28.9 C
Medan
Wednesday, February 28, 2024
spot_img
spot_img

Tiga Kali Banjir Bandang Jembatan Batu 8 Longsor

Bencana Alam Akibat Curah Hujan Tinggi di Simalungun

Curah hujan yang tinggi di Kabupaten Simalungun membuat sejumlah daerah mengalami bencana alam. Seperti di Hutasidodadi, Nagori Dolokhataran, Kecamatan Siantar, Simalungun. Dalam waktu sepekan, lokasi pemukiman mereka tiga kali dihantam banjir bandang, tepatnya Selasa (25/11) malam sekira pukul 23.00 WIB, Jumat (30/11) malam sekira pukul 24.00 WIB dan terakhir Minggu (2/12) malam sekira pukul 23.00 WIB. Ketinggian air meluap hingga 2 meter.

Amatan Metro Siantar (Grup Sumut Pos), Senin (3/12) sekira pukul 10.00 WIB, setelah dihantam banjir tiga rumah mengalami kerusakan yaitu rumah milik Sardi (65) suami dari Marikem (52) dan rumah milik Sukino (48) dan Tiarno (43).

Saat ditemui Sardi dan beberapa korban lainnya tanpak sibuk membersihkan sisa-sisa banjir. Seluruh perlengkapan rumah tangga mereka tergenang air dan terpaksa di taruh di halaman rumah berharap matahari dapat mengeringkannya.

Sardi mengatakan dalam satu pekan ini, pemukiman mereka sudah tiga kali dihantam banjir bandang, dan yang terparah terjadi Minggu (3/12) malam sekira pukul 23.00 WIB. Akibat dari kebanjiran itu, dinding rumah bagian depan yang ditinggalinya jebol terbawa arus air, hingga kini kondisi tersebut belum diperbaiki karena tidak ada biaya.

“Lihat bang, dinding rumah sudah jebol dihantam banjir, bagaimana lah kami tidur, sementara untuk memperbaikinya, saya belum punya uang,” kata Sardi sambil menunjukkan dinding rumahnya yang rusak.

Sukino korban banjir yang mengalami kerusakan tempat tinggalnya, dia mengatakan, saat banjir pertama dia belum sempat menyusun peralatan rumah tangganya mengingat curah hujan dalam Bulan ini cukup tinggi.

“Mulai banjir pertama sampai sekarang, barang-barang ku belum tersusun bang, karena takut banjir susulan datang lagi. Ternyata benar, dalam satu minggu saja, lokasi rumah kami sudah tiga kali terendam banjir,” kata Sukino.

Wawancara Metro dengan Sutiarno, dia mengatakan kebanjiran yang mereka alami sampai saat ini belum ada menerima bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Pemkab Simalungun.

Sementara peralatan masak serta bahan sembako milik mereka seluruhnya sudah habis terendam banjir, sehingga untuk makan saja sudah sulit. “Saya heran dengan pemerintahan ini, sudah tiga kali kebanjiran dalam waktu yang berdekatan, sampai sekarang Senin (3/12) pemerintah belum memberikan bantuan,” kesal Sutiarno.

Korban lain Ponidi (39), Muliono (44), Marikem (50), Safari (33), Predi (41), Surpian (33), dan Supii (80) mereka melontarkan nada serupa. Mereka membenarkan penyataan Sutiarno, bahwasaanya hingga saat ini BPBD Simalungun belum ada memberikan bantuan apa-apa.

Selain banjir bandang, jembatan di Hutasidauruk Nagori Dolokhataran Kecamatan Siantar juga longsor. Jembatan utama yang menghubungkan Kecamatan Siantar, Kecamatan Tanah Jawa dan Kecamatan Jawa Maraja Bahjambi itu longsor pada Senin (3/12) sekira pukul 02.00 WIB.

Akibat kejadian tersebut, kendaraan roda empat lumpu total. Melihat kondisi tanah di sekitar jembatan sudah terkikis habis, ditakutkan jika dilintasi akan berbahaya terhadap pengemudi, khusunya para sopir.

Informasi dihimpun, sebelum terjadinya longsor, tepat di seberang jembatan terdapat tumbuh pohon beringin yang besar. Setelah tiga hari berturut-turut diguyur hujan, dasar tanah pohon diketahui terkikis dan akhirnya amblas Senin dini hari kemarin.

Untuk saat ini, jembatan hanya dapat dilintasi pengendara becak motor (Betor) dan sepedamotor. Mereka melintas di sebelah kanan badan jembatan dari arah Kecamatan Siantar.

Kejadian tersebut sempat menguras perhatian warga, warga yang mendapat kabar langsung mendatangi lokasi untuk menyaksikan situasi jembatan. Selain warga, di lokasi juga terdapat beberapa siswa sekolah dengan niat yang sama.

Camat Jawa Maraja Bah Jambi ketika diwawancarai mengatakan, pihaknya akan membuat laporan ke Dinas PU Binamarga Pemkab Simalungun yang ditandatangani langsung oleh Camat Tanahjawa Halasan Silitonga, Camat Jawamaraja Bahjambi Dwi Fitri Siregar dan Camat Siantar Sabmenta Pasaribu. (mag-4).

Bencana Alam Akibat Curah Hujan Tinggi di Simalungun

Curah hujan yang tinggi di Kabupaten Simalungun membuat sejumlah daerah mengalami bencana alam. Seperti di Hutasidodadi, Nagori Dolokhataran, Kecamatan Siantar, Simalungun. Dalam waktu sepekan, lokasi pemukiman mereka tiga kali dihantam banjir bandang, tepatnya Selasa (25/11) malam sekira pukul 23.00 WIB, Jumat (30/11) malam sekira pukul 24.00 WIB dan terakhir Minggu (2/12) malam sekira pukul 23.00 WIB. Ketinggian air meluap hingga 2 meter.

Amatan Metro Siantar (Grup Sumut Pos), Senin (3/12) sekira pukul 10.00 WIB, setelah dihantam banjir tiga rumah mengalami kerusakan yaitu rumah milik Sardi (65) suami dari Marikem (52) dan rumah milik Sukino (48) dan Tiarno (43).

Saat ditemui Sardi dan beberapa korban lainnya tanpak sibuk membersihkan sisa-sisa banjir. Seluruh perlengkapan rumah tangga mereka tergenang air dan terpaksa di taruh di halaman rumah berharap matahari dapat mengeringkannya.

Sardi mengatakan dalam satu pekan ini, pemukiman mereka sudah tiga kali dihantam banjir bandang, dan yang terparah terjadi Minggu (3/12) malam sekira pukul 23.00 WIB. Akibat dari kebanjiran itu, dinding rumah bagian depan yang ditinggalinya jebol terbawa arus air, hingga kini kondisi tersebut belum diperbaiki karena tidak ada biaya.

“Lihat bang, dinding rumah sudah jebol dihantam banjir, bagaimana lah kami tidur, sementara untuk memperbaikinya, saya belum punya uang,” kata Sardi sambil menunjukkan dinding rumahnya yang rusak.

Sukino korban banjir yang mengalami kerusakan tempat tinggalnya, dia mengatakan, saat banjir pertama dia belum sempat menyusun peralatan rumah tangganya mengingat curah hujan dalam Bulan ini cukup tinggi.

“Mulai banjir pertama sampai sekarang, barang-barang ku belum tersusun bang, karena takut banjir susulan datang lagi. Ternyata benar, dalam satu minggu saja, lokasi rumah kami sudah tiga kali terendam banjir,” kata Sukino.

Wawancara Metro dengan Sutiarno, dia mengatakan kebanjiran yang mereka alami sampai saat ini belum ada menerima bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Pemkab Simalungun.

Sementara peralatan masak serta bahan sembako milik mereka seluruhnya sudah habis terendam banjir, sehingga untuk makan saja sudah sulit. “Saya heran dengan pemerintahan ini, sudah tiga kali kebanjiran dalam waktu yang berdekatan, sampai sekarang Senin (3/12) pemerintah belum memberikan bantuan,” kesal Sutiarno.

Korban lain Ponidi (39), Muliono (44), Marikem (50), Safari (33), Predi (41), Surpian (33), dan Supii (80) mereka melontarkan nada serupa. Mereka membenarkan penyataan Sutiarno, bahwasaanya hingga saat ini BPBD Simalungun belum ada memberikan bantuan apa-apa.

Selain banjir bandang, jembatan di Hutasidauruk Nagori Dolokhataran Kecamatan Siantar juga longsor. Jembatan utama yang menghubungkan Kecamatan Siantar, Kecamatan Tanah Jawa dan Kecamatan Jawa Maraja Bahjambi itu longsor pada Senin (3/12) sekira pukul 02.00 WIB.

Akibat kejadian tersebut, kendaraan roda empat lumpu total. Melihat kondisi tanah di sekitar jembatan sudah terkikis habis, ditakutkan jika dilintasi akan berbahaya terhadap pengemudi, khusunya para sopir.

Informasi dihimpun, sebelum terjadinya longsor, tepat di seberang jembatan terdapat tumbuh pohon beringin yang besar. Setelah tiga hari berturut-turut diguyur hujan, dasar tanah pohon diketahui terkikis dan akhirnya amblas Senin dini hari kemarin.

Untuk saat ini, jembatan hanya dapat dilintasi pengendara becak motor (Betor) dan sepedamotor. Mereka melintas di sebelah kanan badan jembatan dari arah Kecamatan Siantar.

Kejadian tersebut sempat menguras perhatian warga, warga yang mendapat kabar langsung mendatangi lokasi untuk menyaksikan situasi jembatan. Selain warga, di lokasi juga terdapat beberapa siswa sekolah dengan niat yang sama.

Camat Jawa Maraja Bah Jambi ketika diwawancarai mengatakan, pihaknya akan membuat laporan ke Dinas PU Binamarga Pemkab Simalungun yang ditandatangani langsung oleh Camat Tanahjawa Halasan Silitonga, Camat Jawamaraja Bahjambi Dwi Fitri Siregar dan Camat Siantar Sabmenta Pasaribu. (mag-4).

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/