sumutpos.jawapos.com – Perayaan ulang tahun ke-58 Masrupah Syarifuddin, istri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin, menjadi sorotan setelah momen tersebut tersebar luas di media sosial.
Acara yang digelar di sebuah restoran di Banjarmasin, Jumat (28/8/2026), mengusung tema “Kembali Muda”. Para tamu yang hadir mengenakan seragam bergaya anak sekolah menengah atas (SMA), menghadirkan suasana nostalgia dan hiburan dalam perayaan tersebut.
Namun, kemeriahan acara itu menuai kritik publik karena berlangsung ketika sejumlah wilayah Kalimantan Selatan tengah menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah warganet menilai momentum perayaan tersebut kurang tepat karena masyarakat di beberapa daerah sedang terdampak kualitas udara buruk akibat asap karhutla. Kritik terutama mengarah pada sensitivitas pejabat publik terhadap kondisi sosial yang tengah dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Dorong Ahli Waris Mandiri Lewat Program PEKA
Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Nasrullah menilai kejadian tersebut mencerminkan adanya jarak empati antara kelompok elite dan masyarakat.
“Sekalipun dana yang digunakan dana pribadi, hal ini menunjukkan dalam struktur elit terdapat tembok penghalang realitas masyarakat yang menciptakan jurang empati, sehingga terjadi nirempati terhadap masyarakat yang mengalami bencana,” ujar Nasrullah.
Menurutnya, pejabat publik memiliki tanggung jawab moral untuk mempertimbangkan situasi sosial sebelum menampilkan aktivitas pribadi di ruang publik, terlebih ketika masyarakat sedang menghadapi kondisi darurat.
Ia menyarankan agar kegiatan serupa dapat ditunda atau dilakukan secara lebih terbatas bersama keluarga tanpa perlu dipublikasikan secara luas melalui media sosial.
Baca Juga: Sambut Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Hadirkan Beragam Promo Kuliner hingga Belanja
“Perayaan bisa dilakukan secara tertutup bersama keluarga, sehingga tidak menimbulkan persepsi kurang peka terhadap kondisi masyarakat,” katanya.
Peristiwa ini kembali memunculkan perbincangan mengenai pentingnya kepekaan sosial bagi pejabat dan figur publik. Di era digital, aktivitas pribadi yang dibagikan ke ruang publik tidak hanya dilihat sebagai urusan personal, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Di media sosial, sebagian netizen mempertanyakan keputusan menggelar pesta dengan konsep meriah saat warga masih berhadapan dengan dampak kabut asap. Sebagian lainnya menilai pejabat perlu menunjukkan empati melalui sikap yang lebih sederhana ketika daerah sedang menghadapi bencana.
Meski demikian, ada pula masyarakat yang mengingatkan agar kritik tetap disampaikan secara proporsional karena setiap individu memiliki ruang pribadi. Namun, sebagai pejabat publik, pilihan waktu dan cara menampilkan sebuah kegiatan tetap menjadi perhatian karena melekat dengan tanggung jawab sosial.
Baca Juga: Bupati Paluta Ajak Warga Bentengi Generasi Muda dari Narkoba dan Judol
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa di tengah kemudahan berbagi informasi, batas antara ruang pribadi dan ruang publik bagi pejabat semakin tipis. Empati dan keteladanan menjadi aspek yang terus diuji, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.(lin)
Editor : Redaksi