Euforia Piala Dunia 2026 Berubah Jadi Ketakutan, KDRT di Inggris Dilaporkan Meningkat Saat Timnas Bertanding

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 22:30 WIB
Ilustrasi. Riset dari Lancaster University mengungkap adanya peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Riset dari Lancaster University mengungkap adanya peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola.(Instagram @pandemictalks)

sumutpos.jawapos.com - Di tengah gemerlap Piala Dunia 2026 yang menghadirkan kebanggaan, dukungan, dan perayaan bagi para penggemar sepak bola, sebagian perempuan dan anak perempuan di Inggris justru menghadapi momen penuh kecemasan setiap kali Timnas Inggris bertanding.

Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (22/7/2026), sebuah riset dari Lancaster University mengungkap adanya peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola. Angka kekerasan dilaporkan meningkat hingga 26 persen ketika laga berlangsung, dan melonjak menjadi 38 persen ketika Inggris mengalami kekalahan.

Situasi tersebut kembali menjadi sorotan setelah kekalahan Inggris dari Argentina pada babak semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Rabu lalu. Bagi sebagian korban KDRT, hasil pertandingan bukan sekadar persoalan olahraga, melainkan dapat menjadi pemicu meningkatnya ancaman di dalam rumah.

Baca Juga: Kesal Jalan Rusak 25 Tahun Tak Diperbaiki, Warga Pati Ubah Lubang Jalan Jadi Kolam Lele

Rebecca Goshawk dari lembaga amal Solace Women's Aid yang mendampingi korban kekerasan mengungkapkan bahwa banyak penyintas mengalami ketakutan menjelang pasangan mereka kembali ke rumah setelah menyaksikan pertandingan.

“Banyak perempuan merasa cemas menunggu pasangan mereka pulang karena mereka tidak tahu seperti apa suasana hati yang akan mereka hadapi,” menjadi gambaran kondisi yang dialami sejumlah korban.

Menurut Goshawk, kekerasan yang dialami perempuan tidak selalu berupa tindakan fisik. Kekerasan verbal seperti bentakan, penghinaan, ancaman, hingga perkataan yang merendahkan juga menjadi bentuk kekerasan yang meninggalkan dampak mendalam.

Baca Juga: Dipimpin Putra Daerah, RSUD Djoelham Siap Buka Layanan Pasang Ring Jantung

Bagi banyak penyintas, perilaku tersebut bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola berulang dalam hubungan yang penuh tekanan dan ketakutan.

Fenomena meningkatnya KDRT saat turnamen sepak bola berlangsung bukan kali pertama terjadi. Data dari National Police Chiefs' Council mencatat lebih dari 300 laporan kasus KDRT diterima kepolisian selama Euro 2024.

Sejumlah korban menyebut perubahan perilaku pelaku berkaitan dengan hasil pertandingan, terutama ketika tim yang didukung mengalami kekalahan.

Sementara itu, Crown Prosecution Service menegaskan bahwa korban KDRT harus berani mencari bantuan dan melaporkan kekerasan yang mereka alami. Lembaga tersebut memastikan setiap laporan akan ditangani secara serius.

Baca Juga: Pegadaian Jalin Kesepakatan dengan Kejari Medan

Piala Dunia seharusnya menjadi ajang yang menghadirkan kebersamaan dan kegembiraan bagi masyarakat. Namun, bagi sebagian perempuan, turnamen sepak bola justru menjadi pengingat bahwa ancaman bisa muncul di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, yakni rumah sendiri.

Kasus ini kembali membuka perbincangan tentang pentingnya pengendalian emosi, kesadaran terhadap perilaku kekerasan, serta dukungan terhadap korban agar tidak menghadapi ketakutan sendirian.(lin)

Editor : Redaksi
Piala Dunia2026 Stop Kekerasan kdrt perempuan sepak bola