Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dugaan Malapraktik RSUD Djoelham, Inspektorat Binjai Tolak Permintaan Duplikat Rekaman CCTV

Johan Panjaitan • Minggu, 16 Maret 2025 | 20:00 WIB
DUPLIKAT: Anak korban dugaan malapraktik, Tiopan Tarigan (tengah) saat menyoal penolakan duplikat rekaman CCTV pada RSUD Djoelham kepada Kepala Inspektorat Binjai, Eka Edi Saputra di balai kota. FOTO:
DUPLIKAT: Anak korban dugaan malapraktik, Tiopan Tarigan (tengah) saat menyoal penolakan duplikat rekaman CCTV pada RSUD Djoelham kepada Kepala Inspektorat Binjai, Eka Edi Saputra di balai kota. FOTO:

BINJAI, SUMUTPOS.CO- Anak korban dugaan malapraktik, Tiopan Tarigan terus bergerak mencari keadilan atas kematian ibunya, R br Ketaren saat menjalani cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham. Bahkan, pria yang berprofesi sebagai advokat itu juga meminta agar pemerintah kota atau inspektorat di Binjai menduplikatkan rekaman CCTV yang ada di RSUD Djoelham.

Akhir pekan kemarin, Tiopan datang ke Balai Kota Binjai untuk meminta penyitaan dan Duplikat rekaman CCTV di beberapa titik pada rumah sakit milik pemerintah kota tersebut. Di balai kota, Tiopan berhadapan dengan Kepala Inspektorat Binjai, Eka Edi Saputra.

Antara Tiopan dengan pejabat eselon II berkacamata itu sempat terjadi perdebatan. "Kedatangan saya untuk meminta duplikat rekaman CCTV yang ada di parkiran, tempat menuju ruangan dan di dalam ruangan Hemodialisa. Ini masalah nyawa orang, dan saya berharap kepada bapak selaku Kepala Inspektorat, dapat memberikan duplikatnya," ujar Tiopan, Minggu (16/3/2025).

Alasannya untuk menduplikat karena tiopan khawatir jika rekaman CCTV itu dapat saja dihapus oleh sistem maupun oknum yang tidak bertanggung jawab. Terlebih kemarin Sabtu (15/3/2025), tepat 1 bulan kematian ibunya di RSUD Djoelham yang banyak disoal buruknya pelayanan dan fasilitas di sana.

Saya khawatir rekaman itu terhapus oleh sistem atau dihapus oleh oknum," ujar Tiopan.

Permintaan Tiopan secara tertulis kepada Inspektorat Binjai untuk menduplikat rekaman CCTV itu mendapat penolakan. Alasan Inspektorat, bukan kewenangan mereka.

Karenanya, Tiopan memilih ambil jalur untuk berkomunikasi dengan Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi yang juga sudah turun gunung melakukan inspeksi mendadak tanpa didampingi kepala dinas kesehatan.

Selain itu, Tiopan juga kembali mendatangi RSUD Djoelham untuk menemui pucuk pimpinan di rumah sakit itu.

Hasilnya, sama saja. Perdebatan kecil yang tidak menemukan titik terang.
"Saya juga jumpai beliau (Plt. Direktur RSUD DR. Djoelham Binjai). Namun saya menilai beliau tidak kooperatif saat saya berkunjung. Sebab tanpa alasan yang jelas, tiba tiba beliau langsung keluar dari ruangannya," kata Tiopan.

RSUD Djoelham disebut-sebut memiliki segudang masalah. Namun yang baru mencuat ke permukaan hanya segelintir kecil saja.

Ya, persoalan buruknya pelayanan dan fasilitas RSUD Djoelham juga menyita perhatian Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi. Wawako Binjai yang akrab disapa Jiji itu kemudian melakukan inspeksi mendadak usai persoalan RSUD Djoelham menjadi perbincangan hangat masyarakat.

Belakangan ini persoalan di sana yang mencuat diduga akibat buruknya pelayanan adalah meninggalnya seorang pasien atas nama R br Ketaren (75) saat sedang melakukan cuci darah kedua di RSUD Djoelham. Anak korban merasa tak puas dan ganjal atas kematian ibunya.

Sebab sebelum ibunya wafat, alarm mesin cuci darah berbunyi dan muncul tulisan no water. Bahkan anak korban menyurati DPRD dan Inspektorat Binjai untuk menindaklanjuti yang dialami ibunya sebelum meninggal dunia.

Selain pasien cuci darah, pelayanan RSUD Djoelham juga disoroti keluarga Agung Pramana. Anak Agung yang belum genap 1 tahun berinisial MAP harus meninggal dunia karena kelamaan menunggu dokter spesialis anak dan bahkan hingga bermalam.

Alhasil, bayi 11 bulan itu meninggal dunia di RSUD Djoelham pada siang harinya. (ted/han)

 

Editor : Johan Panjaitan
#Inpektorat #RSUD Djoelham Binjai #pemko binjai