Pengeluaran Gen Z Jakarta Tembus Rp11,9 Juta per Bulan, Biaya Hunian Jadi Beban Terbesar

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30 WIB
Ilustrasi. Kehidupan mandiri di Jakarta membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama bagi generasi muda yang sudah bekerja, tinggal sendiri, atau harus menanggung kebutuhan tempat tinggal tanpa dukungan keluarga.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Kehidupan mandiri di Jakarta membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama bagi generasi muda yang sudah bekerja, tinggal sendiri, atau harus menanggung kebutuhan tempat tinggal tanpa dukungan keluarga.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Tingginya biaya hidup di ibu kota kembali menjadi sorotan setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata pengeluaran bulanan Generasi Z (Gen Z) di DKI Jakarta pada 2025 mencapai Rp11,9 juta.

Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (21/7/2026), angka tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan mandiri di Jakarta membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama bagi generasi muda yang sudah bekerja, tinggal sendiri, atau harus menanggung kebutuhan tempat tinggal tanpa dukungan keluarga.

Menariknya, pengeluaran terbesar Gen Z Jakarta bukan berasal dari kebutuhan hiburan, perjalanan wisata, maupun belanja gaya hidup seperti yang kerap diasosiasikan dengan generasi muda. Porsi terbesar justru dialokasikan untuk kebutuhan tempat tinggal dan fasilitas rumah tangga.

Baca Juga: Korban Tewas Terakhir Ledakan Grand Polonia Ditemukan

Biaya hunian seperti sewa tempat tinggal, listrik, air, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama yang mendorong tingginya pengeluaran. Setelah itu, pengeluaran terbesar berikutnya berasal dari konsumsi makanan dan minuman, transportasi, serta kebutuhan harian lainnya.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa mahalnya biaya hidup di Jakarta lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan dasar yang tidak dapat dihindari. Harga tempat tinggal yang tinggi, biaya mobilitas, serta kebutuhan pokok menjadi tantangan utama bagi Gen Z yang ingin membangun kehidupan mandiri di kota besar.

Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional, besaran pengeluaran Gen Z Jakarta terlihat sangat tinggi. BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia berada di kisaran Rp12,8 juta per tahun. Sementara itu, Gen Z di Jakarta menghabiskan hampir jumlah yang sama hanya dalam kurun waktu satu bulan.

Baca Juga: Spotify Hapus 75 Juta Lagu Spam, Perangi Gelombang “AI Slop” di Industri Musik Digital

Perbedaan yang cukup jauh tersebut menunjukkan adanya kesenjangan biaya hidup antara Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional dengan daerah lain di Indonesia. Sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki karakter ekonomi yang membuat kebutuhan dasar seperti hunian dan transportasi menjadi jauh lebih mahal.

Fenomena ini juga menjadi gambaran perubahan pola kehidupan generasi muda perkotaan. Bagi sebagian Gen Z, penghasilan yang terlihat besar belum tentu memberikan ruang finansial yang longgar karena sebagian besar pendapatan harus dialokasikan untuk kebutuhan primer.

Tingginya pengeluaran tersebut juga menepis anggapan bahwa generasi muda hanya menghabiskan uang untuk gaya hidup. Data menunjukkan bahwa kebutuhan bertahan hidup di kota besar menjadi faktor dominan dalam struktur pengeluaran mereka.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Petani Melon Chaidir Saleh, Mulai dari Gagal Panen, Bangkrut, Kena Stroke, dan Banjir Bandang, dan Kini Jadi Mentor

Di tengah kenaikan biaya hunian dan kebutuhan sehari-hari, tantangan terbesar bagi Gen Z Jakarta adalah bagaimana mengatur keuangan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan, seperti menabung, berinvestasi, atau memiliki aset.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa menjadi mandiri di Jakarta bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga kemampuan mengelola biaya hidup yang semakin kompleks di tengah tekanan ekonomi perkotaan.(lin)

Editor : Redaksi
Ekonomi Generasi Muda jakarta biaya hidup Gen Z bps