Banjir Melanda Asahan, Langkat dan Binjai, Satu Orang Hilang

Juli Rambe • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:48 WIB
BANJIR: Bencana banjir melanda Kabupaten Langkat dan Kota Binjai, Sumatera Utara (Sumut), Senin (12/10/2026).(Dok BPBD Sumut)
BANJIR: Bencana banjir melanda Kabupaten Langkat dan Kota Binjai, Sumatera Utara (Sumut), Senin (12/10/2026).(Dok BPBD Sumut)

 

MEDAN, SUMUT POS- Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Asahan, Kabupaten Langkat, dan Kota Binjai, Sumatera Utara, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak Sabtu (10/10/2026) malam.

Bencana ini mengakibatkan ribuan warga terdampak, rumah penduduk terendam, sejumlah fasilitas umum terdampak, serta satu orang dilaporkan hilang setelah terseret arus sungai di Kabupaten Langkat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, mengatakan hingga Senin (12/10/2026), pemerintah daerah bersama BPBD masih melakukan penanganan, pendataan dampak, dan pemantauan kondisi di lokasi terdampak.

Baca Juga: Rico Waas Minta Pedagang Angkringan Pindah ke Blok Petisah

“Berdasarkan laporan sementara yang kami terima, banjir melanda Kabupaten Asahan, Kabupaten Langkat, dan Kota Binjai. Saat ini, penanganan dan pendataan masih dilakukan oleh pemerintah daerah bersama BPBD setempat,” ujar Tuahta saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Selasa (13/10/2026).

Dari ketiga daerah tersebut, Kabupaten Langkat menjadi salah satu wilayah yang memerlukan perhatian khusus. Selain menyebabkan ribuan warga terdampak dan ratusan keluarga mengungsi, banjir di daerah itu juga disertai laporan satu orang hanyut dan masih dalam pencarian.

Banjir Asahan Rendam 100 Rumah

Di Kabupaten Asahan, banjir terjadi di Kecamatan Tinggi Raja, tepatnya di Desa Terusan Tengah, Dusun X. Bencana tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 23.00 WIB yang menyebabkan debit air Sungai Hianga meningkat.

Air sungai kemudian meluap pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 08.00 WIB dan menggenangi permukiman masyarakat. Ketinggian air dilaporkan berkisar 30 hingga 100 sentimeter di atas permukaan tanah.

Berdasarkan laporan sementara BPBD, banjir berdampak terhadap 128 kepala keluarga (KK) dengan 100 unit rumah terdampak. Selain permukiman, dua fasilitas umum juga dilaporkan terkena dampak, yakni satu unit posyandu dan satu tempat ibadah.

Meski demikian, hingga laporan tersebut disusun, tidak ada korban jiwa, warga luka-luka, maupun pengungsi yang dilaporkan akibat banjir di wilayah tersebut.

Ribuan Warga Terdampak dan 310 KK Mengungsi di Langkat

Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat melanda sejumlah wilayah yang tersebar di empat kecamatan, yakni Besitang, Padang Tualang, Salapian, dan Sirapit.

Di Kecamatan Besitang, banjir terjadi di Desa Sekoci, Desa Arasnapal, serta Kelurahan Kampung Lama. Banjir juga melanda Desa Tebing Tanjung Selamat dan Desa Tanjung Putus di Kecamatan Padang Tualang, Desa Ujung Terang di Kecamatan Salapian, serta Dusun II Desa Tanjung Keriahan di Kecamatan Sirapit.

Kepala Desa Sekoci kemudian menginstruksikan seluruh kepala dusun untuk tetap siaga karena kondisi belum sepenuhnya kondusif. Kepala dusun bersama tim Kampung Rescue juga mengimbau warga melakukan evakuasi mandiri melalui jalur yang telah disediakan.

Pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 01.00 WIB, sekitar 60 persen warga dilaporkan telah melakukan evakuasi mandiri ke posko-posko yang ditetapkan. Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat.

Sekitar pukul 02.30 WIB, air kembali memasuki permukiman penduduk di sejumlah kecamatan di Kabupaten Langkat.

Berdasarkan data sementara, Kecamatan Besitang mencatat 969 KK atau 3.576 jiwa terdampak. Wilayah yang mengalami banjir meliputi sejumlah dusun di Desa Sekoci dan lingkungan di Kelurahan Kampung Lama.

Di Desa Sekoci, warga terdampak tersebar di Dusun Sejambu sebanyak 220 KK atau 880 jiwa, Dusun Sidodadi 240 KK atau 960 jiwa, Dusun Pantai Pulau 75 KK atau 300 jiwa, Dusun Suka Ramai 114 KK atau 456 jiwa, serta Dusun Sekoci sebanyak 70 KK atau 280 jiwa.

Sementara itu, di Kelurahan Kampung Lama, banjir berdampak terhadap 250 KK atau 700 jiwa di Lingkungan III, IV, dan V.

Ketinggian air di Desa Sekoci mencapai 100 hingga 150 sentimeter. Di Desa Arasnapal, genangan berkisar 50 hingga 100 sentimeter, sedangkan di Kelurahan Kampung Lama sekitar 10 hingga 30 sentimeter.

Di Kecamatan Padang Tualang, banjir berdampak terhadap 196 KK atau 773 jiwa. Rinciannya, sebanyak 116 KK atau 563 jiwa di Dusun I Sumur Bor, Desa Tebing Tanjung Selamat, serta 80 KK atau 210 jiwa di Dusun Sidoharjo atau Blok 60, Desa Tanjung Putus.

Ketinggian air di Desa Tebing Tanjung Selamat mencapai 20 hingga 60 sentimeter, sedangkan di Desa Tanjung Putus berkisar 30 hingga 120 sentimeter.

Selain merendam permukiman, banjir juga mengancam infrastruktur di Kecamatan Salapian. Pondasi jembatan di Desa Ujung Terang dilaporkan mulai tergerus akibat derasnya arus sungai.

“Selain dampak terhadap permukiman masyarakat, kami juga menerima laporan adanya infrastruktur yang terdampak. Di Desa Ujung Terang, pondasi jembatan mulai terkikis akibat arus sungai yang cukup tinggi,” ujar Tuahta.

Dampak banjir di Kabupaten Langkat juga menimbulkan kondisi darurat setelah seorang warga dilaporkan tenggelam atau hanyut di Kecamatan Sirapit.

Korban dilaporkan terseret arus saat menyeberangi sungai yang meluap akibat hujan. Setelah terbawa arus, korban tidak terlihat lagi di permukaan air.

Hingga laporan sementara diterima, korban masih dalam pencarian dan identitas maupun kondisi akhirnya masih dalam pendataan. Dengan demikian, laporan tersebut mencatat satu orang hilang, sementara jumlah korban meninggal dunia belum dapat dipastikan.

“Untuk kejadian di Kecamatan Sirapit, terdapat laporan satu orang hanyut setelah menyeberangi sungai yang meluap. Korban masih dalam pencarian dan proses pendataan terus dilakukan,” kata Tuahta.

Di Desa Sekoci, pengungsi tersebar di Posko I Dusun Sekoci sebanyak 40 KK, Posko II Dusun Sidodadi 80 KK, Posko III Dusun Suka Ramai 120 KK, dan Posko IV Dusun Sejambu sebanyak 30 KK.

Sementara itu, di Desa Tebing Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang, sebanyak 40 KK mengungsi di posko Dusun I Sumur Bor.

Binjai, 1.222 KK Terdampak Banjir

Banjir juga melanda Kota Binjai setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak malam hingga Senin dini hari.

Kenaikan tinggi muka air (TMA) terjadi pada aliran Sungai Bingai dan Sungai Mencirim. Kedua aliran sungai tersebut dilaporkan mencapai ketinggian muka air sekitar 310 sentimeter.

Di Kecamatan Binjai Selatan, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Rambung Timur dan Kelurahan Mencirim. Total warga terdampak di kecamatan tersebut mencapai 537 KK atau 1.906 jiwa.

Di Kelurahan Rambung Timur, banjir berdampak terhadap 78 KK atau 200 jiwa di Lingkungan I dan 95 KK atau 250 jiwa di Lingkungan IV.

Sementara itu, di Kelurahan Mencirim, banjir melanda sejumlah lingkungan, yakni Lingkungan I sebanyak 250 KK atau 1.000 jiwa, Lingkungan II sebanyak 75 KK atau 300 jiwa, Lingkungan IV sebanyak 14 KK atau 56 jiwa, Lingkungan VI sebanyak 20 KK atau 80 jiwa, serta Lingkungan VII sebanyak lima KK atau 20 jiwa.

Di Kecamatan Binjai Kota, banjir berdampak terhadap 685 KK atau 2.648 jiwa. Wilayah yang terdampak meliputi Kelurahan Setia, Kelurahan Tangsi, dan Kelurahan Berngam.

Kelurahan Setia menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup besar. Banjir melanda Lingkungan I sebanyak sembilan KK atau 36 jiwa, Lingkungan II delapan KK atau 32 jiwa, Lingkungan III sebanyak 110 KK atau 440 jiwa, Lingkungan IV sebanyak 130 KK atau 520 jiwa, Lingkungan V sebanyak 250 KK atau 1.000 jiwa, serta Lingkungan VI sebanyak 98 KK atau 392 jiwa.

Di Kelurahan Tangsi, sebanyak 20 KK atau 57 jiwa di Lingkungan IV turut terdampak.

Adapun di Kelurahan Berngam, banjir berdampak terhadap warga di Lingkungan VII sebanyak 18 KK atau 59 jiwa, Lingkungan VIII tujuh KK atau 15 jiwa, Lingkungan XI satu KK atau tiga jiwa, Lingkungan XII sebanyak 24 KK atau 69 jiwa, dan Lingkungan XIII sebanyak 10 KK atau 25 jiwa.

Secara keseluruhan, laporan BPBD mencatat banjir di Kota Binjai berdampak terhadap 1.222 KK atau 4.554 jiwa. Meski demikian, hingga laporan sementara disusun, tidak terdapat laporan korban meninggal dunia, luka-luka, maupun pengungsi di wilayah tersebut.

BPBD Imbau Warga Tetap Waspada

Tuahta mengatakan, penanganan banjir di ketiga daerah tersebut masih berlangsung dan data dampak bencana dapat berubah mengikuti perkembangan situasi di lapangan.

Ia meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai dan daerah rawan banjir, untuk meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras kembali terjadi.

Masyarakat juga diminta tidak memaksakan diri menyeberangi sungai apabila debit air meningkat atau arus terlihat deras. Kondisi tersebut sangat berbahaya, terutama ketika hujan masih berlangsung dan permukaan air terus mengalami kenaikan.

“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Kami mengimbau warga untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan segera melakukan evakuasi apabila kondisi di lingkungan tempat tinggal semakin membahayakan,” katanya.

Hingga Selasa (13/10/2026), kondisi banjir di Asahan, Langkat, dan Binjai masih dalam pemantauan. Pemerintah daerah terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak, kebutuhan pengungsi, kondisi infrastruktur, serta perkembangan pencarian warga yang dilaporkan hanyut di Kabupaten Langkat. (san/ram)

Editor : Juli Rambe
banjir di binjai bpbd sumut banjir di sumut Banjir di Langkat