Harga Buku, Pajak, dan Tantangan Membangun Budaya Literasi di Indonesia

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 21:30 WIB
Ilustrasi. Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen yang dinilai publik dapat berdampak terhadap harga berbagai barang dan jasa, termasuk buku yang beredar di pasaran.(Instagram @viralsosmed_)
Ilustrasi. Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen yang dinilai publik dapat berdampak terhadap harga berbagai barang dan jasa, termasuk buku yang beredar di pasaran.(Instagram @viralsosmed_)

 

sumutpos.jawapos.com  - Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Di tengah berbagai upaya mendorong budaya literasi, muncul perdebatan mengenai pentingnya akses masyarakat terhadap buku yang mudah diperoleh dan memiliki harga terjangkau.

Melansir Instagram @viralsosmed_, (20/7/2026), banyak pihak menilai peningkatan literasi tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye membaca. Ajakan untuk gemar membaca perlu diiringi dengan kebijakan yang mendukung, salah satunya memastikan buku dapat dijangkau oleh berbagai kalangan.

Perdebatan mengenai akses buku kembali mencuat seiring pembahasan kebijakan pajak, termasuk penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen yang dinilai publik dapat berdampak terhadap harga berbagai barang dan jasa, termasuk buku yang beredar di pasaran.

Baca Juga: Usai Ledakan, Kompleks Grand Polonia Dijaga TNI

Sejumlah negara seperti Malaysia, Inggris, dan India diketahui memberikan perlakuan khusus terhadap buku dengan tidak mengenakan pajak. Kebijakan tersebut dianggap sebagai langkah untuk memperluas akses pendidikan dan mendorong masyarakat agar lebih dekat dengan bahan bacaan.

Di Indonesia, isu tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi literasi yang masih menghadapi berbagai tantangan. Sebagian masyarakat menilai rendahnya minat baca tidak bisa hanya dilihat dari kebiasaan individu, tetapi juga berkaitan dengan faktor pendukung seperti harga buku, keberadaan perpustakaan, hingga kemudahan mendapatkan bacaan berkualitas.

Ketika harga buku semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat, upaya membangun budaya membaca dinilai akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Terutama bagi pelajar, mahasiswa, dan keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang harus mempertimbangkan banyak kebutuhan lain.

Baca Juga: BCA Syariah Mulai Bangun Masjid Ar-Rahman di Aceh Tamiang, Jadi Proyek Perdana Program 99 Masjid Asmaul Husna

Perdebatan ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah netizen menilai akses terhadap buku seharusnya menjadi perhatian karena literasi berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan masyarakat.

“Kalau mau masyarakat rajin membaca, buku harus dibuat mudah didapat. Jangan hanya menyuruh baca, tapi aksesnya masih mahal,” tulis seorang netizen.

Netizen lain menilai buku seharusnya dipandang sebagai kebutuhan pendidikan, bukan sekadar barang konsumsi.

“Buku itu investasi ilmu. Kalau harga buku semakin tinggi, yang paling terdampak justru anak-anak dan pelajar yang ingin belajar,” komentar pengguna lainnya.

Baca Juga: Perlukah Lakukan Perawatan Rambut sebelum Keramas? Ini penjelasannya

Namun, sebagian masyarakat juga mengingatkan bahwa peningkatan literasi tidak hanya bergantung pada harga buku. Menurut mereka, budaya membaca juga perlu dibangun melalui kebiasaan sejak kecil, peran keluarga, sekolah, serta lingkungan yang mendukung.

“Buku murah penting, tapi minat membaca juga harus dibentuk. Keduanya harus berjalan bersama,” ujar salah satu komentar.

Di tengah perkembangan teknologi digital, tantangan literasi semakin kompleks. Masyarakat kini memiliki akses informasi yang luas melalui internet, tetapi kemampuan membaca kritis dan memahami informasi tetap menjadi kebutuhan penting.

Karena itu, upaya meningkatkan literasi membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Tidak hanya melalui gerakan membaca, tetapi juga kebijakan yang memastikan buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Sekda Binjai Dorong RSUD Djoelham Tingkatkan Mutu Layanan, Siap Hadapi Akreditasi

Bagi banyak pihak, membangun budaya membaca bukan hanya soal menghadirkan lebih banyak buku, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.(lin)

Editor : Redaksi
Literasi Indonesia Minat Baca Budaya Membaca Harga Buku Akses Buku