Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Mengapa Mantan Pasangan Meminta Barang Kembali Setelah Putus Hubungan?

Redaksi • Selasa, 13 Januari 2026 | 06:00 WIB
ilustrasi putus hubungan. (Freepik.com)
ilustrasi putus hubungan. (Freepik.com)

sumutpos.jawapos.com - Putus hubungan asmara sering meninggalkan sisa-sisa emosi yang kompleks. Tidak sedikit orang yang setelah berpisah menunjukkan perilaku tidak terduga, salah satunya adalah meminta kembali barang atau hadiah yang pernah diberikan saat masih bersama. Perilaku ini membuat banyak orang bertanya: apakah wajar? Apa yang terjadi dalam psikologis seseorang hingga ia melakukan hal ini?

Dalam hubungan romantis, pemberian hadiah tidak selalu bermakna materi semata. Psikologi relasi memandang hadiah sebagai simbol keterikatan, pengakuan, dedikasi, dan perasaan yang ditanamkan dalam hubungan itu sendiri.

Ketika hubungan berakhir, benda yang dulu penuh makna itu bisa berubah menjadi pengingat rasa sakit, penolakan, atau bahkan “investasi yang hilang”. Secara emosional, situasi ini bisa memicu dorongan untuk ‘memulihkan kehilangan’, termasuk mencoba menarik kembali apa yang pernah diberikan.

Psikolog klinis Indonesia, Liza Marielly Djaprie, M.Psi., Psikolog, dalam sejumlah konten edukatif di media sosialnya, dilansir dari Instagram @lizadjaprie, Senin (12/1/2026), kerap menekankan pentingnya batasan emosional dan proses psikologis sehat setelah hubungan berakhir.

Meski tidak selalu membahas secara khusus perilaku meminta barang kembali, beliau sering menyoroti tentang bagaimana seseorang perlu mengenali batasan emosional dan pentingnya membiarkan proses “letting go” terjadi pada diri sendiri pascaputus hubungan.

Dalam konten-konten tersebut, Liza sering mengajak audiens untuk memahami bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan harga diri, melainkan bagian penting dari kesehatan mental setelah hubungan berakhir

Lalu mengapa permintaan “Mengambil Kembali Barang” bisa muncul? Beberapa faktor psikologis yang bisa menjelaskan fenomena ini antara lain:

1. Simbol Kekuasaan dan Kontrol

Ketika hubungan berakhir, rasa kehilangan kendali dapat memicu dorongan untuk mempertahankan sesuatu yang dulu dimiliki bersama. Barang atau hadiah bisa menjadi simbol kontrol atas hubungan yang kini telah usai.

2. Ketidakmampuan “Melepaskan” Secara Emosional

Bagi sebagian orang, perpisahan bukan hanya soal tidak lagi bersama, tetapi juga soal kehilangan makna yang sebelumnya diberikan kepada hubungan itu sendiri. Permintaan barang bisa muncul karena psikologis mereka masih belum siap menerima akhir hubungan.

3. Persepsi Relasi sebagai Pertukaran

Dalam beberapa hubungan, pemberian barang atau hadiah secara tidak sadar dipandang sebagai bagian dari transaksi sosial. Ketika hubungan berakhir, individu bisa merasa “haknya belum terpenuhi”, sehingga ingin menarik kembali apa yang ia anggap sebagai “investasi”.

Secara etika, meminta kembali barang atau hadiah terutama yang sifatnya pribadi atau sentimental dapat memperpanjang konflik atau luka yang sudah dihadapi kedua belah pihak. Psikolog umumnya menyarankan untuk melihat barang sebagai bagian dari kenangan yang telah berlalu, bukan sebagai alat negosiasi atau cara untuk menjaga keterikatan.

Menyikapi putus hubungan dengan dewasa berarti mampu memproses emosi yang muncul tanpa mengambil tindakan yang justru memperparah luka.

Seperti yang disampaikan secara umum oleh praktisi psikologi seperti Liza Marielly Djaprie, seseorang perlu membangun kemampuan emosional untuk menerima perpisahan dan melihat setiap pengalaman hubungan sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sebagai utang yang harus ditagih kembali, baik secara materi maupun emosional. (lin)

Editor : Redaksi
#putus cinta #Kesehatan Mental #psikologi hubungan #mantan pasangan #Psikologi Cinta