Kabut Asap Karhutla Selimuti Kalimantan, Kualitas Udara Banjarbaru Tembus Level Berbahaya

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:33 WIB
Sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan kualitas udara.(Instagram @infipop.id)
Sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan kualitas udara.(Instagram @infipop.id)

sumutpos.jawapos.com - Kalimantan kembali diselimuti kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di tengah musim kemarau. Sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan kualitas udara, bahkan membuat jarak pandang warga terganggu. 

Melansir Instagram @infipop.id, Kamis (20/8/2026), data BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada Rabu (19/8/2026) pukul 07.00 WITA. Angka tersebut masuk kategori Berbahaya karena berada jauh di atas ambang batas kategori tersebut. 

Kondisi serupa terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tercatat mencapai angka 154 yang masuk kategori Tidak Sehat. Asap karhutla membuat sejumlah kawasan terlihat berkabut pekat dan mengganggu aktivitas masyarakat. 

Baca Juga: Ketua PDIP Dairi Apresiasi Polisi dan Warga Ungkap Dugaan Kekerasan terhadap Anak di Sidikalang

Dalam sejumlah unggahan warga di media sosial, kawasan Sungai Tabuk, Banjarmasin, Banjarbaru, hingga Palangka Raya tampak tertutup kabut asap. Jarak pandang di beberapa lokasi bahkan dilaporkan hanya beberapa meter sehingga pengguna jalan harus meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas.

Fenomena ini terjadi saat Kalimantan menghadapi periode kemarau dengan kondisi atmosfer yang kering. BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa kondisi cuaca kering dapat meningkatkan potensi karhutla dan memperburuk penyebaran partikulat asap di udara. 

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga mulai mengganggu kesehatan masyarakat. Paparan partikel PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara. 

Baca Juga: Ini Teknik Mencuci Pakaian agar Bahan dan Warna Tetap Awet, Pahamilah

Warga mulai membagikan pengalaman mereka menghadapi kondisi udara yang memburuk. Sebagian masyarakat mengaku mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, dan menutup ventilasi rumah untuk mengurangi paparan asap.

Di media sosial, sejumlah netizen juga menyampaikan kekhawatiran melihat langit Kalimantan yang kembali tertutup asap. Banyak yang berharap penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat agar dampak kesehatan dan aktivitas masyarakat tidak semakin meluas.

Pemerintah daerah bersama petugas gabungan terus melakukan upaya pemadaman dan pencegahan agar titik api tidak meluas. Palangka Raya sendiri memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga September 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi lapangan yang masih berisiko.

Baca Juga: Benny Sinomba Dimutasi ke Pemprov Sumut, Kini Berstatus Staf

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, serta menggunakan masker pelindung apabila harus beraktivitas di kawasan dengan kualitas udara buruk.(lin)

Editor : Redaksi
kualitas udara kabut asap kebakaran hutan kalimantan karhutla