riwayat intoksikasi, post food intoxication, non-seizure, faringitis, infeksi saluran kemih, gastritis erosif, organic hallucination (F06.0), serta infeksi saluran kemih dengan keterangan Enterococcus faecalis.

Surat kontrol tersebut menunjukkan bahwa setelah menjalani rawat inap, Krismas masih memerlukan pemantauan dan pemeriksaan lanjutan, termasuk melalui Poliklinik Nefrologi Anak. (deo/ram)

 

Editor : Juli Rambe
keracunan mbg di karo dugaan keracunan mbg Keracunan MBG Mbg