Ketika Hati Patah Terasa Sakit, Ternyata Otak Memprosesnya Mirip Nyeri Fisik

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 23:03 WIB
Ilustrasi. Rasa patah hati ternyata berkaitan dengan area otak yang memproses nyeri.(Instagram @lambegosiip)
Ilustrasi. Rasa patah hati ternyata berkaitan dengan area otak yang memproses nyeri.(Instagram @lambegosiip)

 

sumutpos.jawapos.com - Pernah merasa dada sesak setelah putus cinta, dikucilkan teman, atau mendapat kritik tajam dari orang lain? Perasaan tersebut ternyata bukan sekadar ungkapan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit akibat penolakan sosial memiliki keterkaitan dengan mekanisme otak yang juga terlibat dalam rasa sakit fisik.

Melansir Instagram @lambegosiip, Selasa (6/10/2026), penelitian yang melibatkan tim dari University of California, Los Angeles (UCLA), menunjukkan bahwa pengalaman social pain atau luka emosional, seperti penolakan dan dikucilkan, berkaitan dengan aktivitas pada bagian otak yang juga berhubungan dengan komponen emosional dari rasa sakit fisik, termasuk dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan anterior insula. 

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa benar-benar merasa “sakit” ketika mengalami patah hati, kehilangan hubungan, atau penolakan sosial. Penelitian lain juga menemukan adanya tumpang tindih aktivitas otak ketika seseorang mengalami penolakan sosial dan rasa sakit fisik. 

Baca Juga: Siswa SMPN 1 Yogyakarta Kenakan Busana Jawa Setiap Kamis Pon

Menariknya, penelitian tersebut juga menguji efek parasetamol terhadap social pain. Dalam eksperimen itu, peserta yang mengonsumsi parasetamol selama tiga minggu melaporkan tingkat rasa sakit sosial yang lebih rendah dibandingkan kelompok plasebo. Pemeriksaan menggunakan fMRI juga menunjukkan respons yang lebih rendah pada area otak tertentu ketika peserta mengalami penolakan sosial. 

Namun, bukan berarti parasetamol dapat dianggap sebagai “obat patah hati”.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya pengaruh terhadap respons rasa sakit sosial dalam kondisi eksperimen, bukan berarti parasetamol merupakan obat untuk mengatasi kesedihan, patah hati, stres, atau masalah emosional.

Bahkan, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa gambaran hubungan antara rasa sakit fisik dan penolakan sosial ternyata lebih kompleks. Ada penelitian yang menemukan bahwa keduanya memiliki pola aktivitas yang berbeda meski terdapat aktivitas yang tumpang tindih pada tingkat area otak tertentu. 

Baca Juga: Trio Pencuri Alat Musik Gereja Diringkus Polisi Saat Hendak Jual Hasil Curian

Karena itu, parasetamol sebaiknya tetap digunakan sesuai peruntukannya, yakni untuk meredakan nyeri atau demam, dengan memperhatikan dosis dan aturan penggunaan. Jangan menjadikan obat pereda nyeri sebagai cara untuk “mematikan” rasa sedih atau menghadapi masalah emosional.

Kalau hati sedang sakit, tubuh memang bisa ikut merasakan dampaknya. Tetapi mengatasi luka emosional tetap membutuhkan waktu, dukungan sosial, istirahat, dan cara yang sehat untuk memproses perasaan.(lin)

Editor : Redaksi
kesehatan Patah Hati otak psikologi Kesehatan Mental