Mengintip Gaya Arsitektur Klasik yang Kini Kembali Tren, Populer Akhir Abad 19 dan Awal Abad 20

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi, perumahan yang mengusung gaya arsitektur klasik. (pexels.com)
Ilustrasi, perumahan yang mengusung gaya arsitektur klasik. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Gaya arsitektur minimalis maupun konsep modern yang mengagungkan produksi masal memang tetap hidup.

Namun, gaya arsitektur klasik kini kembali banyak peminat. Contohnya, aliran Arts and Crafts yang sempat populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Melansir House Beautiful, Senin (14/9/2026), soal arsitektur, masyarakat saat ini tampaknya mulai merindukan hunian yang terasa lebih hangat, memiliki karakter kuat, dan menyajikan detail pengerjaan tangan yang bernilai seni tinggi.

Dan, belakangan ini para desainer interior dan arsitek global mendeteksi adanya pergeseran selera itu.

Baca Juga: 5 Pewarta Foto Hilang di Selat Sunda, PFI Medan dan Jurnalis Medan Gelar Doa Bersama

Yakni, gaya arsitektur klasik yang merayakan sebuah proses desain dengan lebih lambat, personal, dan mendalam.

Berikut elemen kunci yang membuat estetika arsitektur klasik ini begitu memikat:

1. Fungsi jujur yang sederhana
Salah satu ciri khas utama dari kembalinya tren klasik adalah penerapan prinsip honest function atau fungsi yang jujur. 

Artinya, setiap elemen arsitektur dibuat bukan sekadar sebagai tempelan hiasan, melainkan memiliki fungsi nyata yang menyatu dengan estetika ruang.

2. 'Kembali' ke alam
Material kayu dengan tonasi warna yang hangat kini kembali banyak diburu untuk mengisi area langit-langit berbalok (coffered ceilings) maupun elemen struktural lainnya. 

Penggunaan kayu berkualitas memberikan kesan kokoh sekaligus menghadirkan atmosfer ruang yang intim dan menenangkan, sesuatu yang sering kali absen dalam rumah bergaya minimalis ekstrem yang cenderung kaku.

Baca Juga: Tak Perlu Sok dan Gaya-gayaan, Sebaiknya Jangan Minum Kopi di Pesawat!

Selain itu, sentuhan kaca patri (stained glass) berwarna-warni di area pintu utama kembali diminati untuk memberikan kualitas pencahayaan alami yang dramatis sekaligus estetis pada koridor rumah di waktu-waktu tertentu.

3. Sentuhan Klasik yang Ramah Zaman
Membawa nuansa klasik ke era modern bukan berarti menduplikasi bangunan masa lalu secara kaku. 

Desainer masa kini lebih memilih untuk menginterpretasikan ulang elemen-elemen terbaik dari masa lalu untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidup abad ke-21.

Tren adaptasi ini juga mulai menangkap pasar properti tanah air. Konsumen kini tidak hanya mencari fungsionalitas, tetapi juga estetika eksterior yang memiliki prestise dan keindahan visual jangka panjang.

Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan Indonesia

Merespons tren kebutuhan tersebut, beberapa pengembang mulai mengadopsi gaya arsitektur abadi ini. 

Paramount Petals bahkan memperkenalkan Mimosa yang mengusung konsep American Classic.

Adaptasi gaya klasik tersebut diwujudkan melalui detail atap mansard berbahan bitumen yang mewah, jendela berukuran besar untuk ventilasi yang optimal, hingga detail profil architrave yang memikat pada bagian pintu masuk.

Agar tetap fungsional bagi keluarga modern, penataan ruang di dalamnya mengadopsi konsep open plan yang lapang dan fleksibel. 

Langkah ini membuktikan bahwa estetika klasik ketika dipadukan dengan tata ruang modern yang efisien serta didukung oleh infrastruktur kawasan yang matang seperti akses tol langsung dapat menciptakan sebuah kawasan hunian yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga adaptif dan berkelanjutan untuk masa depan. (lin)

Editor : Redaksi
Arsitektur Klasik Hunian Modern Arts And Crafts interior rumah desain rumah