sumutpos.jawapis.com — Di tengah tantangan lingkungan dan sampah organik yang sering diabaikan, sekelompok siswa SMP Regina Pacis Jakarta menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari hal sederhana yang sering dianggap “tak berguna”. Mereka berhasil mengembangkan mie instan berbahan dasar kulit singkong dan daun kelor, sebuah terobosan pangan yang ramah lingkungan sekaligus bergizi tinggi.
Kulit singkong umumnya hanya dibuang setelah umbinya dipanen, padahal bagian ini mengandung serat dan nutrisi yang signifikan jika diolah dengan benar. Melansir Instagram @lambegosiip, Sabtu (28/2/2026), berangkat dari keprihatinan terhadap jumlah limbah yang terus bertambah, para siswa ini mulai melihat peluangnya: mengubah kulit singkong menjadi bahan baku makanan yang aman dikonsumsi.
Tidak hanya itu, mereka juga menambahkan daun kelor yang dikenal sebagai superfood karena kaya vitamin dan mineral ke dalam adonan mie untuk meningkatkan nilai gizinya. Hasilnya adalah produk mie sehat yang layak dikonsumsi dan lebih bernutrisi dibanding mie konvensional biasa.
Langkah awal pembuatan mie ini adalah pengolahan kulit singkong. Pertama, kulit singkong dibersihkan dan direndam untuk mengurangi identifikasi pahit atau zat berlebih, kemudian direbus, dikeringkan, dan digiling sampai halus. Bubuk singkong ini menjadi dasar adonan mie yang selanjutnya dicampur dengan bubuk daun kelor.
Yang menarik, para siswa juga merancang kemasan yang edible (dapat dimakan) dari bahan tepung jagung, sebuah solusi inovatif untuk mengurangi limbah plastik dari industri makanan instan. Dengan cara ini, hampir seluruh bagian produk dapat dikonsumsi atau terurai secara alami.
Kreativitas ini tidak hanya soal makanan, tapi juga memberikan pesan edukatif tentang pentingnya pengelolaan limbah pangan dan kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa mendapat respons positif dari guru, orang tua, hingga pegiat lingkungan, yang memuji upaya mereka dalam mengubah sampah organik menjadi sumber daya yang berguna.
Walau masih dalam tahap pengembangan dan uji coba lebih lanjut, inovasi ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam menciptakan solusi lokal atas masalah global termasuk sampah dan ketahanan pangan melalui kreativitas dan kolaborasi. (lin)
Editor : Redaksi