Empati Tenaga Kesehatan Jadi Sorotan

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan.(pixabay)
Ilustrasi tenaga kesehatan.(pixabay)

 

sumutpos.jawapos.com — Dugaan komentar tidak berempati yang dilontarkan sejumlah tenaga kesehatan terhadap seorang pasien yang kemudian meninggal dunia menuai perhatian publik. Peristiwa tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai pentingnya etika, profesionalisme, dan empati dalam pelayanan kesehatan.

Melnasir Instagram @pandemictalks, Kamis (6/8/2026), Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta organisasi profesi maupun institusi tempat tenaga kesehatan tersebut bekerja melakukan pemeriksaan secara objektif. Jika nantinya ditemukan pelanggaran kode etik, ia mendorong adanya tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku.

Menurut Charles, tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab besar karena berhadapan langsung dengan masyarakat yang berada dalam kondisi rentan. Sikap profesional tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan medis, tetapi juga melalui cara berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Baca Juga: Terungkap! Ini 12 Zodiak Paling Cerdas, Nomor 1 Bikin Banyak Orang Terkejut

“Tenaga kesehatan harus tetap menjunjung tinggi profesionalisme dan empati dalam menjalankan tugasnya. Termasuk ketika menyampaikan pendapat di ruang digital,” ujarnya.

Guru Besar Kedokteran sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai kemampuan seorang dokter tidak hanya diukur dari keberhasilan memberikan terapi, tetapi juga dari kemampuannya memahami kondisi psikologis dan beban yang dirasakan pasien.

Menurutnya, empati merupakan bagian penting dalam praktik kedokteran karena hubungan antara dokter dan pasien bukan sekadar proses diagnosis dan pengobatan, melainkan juga membangun kepercayaan.

Baca Juga: Investasi Tekstil Menggeliat, Hampir 10 Ribu Lapangan Kerja Baru Tercipta

“Dokter bukan hanya mengobati penyakit, tetapi juga memahami manusia yang sedang menghadapi masalah kesehatan,” kata Prof. Tjandra.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan membutuhkan keseimbangan antara kompetensi teknis dan nilai kemanusiaan. Pasien yang datang ke fasilitas kesehatan umumnya berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan, sehingga sikap komunikasi yang baik menjadi bagian dari kualitas pelayanan.

Selain persoalan etika tenaga kesehatan, Charles Honoris juga menyoroti perlunya pembenahan sistem kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, pemerintah perlu terus memperkuat kapasitas layanan, mulai dari ketersediaan tempat tidur rumah sakit, jumlah tenaga kesehatan, hingga sistem rujukan.

Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Sumut Ajak Masyarakat Mulai Kibarkan Bendera Merah Putih

Perbaikan sistem tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak hanya mendapatkan akses pelayanan kesehatan, tetapi juga memperoleh pelayanan yang cepat, layak, dan manusiawi.

Peristiwa ini menjadi refleksi bagi seluruh pihak bahwa kemajuan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas, tetapi juga pada nilai dasar dalam profesi kesehatan, yakni kepedulian terhadap sesama. Empati tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap dunia medis.(lin)

Editor : Redaksi
Etika Medis Empati Dokter Kode Etik Kedokteran pelayanan kesehatan tenaga kesehatan