
JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com– Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan tajam. Pada penutupan perdagangan Selasa (5/5), rupiah menyentuh level Rp17.424 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global dan musiman. Namun, kalangan ekonom melihat ada persoalan yang lebih dalam: menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional.
Tekanan terhadap rupiah membuat Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama jajaran otoritas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam. Seusai rapat, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamental ekonominya.
“Nilai tukar sekarang itu undervalue. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” ujar Perry.
Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi dinilai terjaga, inflasi rendah, kredit perbankan meningkat, dan cadangan devisa tetap solid.
“Ini menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” katanya.
Meski demikian, Perry mengakui adanya tekanan jangka pendek yang cukup berat. Menurutnya, tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan faktor musiman di dalam negeri.
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa penguatan dolar AS juga menekan mata uang banyak negara, bukan hanya Indonesia.
Selain faktor global, ia menyebut musim keberangkatan ibadah haji turut meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik. Aktivitas penukaran mata uang oleh masyarakat membuat kebutuhan valas meningkat signifikan.
“Biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” ujar Airlangga.
Tak hanya itu, tekanan tambahan datang dari kebutuhan pembayaran dividen korporasi pada kuartal kedua yang turut meningkatkan permintaan dolar AS.



