Kebijakan Moneter AS Kian Longgar, Harga Emas Berpeluang Lanjut Menguat

Sumutpos.jawapos.com – Prospek harga emas dunia masih terlihat cerah pada perdagangan pekan ini. Kombinasi sentimen teknikal yang semakin solid dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi bahan bakar utama bagi penguatan logam mulia tersebut.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya risiko geopolitik, emas kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset safe haven. Kondisi ini diperkirakan akan terus menopang permintaan sekaligus menjaga tren kenaikan harga.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan emas (XAU/USD) pada grafik harian masih berada dalam fase bullish. Secara teknikal, peluang kenaikan dinilai tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support utama.
"Pergerakan emas telah memberikan sinyal pembalikan arah yang cukup kuat setelah terbentuknya pola double bottom," ujarnya, Minggu (5/7).
Menurut Geraldo, pola tersebut mengindikasikan perubahan arah dari fase konsolidasi menuju tren naik yang lebih kuat. Selama level support tidak ditembus, skenario bullish masih menjadi acuan utama pelaku pasar.
Ia memproyeksikan harga emas berpeluang menguji level resistance pertama di kisaran USD 4.220 per troy ounce. Apabila level tersebut berhasil ditembus, reli diperkirakan berlanjut hingga mendekati USD 4.330 per troy ounce.
Harapan Pemangkasan Suku Bunga Jadi Katalis
Selain faktor teknikal, arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi perhatian utama investor. Pasar semakin optimistis Federal Reserve akan mulai melonggarkan kebijakan suku bunga apabila indikator ekonomi menunjukkan perlambatan.
Geraldo menjelaskan, peluang penurunan suku bunga akan semakin besar jika inflasi terus bergerak turun, pertumbuhan ekonomi melambat, dan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
"Jika inflasi bergerak lebih rendah, pertumbuhan ekonomi melambat, atau pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum, peluang penurunan suku bunga akan semakin terbuka," jelasnya.
Ekspektasi tersebut berpotensi menekan nilai tukar dolar Amerika Serikat sekaligus menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Secara historis, kedua kondisi itu menjadi faktor yang mendukung kenaikan harga emas.



