sumutpos.jawapos.com - Kunang-kunang yang dahulu mudah ditemukan di persawahan, kebun, tepian sungai, hingga halaman rumah, kini semakin jarang terlihat. Cahaya kecil yang muncul di tengah gelap malam itu perlahan menjadi pemandangan yang tidak lagi mudah dijumpai.
Fenomena tersebut bukan sekadar soal hilangnya pemandangan yang lekat dengan masa kecil. Melansir Instagram @cretivox, Sabtu (3/10/2026), pakar dari IPB University menyebut kelangkaan kunang-kunang dapat menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.
Prof drh Upik Kesumawati Hadi, dosen dan peneliti entomologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, menjelaskan kunang-kunang merupakan bioindikator. Keberadaan atau hilangnya serangga tersebut dapat mencerminkan kondisi sebuah ekosistem. Ketika lingkungan mengalami penurunan kualitas, populasi kunang-kunang dapat ikut menyusut.
Baca Juga: Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Netizen Terbelah: Ada yang Dukung, Ada yang Sindir
Kunang-kunang membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Sejumlah spesies bergantung pada habitat lembap seperti lahan basah, rawa, persawahan, tepian sungai, mangrove, dan kawasan berhutan.
Karena itu, ketika habitat tersebut berubah menjadi permukiman, kawasan industri, jalan, atau lahan yang kehilangan vegetasi alaminya, ruang hidup kunang-kunang ikut berkurang.
Ancaman terhadap kunang-kunang ternyata juga terjadi dalam skala global. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BioScience mengidentifikasi kehilangan habitat, polusi cahaya, dan penggunaan pestisida sebagai tiga ancaman utama terhadap keberlangsungan populasi kunang-kunang di berbagai wilayah dunia.
Ironisnya, salah satu ancaman bagi serangga yang menghasilkan cahaya justru datang dari cahaya buatan manusia.
Baca Juga: Sabam Sibarani Mendaftar Calon Ketua DPD II Partai Golkar Dairi
Lampu jalan, lampu rumah, papan reklame, kendaraan, hingga cahaya dari kawasan perkotaan dapat mengganggu komunikasi kunang-kunang. Banyak spesies menggunakan cahaya sebagai bagian dari proses mencari pasangan. Cahaya buatan dapat membuat sinyal bioluminesensi mereka sulit dikenali.
Dengan semakin terangnya langit malam di kawasan yang mengalami urbanisasi, ruang gelap yang dibutuhkan kunang-kunang pun semakin menyempit.
Lantas, apakah benar generasi sekarang akan menjadi generasi terakhir yang bisa melihat kunang-kunang?
Pertanyaan tersebut belum dapat dijawab sebagai sebuah kepastian ilmiah. Data mengenai tren populasi kunang-kunang juga belum merata untuk seluruh spesies dan seluruh wilayah dunia. Namun, kekhawatiran tersebut memiliki dasar: semakin banyak habitat yang hilang dan semakin besar tekanan lingkungan, semakin sedikit pula tempat yang memungkinkan kunang-kunang bertahan.
Baca Juga: Dosen Polmed Hibahkan Sistem Informasi Web dan Perangkat IT di TK IT Atifah Sunggal
Dengan kata lain, hilangnya kunang-kunang bukan semata-mata berarti kehilangan serangga bercahaya. Fenomena tersebut dapat menjadi pengingat bahwa ekosistem yang sehat membutuhkan air, tanah, vegetasi, kegelapan malam, serta keseimbangan organisme yang saling bergantung.
Jika cahaya kecil kunang-kunang masih ingin dilihat anak-anak di masa depan, pekerjaan untuk menjaganya harus dimulai dari sekarang. Bukan karena kita sudah pasti menjadi generasi terakhir yang melihatnya, tetapi karena keberadaannya menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi alam untuk hidup di tengah perkembangan manusia.(lin)
Editor : Redaksi