alexametrics
23.9 C
Medan
Friday, August 19, 2022
spot_img

Jokowi Berikan Isyarat, Siap-siap, Harga Pertalite Bakal Naik

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, subsidi pemerintah untuk bahan bakar minyak (BBM) partelite, menyentuh angka fantastis, yakni sebesar Rp502 triliun. Menurutnya, subsidi itu dilakukan agar harga partalite tetap di angka Rp7.650 per liter.

“Pemerintah mengeluarkan anggaran subsidi yang tidak kecil, Rp502 triliun. Tidak ada negara berani memberikan subsidi sebesar yang dilakukan Indonesia,” ungkap Jokowi, saat memberikan sambutan pada acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) 2022 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jumat (5/8).

Jokowi menyampaikan, negara-negara di dunia sedang mengalami inflasi. Menurutnya, saat ini 320 juta orang di dunia sudah berada pada posisi menderita kelaparan akut. Karena itu, untuk menekan inflasi yang terjadi di Indonesia, harga BBM tidak bisa diubah. Dia tak memungkiri, akan ada penolakan besar-besaran jika harga partelite dinaikkan.

Baca Juga :  Pertamina Sosialisasi BBM Subsidi Tepat Sasaran di Siantar dan Sibolga

Jokowi mencontohkan, saat menaikkan harga pertalite 10 persen, dia didemo selama 3 bulan. Menurutnya, jika mengikuti minyak dunia, harga pertalite per liternya seharusnya bakal naik hingga lebih dari 100 persen.

“Coba di negara kita, bayangkan, pertalite naik dari Rp7.650 harga sekarang, kemudian jadi harga yang bener Rp17.100, demonya berapa bulan? Naik 10 persen saja, saya ingat demonya 3 bulan. Kalau naik sampai 100 persen lebih, demonya akan berapa bulan?” ujarnya.

Dia mengakui, jika harga bahan bakar naik, maka harga bahan pokok masyarakat akan melonjak. Sehingga hal ini menjadi penting untuk diantisipasi. Terlebih, Jokowi meminta masyarakat berhati-hati dengan kondisi ekonomi mulai saat ini. Bahkan pada 2023 disebut, bakal menjadi tahun gelap akibat krisis ekonomi, pangan, hingga energi akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Baca Juga :  Pertamina Tak Bisa Kalahkan Petronas

Jokowi mengaku mendapatkan prediksi ini, setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), dan para kepala negara G7.

“Beliau-beliau menyampaikan, ‘Presiden Jokowi, tahun ini kita akan sangat sulit’. Terus kemudian seperti apa? ‘Tahun depan akan gelap. Ini bukan Indonesia, ini dunia, hati-hati,” pungkasnya. (jpc/saz)

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, subsidi pemerintah untuk bahan bakar minyak (BBM) partelite, menyentuh angka fantastis, yakni sebesar Rp502 triliun. Menurutnya, subsidi itu dilakukan agar harga partalite tetap di angka Rp7.650 per liter.

“Pemerintah mengeluarkan anggaran subsidi yang tidak kecil, Rp502 triliun. Tidak ada negara berani memberikan subsidi sebesar yang dilakukan Indonesia,” ungkap Jokowi, saat memberikan sambutan pada acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) 2022 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jumat (5/8).

Jokowi menyampaikan, negara-negara di dunia sedang mengalami inflasi. Menurutnya, saat ini 320 juta orang di dunia sudah berada pada posisi menderita kelaparan akut. Karena itu, untuk menekan inflasi yang terjadi di Indonesia, harga BBM tidak bisa diubah. Dia tak memungkiri, akan ada penolakan besar-besaran jika harga partelite dinaikkan.

Baca Juga :  PGN Salurkan Rp 3.7 Milyar untuk Penanganan COVID-19

Jokowi mencontohkan, saat menaikkan harga pertalite 10 persen, dia didemo selama 3 bulan. Menurutnya, jika mengikuti minyak dunia, harga pertalite per liternya seharusnya bakal naik hingga lebih dari 100 persen.

“Coba di negara kita, bayangkan, pertalite naik dari Rp7.650 harga sekarang, kemudian jadi harga yang bener Rp17.100, demonya berapa bulan? Naik 10 persen saja, saya ingat demonya 3 bulan. Kalau naik sampai 100 persen lebih, demonya akan berapa bulan?” ujarnya.

Dia mengakui, jika harga bahan bakar naik, maka harga bahan pokok masyarakat akan melonjak. Sehingga hal ini menjadi penting untuk diantisipasi. Terlebih, Jokowi meminta masyarakat berhati-hati dengan kondisi ekonomi mulai saat ini. Bahkan pada 2023 disebut, bakal menjadi tahun gelap akibat krisis ekonomi, pangan, hingga energi akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Baca Juga :  Hanya Rp50 Ribu per Bulan, Indosat Ooredoo Hadirkan Paket Khusus Internet Gaspol Bagi Driver GOJEK

Jokowi mengaku mendapatkan prediksi ini, setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), dan para kepala negara G7.

“Beliau-beliau menyampaikan, ‘Presiden Jokowi, tahun ini kita akan sangat sulit’. Terus kemudian seperti apa? ‘Tahun depan akan gelap. Ini bukan Indonesia, ini dunia, hati-hati,” pungkasnya. (jpc/saz)

spot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/