31.7 C
Medan
Tuesday, February 27, 2024
spot_img
spot_img

Diduga Penyebab Longsor Lereng Perbukitan Baktiraja, Polres Humbahas Dalami Dugaan Ilegal Logging

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Kepolisian Resort (Polres) Humbang Hasundutan (Humbahas), masih mendalami dugaan illegal logging di kawasan Desa Sitolubahal, Kecamatan Lintongnihuta. Diduga, illegal logging itu menjadi penyebab banjir bandang dan longsor yang melanda Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, yang menelan korban jiwa dan merusak puluhan rumah, sekolah, gereja.

“Perkembangan akan kita sampaikan, ini masih pendalaman,” kata Kapolres Humbahas AKBP Hary Ardianto melalui via WhatsApp kepada awak media, Kamis (7/12).

Menurut Hary, dalam penyelidikan itu pihaknya bekerjasama dengan kepolisian kehutanan (KPH) 13 karena sebagai saksi ahli soal tersebut. “Pastinya kita gandeng KPH 13 sebagai saksi ahli,” ucapnya.

Disinggung, soal adanya oknum aparat hukum berinisial DS, diduga yang membekingi penebangan tersebut, Hary belum dapat memastikan. “Nanti dikonfirmasi lagi siapa DS, aparat kan banyak,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor menyampaikan, penyebab longsor dari lereng perbukitan di Baktiraja dikarenakan adanya penebangan kayu di Desa Sitolubahal Kecamatan Lintongnihuta. Itu disampaikan Dosmar usai menyusuri jalur dari hulu ke hilir lokasi longsor. “Berdasarkan hasil pengecekan kita di lokasi, ada sekitar 4 hektare kawasan hutan yang telah gundul akibat praktik ilegal logging,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dosmar menyampaikan, dari hasil penelusurannya bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halomoan Jetro Amstrong Manullang, Kepala Dinas Kominfo Batara Franz Siregar, Kepala Satpol PP Humbahas Vandeik Simanungkalit, Camat Lintongnihuta Sabam R Sihombing, Kades serta Perangkat desa, bahwa penebangan kayu dilakukan sekelompok orang dengan keterlibatan oknum aparat. “ Informasi ini saya ketahui dari masyarakat. Para pelaku dibekingi oknum aparat berinisial DS,” ujar Dosmar.

Selain itu, lanjut Dosmar, oknum aparat itu juga memfasilitasi para sekelompok masyarakat berupa alat berat yakni ekskavator, dan alat lainya serta uang. “Selama saya menjabat, saya tidak pernah mengeluarkan analisis mengenai dampak lingkungan yakni AMDAL bagi pemenang kayu,” sebutnya.

Dari amatan menyebutkan, tim gabungan dari unsur Polri, TNI, Basarnas, BPBD, masyarakat masih terus melakukan pencarian 10 orang yang hilang dari 12 orang. Pasca kejadian, Pemerintah Humbahas yang bekerjasama dengan pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menurunkan 14 unit alat berat, serta telah menurunkan penyelam, perahu karet dari Basarnas. Sementara, material batu, lumpur sepanjang 200 meter yang menutupi jalan lintas berangsur dievakuasi.

 

Tim SAR Temukan Rahang Manusia

Hingga hari kelima, Rabu (6/12), Tim SAR Gabungan terus melakukan pencarian terhadap 10 korban hilang. Kepala Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, mengatakan Tim SAR Gabungan menemukan bagian tubuh (body part), tepatnya rahang manusia.

Kepastian soal apakah rahang tersebut merupakan bagian tubuh dari korban yang hilang atau dari kuburan warga, kata Tuahta, masih belum dapat dipastikan.

“Sekitar pukul 09.45 WIB ditemukan body part rahang manusia. Namun masih menunggu DVI, apakah berasal dari kuburan yang ada di sekitar lokasi atau korban,” ujar Tuahta kepada wartawan, Rabu (6/12).

Dikatakan Tuahta, Tim SAR terus berupaya mencari korban yang hilang. “Pelaksanaan pencarian diawali dengan apel gabungan pukul 08.00 pagi. Selanjutnya enam regu dibagi di enam sektor target pencarian,” jelasnya.

Untuk sementara akses keluar masuk lokasi longsor ditutup total untuk masyarakat umum. Tujuannya untuk fokus penanganan dampak longsor, pencarian korban hilang dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di hari kelima tersebut, ujar Tuahta lebih lanjut, aksi pencarian korban hilang melalui tindakan penyelaman ke dasar Danau Tiba, belum dapat dilakukan. Hal itu disebabkan jarak pandang 0 cm.

Kemudian untuk pencarian jalur air, sudah ada penambahan dari Polair dan Basarnas. Jumlah Alut Air yg beroperasi antara lain satu unit LCR BPBD Sumut, 1 Unit LCR BPBD Humbahas, 1 Unit LCR Basarnas, 2 unit RIB Basarnas dan 1 unit RIB Polair.

Pelaksanaan pencarian dibagi dua wilayah, yakni air dan darat. Pencarian di darat terbagi enam sektor antara lain sisi perbukitan, sisi kanan jalan dan sisi tepi danau. “Jumlah Alat berat yg digunakan berjumlah 15 unit,” tambah Tuahta.

Sementara Kabid Dokkes Polda Sumut, Kombes Pol Dr dr Harry Kamijantono memastikan, dua jenazah yang ditemukan merupakan korban Dian Lubis (19), dan Tiamin Boru Sinambela (78), warga Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbahas. Hal itu dipastikan melalui metode primer sidik jari oleh Tim DVI Polda Sumut IPTU dr Edgar SpF dan petugas medis lainnya. “Dua korban longsor yang ditemukan dan dapat diidentifikasi setelah dilakukan pemeriksaan oleh DVI dengan metode primer sidik jari,” katanya, Kamis (7/12).

Dr Harry menerangkan, hingga saat ini Tim DVI Polda Sumut telah mendapatkan data lengkap Antemortem dari 10 keluarga korban yang diduga hilang dan belum ditemukan sebagai bahan dalam rekonsiliasi dan sebelumnya telah dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Setelah teridentifikasi, lanjutnya, dibuatkan administrasi untuk di serahkan kepada keluarga. “Puskesmas bakara dijadikan sebagai tempat penyimpanan sementara jenazah dan tempat pencocokan data antemortem, posmortem,” tukasnya. (des/dwi/adz)

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Kepolisian Resort (Polres) Humbang Hasundutan (Humbahas), masih mendalami dugaan illegal logging di kawasan Desa Sitolubahal, Kecamatan Lintongnihuta. Diduga, illegal logging itu menjadi penyebab banjir bandang dan longsor yang melanda Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, yang menelan korban jiwa dan merusak puluhan rumah, sekolah, gereja.

“Perkembangan akan kita sampaikan, ini masih pendalaman,” kata Kapolres Humbahas AKBP Hary Ardianto melalui via WhatsApp kepada awak media, Kamis (7/12).

Menurut Hary, dalam penyelidikan itu pihaknya bekerjasama dengan kepolisian kehutanan (KPH) 13 karena sebagai saksi ahli soal tersebut. “Pastinya kita gandeng KPH 13 sebagai saksi ahli,” ucapnya.

Disinggung, soal adanya oknum aparat hukum berinisial DS, diduga yang membekingi penebangan tersebut, Hary belum dapat memastikan. “Nanti dikonfirmasi lagi siapa DS, aparat kan banyak,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor menyampaikan, penyebab longsor dari lereng perbukitan di Baktiraja dikarenakan adanya penebangan kayu di Desa Sitolubahal Kecamatan Lintongnihuta. Itu disampaikan Dosmar usai menyusuri jalur dari hulu ke hilir lokasi longsor. “Berdasarkan hasil pengecekan kita di lokasi, ada sekitar 4 hektare kawasan hutan yang telah gundul akibat praktik ilegal logging,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dosmar menyampaikan, dari hasil penelusurannya bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halomoan Jetro Amstrong Manullang, Kepala Dinas Kominfo Batara Franz Siregar, Kepala Satpol PP Humbahas Vandeik Simanungkalit, Camat Lintongnihuta Sabam R Sihombing, Kades serta Perangkat desa, bahwa penebangan kayu dilakukan sekelompok orang dengan keterlibatan oknum aparat. “ Informasi ini saya ketahui dari masyarakat. Para pelaku dibekingi oknum aparat berinisial DS,” ujar Dosmar.

Selain itu, lanjut Dosmar, oknum aparat itu juga memfasilitasi para sekelompok masyarakat berupa alat berat yakni ekskavator, dan alat lainya serta uang. “Selama saya menjabat, saya tidak pernah mengeluarkan analisis mengenai dampak lingkungan yakni AMDAL bagi pemenang kayu,” sebutnya.

Dari amatan menyebutkan, tim gabungan dari unsur Polri, TNI, Basarnas, BPBD, masyarakat masih terus melakukan pencarian 10 orang yang hilang dari 12 orang. Pasca kejadian, Pemerintah Humbahas yang bekerjasama dengan pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menurunkan 14 unit alat berat, serta telah menurunkan penyelam, perahu karet dari Basarnas. Sementara, material batu, lumpur sepanjang 200 meter yang menutupi jalan lintas berangsur dievakuasi.

 

Tim SAR Temukan Rahang Manusia

Hingga hari kelima, Rabu (6/12), Tim SAR Gabungan terus melakukan pencarian terhadap 10 korban hilang. Kepala Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, mengatakan Tim SAR Gabungan menemukan bagian tubuh (body part), tepatnya rahang manusia.

Kepastian soal apakah rahang tersebut merupakan bagian tubuh dari korban yang hilang atau dari kuburan warga, kata Tuahta, masih belum dapat dipastikan.

“Sekitar pukul 09.45 WIB ditemukan body part rahang manusia. Namun masih menunggu DVI, apakah berasal dari kuburan yang ada di sekitar lokasi atau korban,” ujar Tuahta kepada wartawan, Rabu (6/12).

Dikatakan Tuahta, Tim SAR terus berupaya mencari korban yang hilang. “Pelaksanaan pencarian diawali dengan apel gabungan pukul 08.00 pagi. Selanjutnya enam regu dibagi di enam sektor target pencarian,” jelasnya.

Untuk sementara akses keluar masuk lokasi longsor ditutup total untuk masyarakat umum. Tujuannya untuk fokus penanganan dampak longsor, pencarian korban hilang dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di hari kelima tersebut, ujar Tuahta lebih lanjut, aksi pencarian korban hilang melalui tindakan penyelaman ke dasar Danau Tiba, belum dapat dilakukan. Hal itu disebabkan jarak pandang 0 cm.

Kemudian untuk pencarian jalur air, sudah ada penambahan dari Polair dan Basarnas. Jumlah Alut Air yg beroperasi antara lain satu unit LCR BPBD Sumut, 1 Unit LCR BPBD Humbahas, 1 Unit LCR Basarnas, 2 unit RIB Basarnas dan 1 unit RIB Polair.

Pelaksanaan pencarian dibagi dua wilayah, yakni air dan darat. Pencarian di darat terbagi enam sektor antara lain sisi perbukitan, sisi kanan jalan dan sisi tepi danau. “Jumlah Alat berat yg digunakan berjumlah 15 unit,” tambah Tuahta.

Sementara Kabid Dokkes Polda Sumut, Kombes Pol Dr dr Harry Kamijantono memastikan, dua jenazah yang ditemukan merupakan korban Dian Lubis (19), dan Tiamin Boru Sinambela (78), warga Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbahas. Hal itu dipastikan melalui metode primer sidik jari oleh Tim DVI Polda Sumut IPTU dr Edgar SpF dan petugas medis lainnya. “Dua korban longsor yang ditemukan dan dapat diidentifikasi setelah dilakukan pemeriksaan oleh DVI dengan metode primer sidik jari,” katanya, Kamis (7/12).

Dr Harry menerangkan, hingga saat ini Tim DVI Polda Sumut telah mendapatkan data lengkap Antemortem dari 10 keluarga korban yang diduga hilang dan belum ditemukan sebagai bahan dalam rekonsiliasi dan sebelumnya telah dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Setelah teridentifikasi, lanjutnya, dibuatkan administrasi untuk di serahkan kepada keluarga. “Puskesmas bakara dijadikan sebagai tempat penyimpanan sementara jenazah dan tempat pencocokan data antemortem, posmortem,” tukasnya. (des/dwi/adz)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/