sumutpos.jawapos.com — Keterlibatan Chef Arnold Poernomo dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian publik setelah Badan Gizi Nasional (BGN) menggandengnya untuk memberikan masukan dalam penyusunan petunjuk teknis (juknis) program tersebut.
Melansir Instagram @cretivox, Senin (15/6/2026), melalui unggahan di Instagram Story, Chef Arnold meluruskan sejumlah persepsi yang berkembang terkait keterlibatannya. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama tim hanya diminta untuk meninjau dan memberikan masukan terhadap rancangan juknis MBG, bukan terlibat dalam pengambilan keputusan maupun pelaksanaan program secara langsung.
Menurut Arnold, Program MBG merupakan program berskala besar dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan penyusunan menu makanan, tetapi juga menyangkut distribusi, ketersediaan bahan pangan, hingga kesiapan sumber daya manusia di berbagai daerah.
Ia secara khusus menyoroti pelaksanaan program di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang memiliki tantangan tersendiri. Kondisi geografis, akses transportasi, dan rantai pasok bahan baku menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan agar program dapat berjalan optimal.
Arnold juga menyebut masih banyak pihak yang lebih memahami dan lebih memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi pada aspek-aspek strategis program. Karena itu, ia memandang perannya sebatas memberikan masukan sesuai bidang keahlian yang dimiliki.
Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari netizen. Sebagian menilai keterlibatan figur publik seperti Chef Arnold dapat memberikan perspektif praktis terkait penyusunan menu dan pengelolaan makanan dalam skala besar.
"Yang penting memang masukan dari orang yang paham soal makanan dan dapur besar. Tapi implementasinya tetap pekerjaan banyak pihak," tulis seorang pengguna media sosial.
Netizen lain menilai kejujuran Arnold dalam menjelaskan batas perannya patut diapresiasi.
"Bagus beliau menjelaskan secara terbuka. Jadi publik tidak salah paham seolah-olah semua kebijakan program berasal dari Chef Arnold," komentar warganet lainnya.
Namun ada pula yang menyoroti tantangan pelaksanaan MBG di lapangan. Menurut mereka, persoalan utama bukan hanya menu makanan, melainkan distribusi dan pengawasan program hingga ke daerah-daerah terpencil.
"Masalah terbesar justru logistik dan pemerataan. Di kota mungkin mudah, tapi di daerah terpencil tantangannya berbeda," tulis seorang netizen.
Komentar lainnya menyebut pemerintah perlu melibatkan lebih banyak ahli gizi, pelaku UMKM pangan, serta masyarakat lokal agar program dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
"Indonesia luas. Kebutuhan dan bahan pangan setiap daerah berbeda. Pendekatannya jangan disamaratakan," tulis pengguna media sosial lainnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Dalam pelaksanaannya, pemerintah terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan tata kelola, termasuk melalui penyusunan petunjuk teknis yang lebih komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan di lapangan.(lin)
Editor : Redaksi