Lulusan Perguruan Tinggi China Hadapi Pasar Kerja Sulit, Muncul Fenomena “Pura-Pura Bekerja”

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi. Fenomena full-time children, lying flat hingga bisnis “pura-pura bekerja” pun bermunculan di China.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Fenomena full-time children, lying flat hingga bisnis “pura-pura bekerja” pun bermunculan di China.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - China menghadapi tantangan besar di pasar tenaga kerja seiring jumlah lulusan perguruan tinggi yang terus meningkat. Tahun ini, sekitar 12,7 juta mahasiswa diperkirakan menyelesaikan pendidikan tinggi dan memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.

Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (6/10/2026), kondisi tersebut terjadi ketika perekonomian China mengalami perlambatan dan perusahaan mulai beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Persaingan mendapatkan pekerjaan pun semakin ketat, terutama bagi kelompok usia muda.

Indonesia, sebagian lulusan bahkan harus menunggu berbulan-bulan sebelum mendapatkan pekerjaan. Situasi ini mendorong munculnya sejumlah fenomena sosial baru di kalangan anak muda.

Baca Juga: Siswa SMPN 1 Yogyakarta Kenakan Busana Jawa Setiap Kamis Pon

Salah satunya adalah istilah full-time children, yakni anak muda yang memilih tinggal bersama orang tua sambil membantu pekerjaan rumah tangga. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan uang saku atau dukungan finansial dari keluarga.

Pilihan lainnya dikenal sebagai lying flat, sebuah fenomena ketika anak muda mengurangi ambisi terhadap karier dan memilih menjalani kehidupan dengan tekanan serta tuntutan yang lebih rendah.

Di tengah sulitnya memperoleh pekerjaan, muncul pula bisnis yang menawarkan konsep “pura-pura bekerja”. Tempat-tempat tersebut menyediakan ruang menyerupai kantor bagi para pengangguran yang ingin mempertahankan rutinitas layaknya pekerja kantoran.

Baca Juga: Gaji Masuk, Gen Z Lebih Banyak Alokasikan Penghasilan untuk Makanan

Pengguna dapat datang, duduk di ruang kerja, menggunakan fasilitas kantor, serta menjalani aktivitas harian seperti mencari lowongan pekerjaan atau mengerjakan berbagai kegiatan produktif. Biayanya sekitar Rp80 ribu per hari.

Bagi sebagian orang, ruang tersebut menjadi tempat untuk mencari pekerjaan tanpa kehilangan rutinitas. Namun, bagi pengguna lainnya, keberadaan ruang itu lebih berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk tetap merasa produktif, memiliki aktivitas harian, sekaligus mempertahankan keterhubungan dengan dunia profesional.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran di kalangan anak muda tidak hanya berkaitan dengan pendapatan. Sulitnya memasuki dunia kerja juga dapat memengaruhi rutinitas, rasa percaya diri, hingga cara generasi muda memandang masa depan karier mereka.(lin)

Editor : Redaksi
china pengangguran mahasiswa dunia kerja lulusan