Mahasiswa UGM Ciptakan Pasir Kucing Ramah Lingkungan dari Limbah Ampas Tebu dengan Teknologi Deteksi

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:01 WIB
Lima mahasiswa UGM menghadirkan inovasi pengembangan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu.(Instagram @pandemictalks)
Lima mahasiswa UGM menghadirkan inovasi pengembangan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu.(Instagram @pandemictalks)

sumutpos.jawapos.com - Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi yang menggabungkan kepedulian lingkungan dan kesehatan hewan melalui pengembangan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu. Inovasi karya Tim Felyhart ini menawarkan alternatif pasir kucing yang lebih mudah terurai sekaligus mampu membantu pemilik memantau kondisi kesehatan hewan peliharaan sejak dini.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (14/9/2026), Tim Felyhart beranggotakan Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Humairo Labiiba dari Sekolah Vokasi. Dalam pengembangannya, tim ini didampingi oleh Dr. drh. Madarina Wassisa, dosen Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Inovasi tersebut memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan utama karena memiliki potensi besar sebagai limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Berbeda dengan pasir kucing konvensional yang umumnya sulit terurai dan dapat menghasilkan banyak debu, pasir berbasis ampas tebu ini dirancang agar lebih ramah lingkungan serta nyaman digunakan.

Baca Juga: Peringati HAORNAS ke-43, Pemkab Padang Lawas Beri Penghargaan untuk Atlet Berprestasi

Keunggulan utama produk Felyhart terletak pada teknologi indikator pH alami yang ditanamkan pada pasir. Indikator tersebut memungkinkan perubahan warna pada pasir mengikuti tingkat keasaman atau pH urine kucing. Dengan begitu, pemilik dapat mengetahui adanya perubahan kondisi urine yang mungkin menjadi tanda awal gangguan kesehatan.

Selain inovasi pada material pasir, Tim Felyhart juga mengembangkan situs web yang dapat memindai perubahan warna pada gumpalan pasir. Sistem tersebut kemudian memberikan informasi mengenai perkiraan nilai pH urine kucing berdasarkan hasil pemindaian.

Meski demikian, hasil pemantauan dari teknologi tersebut bukan merupakan diagnosis medis, melainkan hanya indikator awal yang dapat membantu pemilik lebih cepat menyadari adanya perubahan kondisi pada hewan peliharaan. Jika ditemukan perubahan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter hewan tetap diperlukan.

Baca Juga: Jadi Irup di Ponpes Gunung Selamat, Camat Aek Nabara Barumun Tekankan Pentingnya Adab dan Akhlak

Dalam proses pengembangannya, Tim Felyhart juga menggunakan natrium propionat yang berfungsi membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Penggunaan bahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pasir sekaligus menjaga kebersihan lingkungan tempat kucing beraktivitas.

Melalui inovasi ini, Tim Felyhart tidak hanya menawarkan solusi bagi pemilik hewan peliharaan, tetapi juga menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan limbah pertanian. Penggabungan teknologi kesehatan hewan dan konsep keberlanjutan menjadi langkah kreatif mahasiswa UGM dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan hewan.(lin)

Editor : Redaksi
Teknologi Hijau Kesehatan Hewan Pasir Kucing Ramah Lingkungan UGM inovasi mahasiswa