Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

BI Rate Turun ke 4,75 Persen, Fokus Likuiditas dan Kredit

Johan Panjaitan • Kamis, 18 September 2025 | 22:15 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)


MEDAN,Sumutpos.jawapos.com-Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen pada September 2025. Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan inflasi yang terkendali, stabilitas eksternal yang terjaga, serta perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

“Dengan inflasi yang tetap terkendali dan stabilitas eksternal yang kuat, kami menilai saat ini terdapat ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar secara virtual, Rabu (17/9).

Ia menjelaskan, inflasi IHK pada Agustus 2025 tercatat sebesar 2,89 persen secara tahunan, turun dari 3,06 persen pada Juli 2025. Penurunan inflasi terutama ditopang oleh terkendalinya harga pangan bergejolak, khususnya komoditas hortikultura. Inflasi inti juga terjaga di kisaran 2,1 persen, mencerminkan permintaan domestik yang mulai menguat namun tetap seimbang.

Selain itu, sambungnya, ekspektasi inflasi ke depan masih dalam target 2,5±1 persen. BI memandang stabilitas harga akan tetap terjaga didukung koordinasi erat bersama pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan harga pangan serta distribusi barang kebutuhan pokok.

"Dari sisi eksternal, nilai tukar rupiah relatif stabil dengan tren penguatan terbatas di tengah volatilitas global. Aliran masuk modal asing tercatat positif, sementara cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 150,2 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2025, setara dengan pembiayaan 7,1 bulan impor," jelasnya.

Pihaknya menegaskan, akan terus mencermati perkembangan global, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan harga komoditas dunia, agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Bila diperlukan, kebijakan moneter akan direspons secara terukur.

"Kebijakan penurunan suku bunga ini juga diiringi langkah menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas dan obligasi. Dengan bauran kebijakan tersebut, BI optimistis target pertumbuhan ekonomi 4,7–5,5 persen pada 2025 dapat tercapai," katanya

Perry menambahkan, BI melanjutkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Hingga September 2025, outstanding KLM mencapai Rp384,21 triliun yang disalurkan kepada 114 bank peserta.

“Melalui insentif likuiditas, kami mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit, terutama untuk sektor prioritas dan UMKM. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata," imbuhnya.

Ia menekankan, bahwa ruang pelonggaran likuiditas ini bertujuan meningkatkan daya dorong perbankan dalam pembiayaan ekonomi. Dengan biaya dana yang lebih murah, bank diharapkan menurunkan suku bunga kredit dan memperluas akses pembiayaan kepada dunia usaha.

"Penyaluran kredit perbankan terus menunjukkan perbaikan. Hingga Agustus 2025, pertumbuhan kredit mencapai 9,5 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 8,9 persen pada bulan sebelumnya. Peningkatan terjadi pada kredit investasi, kredit modal kerja, serta kredit konsumsi," paparnya.

Pembiayaan melalui pasar modal, terang Perry, juga tercatat positif. Penerbitan obligasi dan sukuk korporasi meningkat, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan jangka panjang sektor swasta. BI menilai perkembangan ini mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur dan penguatan basis industri domestik.

Sementara itu, lanjutnya, pembiayaan untuk UMKM tumbuh signifikan, ditopang oleh perluasan akses kredit dengan skema penjaminan serta program pemerintah. Kredit hijau untuk mendukung transisi energi juga mulai menunjukkan tren peningkatan.

"Dalam menjaga keseimbangan, BI tetap memperkuat kebijakan makroprudensial yang bersifat countercyclical. Tujuannya agar ekspansi kredit tidak menimbulkan risiko baru terhadap stabilitas sistem keuangan," tandasnya. (dwi/han)

Editor : Johan Panjaitan
#suku bunga #domestik #stabilitas #BI Rate #eksternal #inflasi