sumutpos.jawapos.com - Pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait imigran dan kelompok minoritas kembali menjadi sorotan publik. Sikap politik Trump yang keras terhadap isu imigrasi dinilai memiliki pola yang sama sejak masa jabatan pertamanya, yakni menempatkan persoalan identitas, loyalitas, dan kewarganegaraan sebagai bagian dari perdebatan politik.
Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (28/7/2026), pada 2019, Trump menuai kecaman setelah melontarkan pernyataan yang dianggap menyerang kelompok oposisi, khususnya empat anggota Kongres perempuan kulit berwarna dari Partai Demokrat yang saat itu vokal mengkritik kebijakannya.
Dalam sebuah pernyataan, Trump meminta siapa pun yang tidak puas dengan kondisi Amerika Serikat untuk meninggalkan negara tersebut.
“Kalau kalian tidak senang di AS, kalau kalian terus mengeluh, sangat sederhana, kalian bisa pergi, kalian bisa pergi sekarang juga,” ujar Trump kala itu.
Trump juga menuding para anggota Kongres tersebut membenci Amerika Serikat, sebuah tudingan yang kemudian memicu kritik luas dari berbagai pihak. Sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut memperkuat narasi politik yang mengaitkan kritik terhadap pemerintah dengan sikap tidak patriotik.
Bertahun-tahun kemudian, retorika serupa kembali muncul dalam isu imigrasi yang menjadi salah satu agenda utama politik Trump.
Pada awal Juli 2026, Trump kembali menuai kritik setelah menyatakan dirinya dapat mengenali imigran yang berpotensi menimbulkan “masalah” hanya berdasarkan penampilan fisik mereka. Pernyataan itu disampaikan ketika Trump mengkritik pemerintahan sebelumnya yang dianggapnya gagal mengendalikan arus imigran ilegal di perbatasan Amerika Serikat.
Baca Juga: Sule Angkat Bicara soal Putusan PTA Bandung, Tegaskan Tak Lagi Punya Hak atas Warisan Lina Jubaedah
Menurut Trump, kebijakan sebelumnya telah memungkinkan masuknya imigran secara tidak terkendali. Ia kembali menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap kelompok pendatang yang dianggap berisiko.
Namun, pernyataan mengenai kemampuan mengenali seseorang berdasarkan tampilan fisik memicu perdebatan karena dinilai berpotensi memperkuat stereotip terhadap kelompok tertentu. Kritikus menyebut pendekatan semacam itu dapat mengarah pada prasangka dan generalisasi terhadap komunitas imigran.
Isu imigrasi memang menjadi salah satu tema utama dalam perjalanan politik Trump. Sejak kampanye presiden pertamanya pada 2016, Trump dikenal dengan kebijakan dan pernyataan keras mengenai perbatasan, deportasi, serta pengetatan aturan masuk ke Amerika Serikat.
Baca Juga: Polres Batu Bara Bongkar Dugaan Peredaran Sabu, MZ Diamankan dengan Barang Bukti 3,67 Gram
Bagi para pendukungnya, sikap tersebut dianggap sebagai bentuk ketegasan dalam menjaga keamanan nasional dan melindungi kepentingan warga Amerika. Namun bagi kelompok penentang, pendekatan tersebut dinilai memperdalam polarisasi sosial dan memperburuk citra kelompok minoritas maupun imigran.
Pernyataan Trump pada 2019 dan sikapnya terhadap isu imigrasi pada 2026 menunjukkan pola komunikasi politik yang tetap mengandalkan pesan tegas, konfrontatif, serta membedakan antara kelompok yang dianggap mendukung nilai-nilai Amerika dan kelompok yang dinilai bertentangan.
Di tengah perdebatan mengenai keamanan perbatasan dan kebijakan migrasi, gaya retorika Trump terus menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam politik Amerika Serikat. Bagi pendukungnya, itu merupakan bentuk keberanian politik, sementara bagi para pengkritiknya, pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang berisiko memperkuat perpecahan sosial.(lin)
Editor : Redaksi