Rupiah Kembali Tertekan! 2 Sentimen Ini Bisa Bikin Dolar Tembus Rp17.590

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (11/9), setelah pada perdagangan sehari sebelumnya ditutup turun 36 poin ke level Rp17.547 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi sentimen dari dalam dan luar negeri. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan (11/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.540–Rp17.590," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima Jumat (11/9).
Ibrahim menyebut, terdapat dua sentimen utama yang menjadi perhatian pasar. Dari eksternal, pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pasar bersiap menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI). Kedua indikator tersebut menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan.
"Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga," jelasnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan berada di sekitar 60 persen. Ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, sentimen yang turut membayangi rupiah datang dari risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.
Ibrahim mengatakan pemerintah memang telah memberikan sinyal bahwa kondisi anggaran negara masih aman. Namun, lonjakan harga minyak mentah tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi, terutama untuk BBM dan LPG.



