Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebelum Ngutang, Baiknya Perhatikan Ini Dulu: Pesan OJK dan Suara Netizen

R
Penulis: Redaksi❯
OJK mengingatkan masyarakat untuk menghitung kemampuan dan memahami risiko agar tidak terjebak masalah keuangan. (Ilustrasi freepik.com)
OJK mengingatkan masyarakat untuk menghitung kemampuan dan memahami risiko agar tidak terjebak masalah keuangan. (Ilustrasi freepik.com)

sumutpos.jawapos.com - Berutang kerap menjadi solusi instan ketika kebutuhan mendesak datang, mulai dari menutup kekurangan biaya hidup hingga memenuhi keinginan konsumtif.


Advertisement

Namun, kemudahan akses kredit saat ini justru membuat risiko finansial semakin besar jika tidak dibarengi perhitungan matang. Inilah yang terus diingatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui edukasi perencanaan keuangan, di akun resmi media sosial @ojkindonesia, dilansir Jumat (23/1/2026).

OJK menegaskan bahwa utang pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Utang dapat membantu kondisi finansial apabila digunakan secara bijak dan sesuai kemampuan. Masalah muncul ketika utang diambil tanpa memahami tujuan, risiko, serta kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.

Dalam edukasi tersebut, OJK menjelaskan bahwa utang terbagi menjadi utang konsumtif dan utang produktif. Utang konsumtif biasanya digunakan untuk kebutuhan yang tidak menghasilkan nilai ekonomi, sementara utang produktif dimanfaatkan untuk hal-hal yang berpotensi menambah pendapatan, seperti modal usaha.

OJK juga mengingatkan agar masyarakat benar-benar menilai apakah utang memang dibutuhkan atau hanya dorongan sesaat. Selain itu, kemampuan membayar cicilan harus dihitung secara realistis agar tidak mengganggu kebutuhan pokok. Sebagai acuan, total cicilan idealnya tidak melebihi sekitar 30 persen dari penghasilan bulanan.

Advertisement

Pesan kehati-hatian ini menuai banyak tanggapan dari netizen di kolom komentar Instagram resmi OJK. Sejumlah warganet mengaku baru menyadari pentingnya perhitungan sebelum berutang setelah mengalami kesulitan keuangan.

“Kalau dari awal tahu cicilan maksimal 30 persen, mungkin saya nggak akan ambil kredit sebanyak itu," tulis salah satu netizen di kolom komentar, dilansir Jumat (23/1/2026).

Komentar lain datang dari warganet yang mengaku pernah tergoda pinjaman online karena prosesnya yang cepat dan tanpa jaminan.
“Awalnya pinjam kecil, tapi bunganya bikin kaget. Sekarang baru sadar pentingnya mikir panjang sebelum ngutang,” tulis akun lainnya.

Advertisement

Tak sedikit pula netizen yang mengapresiasi konten edukasi keuangan OJK karena dinilai membuka mata masyarakat.
“Terima kasih OJK, kontennya ngebantu banget buat orang awam kayak saya biar nggak asal pinjam,” tulis seorang pengikut.

Di sisi lain, kolom komentar juga dipenuhi curahan pengalaman pahit terkait pinjol ilegal. Beberapa netizen mengeluhkan penagihan yang agresif dan tekanan psikologis akibat utang. “Pinjol ilegal itu serem, tagihannya nggak manusiawi. Semoga makin banyak yang diedukasi biar nggak terjebak,” tulis netizen lainnya.

Selain itu, warganet turut menyinggung maraknya informasi hoaks soal penghapusan utang yang mengatasnamakan OJK.
“Banyak banget info pemutihan utang palsu, untung OJK sering klarifikasi di IG,” komentar seorang pengguna.

Melalui edukasi dan interaksi di media sosial tersebut, OJK kembali menegaskan bahwa utang bukan musuh, tetapi juga bukan hal yang bisa disepelekan. Dengan perencanaan matang, disiplin membayar cicilan, serta memastikan lembaga pemberi pinjaman legal dan diawasi, utang dapat menjadi alat bantu finansial. (lin)

Advertisement

Artikel Terkait

OJK Ungkap 2,8 Juta Calon Nasabah Ditolak Buka Rekening karena Terindikasi Judi Online

OJK Ungkap 2,8 Juta Calon Nasabah Ditolak Buka Rekening karena Terindikasi Judi Online

OJK mencatat 2,8 juta calon nasabah ditolak membuka rekening karena terindikasi terkait judi online. Puluhan ribu rekening juga ditutup

Kripto Makin Bergairah, Transaksi Hampir Rp100 Triliun

Kripto Makin Bergairah, Transaksi Hampir Rp100 Triliun

Transaksi aset kripto Indonesia mencapai Rp99,01 triliun hingga April 2026. OJK mencatat investor bertambah dan pelaku industri mulai meraih

Kredit Perbankan Tembus Rp8.755 Triliun, Investasi dan Korporasi Jadi Motor Pertumbuhan

Kredit Perbankan Tembus Rp8.755 Triliun, Investasi dan Korporasi Jadi Motor Pertumbuhan

Kredit perbankan tumbuh 9,98 persen menjadi Rp8.755 triliun pada April 2026. Kredit investasi dan korporasi menjadi pendorong utama.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer