30.6 C
Medan
Wednesday, February 28, 2024
spot_img
spot_img

Stok Obat di RSUD Aman

Direktur RSUD dr Hanif Fahri SpKj MM.

SUMUTPOS.CO  – STOK obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deliserdang cukup. Demikian diterangkan Direktur RSUD dr Hanif Fahri SpKj MM, di kantornya, Rabu (19/4).

Disebutkannya, persedian obat setiap bulan bisa masuk karena selalu memesan sesuai kebutuhan dengan evaluasi di bidang instlasi farmasi yang dialokasi dari APBD. Obat itu dikelola sendiri serta tidak melibatkan rekanan.

“Belum pernah terkendala tentang persediaan obat. Selalu mengikuti prosedur seperti pejabat pembuat komitmen memesan obat dan mendrop ke RSUD dibarengi dengan kepercayaan yang dipegang,” sebut dokter eks Kepala Askes itu.

Menurutnya, bila persediaan obat kosong maka akan menimbulkan masalah. Tetapi, biar hal itu tak terjadi proses pemesanan dari RSUD harus mengalokasikan stok obat minimal 3-6 bulan kedepan. Tetapi disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kita bertekad akan membawa RS menuju akreditasi internasional pada tahun 2019, dengan nilai terbaik diantara RSUD kelas B yang ada di pulau Sumatera,” kata dr Hanif.

Ditambahkan Wakil Direktur dr Asriluddin Tambunan MKedPD bahwa, sistem pemesanan obat dikontrol dengan ketat.

“Mengurangi petugas farmasi agar tidak sembarangan lagi bisa pesan obat, berapa pasien setiap bulan dan berapa proyeksinya untuk membatasi kesempatan berbuat curang yang mendapat bonus dari distributor obat,” katanya.

Dr Asriluddin mengatakan, memesan obat sesuai berapa jumlah pasien terakhir setiap bulannya. Kemudian, plafonnya dinaikkan sedikit sesuai pendataan obat yang tinggal 25 persen stoknya di bulan itu untuk segera ditambahkan.(mag2/btr/ala)

Direktur RSUD dr Hanif Fahri SpKj MM.

SUMUTPOS.CO  – STOK obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deliserdang cukup. Demikian diterangkan Direktur RSUD dr Hanif Fahri SpKj MM, di kantornya, Rabu (19/4).

Disebutkannya, persedian obat setiap bulan bisa masuk karena selalu memesan sesuai kebutuhan dengan evaluasi di bidang instlasi farmasi yang dialokasi dari APBD. Obat itu dikelola sendiri serta tidak melibatkan rekanan.

“Belum pernah terkendala tentang persediaan obat. Selalu mengikuti prosedur seperti pejabat pembuat komitmen memesan obat dan mendrop ke RSUD dibarengi dengan kepercayaan yang dipegang,” sebut dokter eks Kepala Askes itu.

Menurutnya, bila persediaan obat kosong maka akan menimbulkan masalah. Tetapi, biar hal itu tak terjadi proses pemesanan dari RSUD harus mengalokasikan stok obat minimal 3-6 bulan kedepan. Tetapi disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kita bertekad akan membawa RS menuju akreditasi internasional pada tahun 2019, dengan nilai terbaik diantara RSUD kelas B yang ada di pulau Sumatera,” kata dr Hanif.

Ditambahkan Wakil Direktur dr Asriluddin Tambunan MKedPD bahwa, sistem pemesanan obat dikontrol dengan ketat.

“Mengurangi petugas farmasi agar tidak sembarangan lagi bisa pesan obat, berapa pasien setiap bulan dan berapa proyeksinya untuk membatasi kesempatan berbuat curang yang mendapat bonus dari distributor obat,” katanya.

Dr Asriluddin mengatakan, memesan obat sesuai berapa jumlah pasien terakhir setiap bulannya. Kemudian, plafonnya dinaikkan sedikit sesuai pendataan obat yang tinggal 25 persen stoknya di bulan itu untuk segera ditambahkan.(mag2/btr/ala)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/