KKMP Banjarsari Solo Raup Omzet Rp300 Juta, Berawal dari Garasi Hingga Go Digital

Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Solo.(Instagram @pandemictalks)
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Solo.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Solo, membuktikan bahwa koperasi berbasis masyarakat dapat berkembang meski dimulai dengan keterbatasan modal dan fasilitas. Dalam kurun Januari hingga Juni 2026, koperasi tersebut berhasil mencatatkan omzet sekitar Rp300 juta.

Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (14/8/2026), capaian itu menjadi menarik karena aktivitas perdagangan KKMP Banjarsari pada awalnya belum berjalan sepanjang hari. Gerai koperasi hanya beroperasi selama dua jam setiap hari, yakni mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Dengan waktu layanan yang terbatas, koperasi tetap mampu membangun kepercayaan masyarakat dan meningkatkan transaksi.

Perjalanan KKMP Banjarsari dimulai dari langkah sederhana. Koperasi ini tidak langsung memiliki tempat usaha khusus, melainkan mengawali kegiatan dari garasi rumah milik ketua koperasi. Dengan modal awal yang terbatas, yakni berasal dari simpanan pokok 32 anggota perdana sebesar Rp100 ribu per orang, koperasi perlahan membangun fondasi usaha.

Baca Juga: Jangan Jadi Orang Tidak Tahu Diri, Ini Ciri-cirinya

Seiring berkembangnya aktivitas koperasi, lokasi usaha kemudian berpindah ke rumah dinas kelurahan yang tidak digunakan. Tempat tersebut dimanfaatkan sebagai gerai untuk melayani kebutuhan warga sekaligus menjadi pusat aktivitas koperasi.

Kini, perkembangan KKMP Banjarsari menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah anggota yang semula hanya 32 orang telah bertambah menjadi sekitar 130 orang. Pertumbuhan anggota tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan koperasi sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Salah satu faktor yang membuat KKMP Banjarsari berkembang adalah strategi penetapan harga yang berbeda sesuai segmen pelanggan. Koperasi menerapkan tiga tingkatan harga, yakni harga untuk masyarakat umum, harga khusus anggota, serta harga bagi warung kelontong yang membeli barang untuk dijual kembali.

Baca Juga: Empat Wartawan Sabet Juara Catur Gembira Piala Bupati Labusel

Strategi tersebut membuat koperasi tidak dipandang sebagai pesaing bagi pedagang kecil di lingkungan sekitar. Sebaliknya, KKMP Banjarsari berupaya menjadikan warung kelontong sebagai mitra usaha melalui skema kulakan.

Dengan konsep tersebut, koperasi tidak hanya melayani kebutuhan rumah tangga, tetapi juga ikut mendukung keberlangsungan usaha mikro di lingkungan kelurahan. Warung-warung kecil dapat memperoleh barang dengan harga lebih kompetitif sehingga tetap mampu bersaing di tengah perubahan pola belanja masyarakat.

Dari sisi harga, KKMP Banjarsari juga berupaya menghadirkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Beberapa komoditas yang tersedia antara lain LPG 3 kilogram dengan harga Rp18 ribu serta minyak goreng yang dipasarkan sekitar Rp15.700.

Baca Juga: Sarapan Telur Rebus Tiap Hari, Ini Manfaatnya

Pengelolaan koperasi yang mengedepankan keterjangkauan harga menjadi salah satu daya tarik bagi warga. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi wadah ekonomi bersama yang memberikan manfaat langsung kepada anggota dan masyarakat sekitar.

Memasuki Agustus 2026, KKMP Banjarsari mulai memperluas pelayanan dengan menambah jam operasional menjadi dua sesi. Langkah tersebut dilakukan agar warga yang bekerja tetap memiliki kesempatan untuk berbelanja di koperasi.

Penambahan waktu layanan juga menjadi bagian dari upaya koperasi menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Dengan jam buka yang lebih fleksibel, koperasi berharap dapat meningkatkan jumlah transaksi sekaligus memperluas jangkauan pelayanan.

Baca Juga: 35 Putra-Putri Terbaik Labura Dikukuhkan sebagai Anggota Paskibra 2026

Selain mengembangkan gerai fisik, KKMP Banjarsari juga mulai memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi MyKopkel. Aplikasi tersebut digunakan untuk mendukung pengelolaan administrasi, pencatatan transaksi, hingga layanan belanja bagi anggota.

Digitalisasi ini menjadi langkah penting agar pengelolaan koperasi berjalan lebih efektif dan transparan. Melalui sistem digital, anggota dapat memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan koperasi tanpa harus selalu datang langsung ke gerai.

Kisah KKMP Banjarsari menunjukkan bahwa keberhasilan koperasi tidak selalu bergantung pada modal besar. Dengan pengelolaan yang tepat, strategi usaha yang melibatkan masyarakat, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi, koperasi yang bermula dari garasi sederhana mampu berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal.

Baca Juga: H. Zulkarnaen S.K.M: Adminduk Dasar Semua Pendataan Masyarakat

Ke depan, keberadaan koperasi seperti KKMP Banjarsari dapat menjadi contoh bagaimana ekonomi berbasis komunitas mampu tumbuh dari tingkat kelurahan. Koperasi bukan hanya tempat membeli kebutuhan pokok, tetapi juga ruang kolaborasi yang memperkuat kemandirian ekonomi warga.(lin)

Editor : Redaksi
Koperasi Indonesia KKMP Banjarsari umkm indonesia ekonomi kerakyatan Koperasi Merah Putih