Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Friendster Bangkit Lagi: Jejaring Sosial yang Memaksa Pengguna Kembali ke Dunia Nyata, Netizen Terbelah

Redaksi • Minggu, 3 Mei 2026 | 20:56 WIB
Friendster, platform yang sempat berjaya di awal 2000-an kini muncul kembali dengan wajah yang nyaris bertolak belakang dari media sosial modern. (Instagram @pandemictalks)
Friendster, platform yang sempat berjaya di awal 2000-an kini muncul kembali dengan wajah yang nyaris bertolak belakang dari media sosial modern. (Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapoa.com - Gelombang nostalgia kembali menyapu jagat digital. Friendster, platform yang sempat berjaya di awal 2000-an kini muncul kembali dengan wajah yang nyaris bertolak belakang dari media sosial modern. Bukan sekadar membawa kenangan lama, kemunculannya justru menawarkan pendekatan baru: mengembalikan makna pertemanan ke dunia nyata.

Berbeda dengan era sebelumnya yang identik dengan profil penuh hiasan dan daftar teman panjang, Friendster versi terbaru hadir dengan konsep yang lebih sederhana, bahkan terkesan “membatasi”. Namun justru di situlah letak daya tariknya.

Melansir Instagram @pandemictalks, Minggu (3/5/2026), dalam versi terbarunya, Friendster mengusung mekanisme unik: pengguna tidak bisa menambah teman hanya dengan klik atau pencarian nama. Untuk terhubung, dua orang harus berada dalam jarak dekat dan melakukan interaksi langsung melalui perangkat mereka.

Baca Juga: Dua Terdakwa Dugaan Korupsi LNG Divonis Besok, Eks Dirut PT Pertamina Tak Pernah Dihadirkan di Persidangan

Konsep ini secara sadar menabrak kebiasaan media sosial saat ini yang serba instan dan virtual. Alih-alih memperluas jaringan tanpa batas, Friendster justru mempersempit lingkar pertemanan menjadi lebih personal dan nyata.

Lebih jauh lagi, hubungan yang sudah terjalin pun tidak bersifat permanen. Jika dua pengguna tidak lagi berinteraksi dalam jangka waktu tertentu, koneksi tersebut bisa melemah, sebuah pengingat bahwa relasi sosial membutuhkan kehadiran, bukan sekadar status pertemanan digital.

Friendster juga mengambil langkah berani dengan menghapus hampir seluruh elemen yang selama ini menjadi ciri khas media sosial modern. Tidak ada iklan, tidak ada algoritma yang mengatur linimasa, bahkan tidak ada angka pengikut.

Baca Juga: Penahbisan Juara LaLiga: Barcelona Tak Hanya Memburu Trofi, Tapi Juga 100 Poin

Artinya, pengguna hanya akan melihat unggahan dari orang-orang yang benar-benar mereka kenal. Tidak ada konten viral, tidak ada rekomendasi akun asing, dan tidak ada kompetisi popularitas.

Pendekatan ini menjadi semacam kritik terhadap ekosistem digital saat ini yang kerap didominasi algoritma dan perburuan angka.

Setelah lebih dari satu dekade mati suri, Friendster tidak kembali sebagai pesaing langsung platform besar seperti Instagram atau TikTok. Sebaliknya, ia memosisikan diri sebagai antitesis, sebuah ruang digital yang menolak hiruk-pikuk algoritma dan mendorong interaksi nyata.

Aplikasi ini hadir dengan tampilan minimalis dan ukuran ringan, serta untuk sementara hanya tersedia di perangkat iOS.

Baca Juga: Iran Beri Tenggat Sebulan ke AS, Desak Akhiri Blokade Selat Hormuz dan Hentikan Konflik

Kembalinya Friendster langsung memantik perbincangan di media sosial. Warganet terbelah antara yang menyambut hangat konsep “kembali ke nyata”, dan yang meragukan relevansinya di era serba digital.

Sejumlah netizen mengaku tertarik dengan pendekatan yang dianggap lebih sehat secara sosial.

“Ini baru namanya sosial media, bukan cuma scroll tanpa henti,” tulis seorang pengguna.
“Kangen zaman pertemanan itu benar-benar kenal, bukan sekadar follow,” timpal lainnya.

Ada pula yang melihat Friendster sebagai jawaban atas kejenuhan terhadap algoritma.

Baca Juga: Tim Cobra Back-up Polda Riau Tangkap Pelaku Pembunuhan di Binjai

“Capek disuguhi konten random terus. Kalau ini fokus ke teman dekat, malah lebih nyaman,” komentar netizen lain.

Namun tidak sedikit pula yang menyuarakan keraguan. Bagi sebagian orang, konsep ini justru dinilai terlalu merepotkan.

“Kalau harus ketemu dulu baru bisa add, ya susah juga. Dunia sekarang kan serba online,” tulis seorang pengguna.
“Ini cocok buat yang punya banyak waktu, bukan buat yang sibuk,” komentar lainnya.

Sebagian netizen bahkan melihatnya sebagai eksperimen yang menarik, tapi belum tentu bertahan lama.

Baca Juga: BKM Temui PKL yang Digusur, Tegaskan Masjid Agung Bukan Aset Pemko Binjai

“Ide bagus, tapi apakah orang mau balik ke cara lama? Itu tantangannya.”

Kembalinya Friendster tidak hanya soal menghidupkan nama lama, tetapi juga menjadi eksperimen sosial di tengah kejenuhan pengguna terhadap media sosial konvensional.

Di saat platform lain berlomba mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di layar, Friendster justru melakukan sebaliknya: mendorong orang untuk bertemu, berbicara, dan membangun relasi di luar dunia digital.

Apakah pendekatan ini akan menemukan tempat di tengah kebiasaan baru masyarakat yang sudah terlanjur nyaman dengan interaksi virtual? Atau justru menjadi awal dari tren baru media sosial yang lebih manusiawi?

Jawabannya kini ada di tangan pengguna sendiri.(lin)

Editor : Redaksi
#Friendster #Jejaring Sosial #media sosial #dunia digital #netizen