30 C
Medan
Wednesday, February 28, 2024
spot_img
spot_img

Pamerkan Tenun Ikat Sumba, Timor, Bali, Sumbawa, serta Ulos Samosir

Indonesia Jadi Negara Asia Pertama Tampil di Musée du Louvre, Paris

SUMUTPOS.CO – Indonesia kian bersinar di mata dunia. Setelah memiliki ruangan khusus benda seni di Markas Besar UNESCO, giliran wastra Indonesia yang mencetak sejarah bisa tampil di Musée du Louvre, Paris, Prancis.

Mengangkat tema Selimut Nusantara, Kemen-terian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama desainer Edward Hutabarat sukses menampilkan Tenun Ikat dari Sumba, Timor, Bali, dan Sumbawa, serta Ulos dan Songket dari Samosir dalam gelaran tersebut. Setidaknya ada 20 looks yang ditampilkan Edward Hutabarat dalam gelaran tersebutn

Keindahan wastra-wastra nusantara kian mentereng dengan kemegahan Borobudur sebagai backgroundnya. Candi Borobudur dihadirkan dalam bentuk pameran foto untuk menyertai kekayaan kain Nusantara.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menuturkan, ini adalah salah satu upaya pengembangan Warisan Budaya Indonesia. Termasuk, upaya Diplomasi Budaya yang dilakukan oleh Indonesia.

“Kita bangga, kebudayaan Indonesia bisa tampil dengan berkelas di salah satu museum seni terbesar di dunia,” ujarnya dalam keterangannya kemarin (30/11).

Sang Desainer Edward Hutabarat pun mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih pada para pihak, terutama Kemendikbudristek yang mendukung penuh karyanya untuk bisa tampil di Musée du Louvre, Paris.

Diakuinya, peradaban Indonesia sangat erat kaitannya dengan ‘selimut’ (kain). Di mana, ‘selimut’ ini dikenal dengan nama-nama berbeda di masing-masing daerah di Indonesia. Seperti sarung (selembar kain yang kedua ujungnya dijahit menjadi satu), jarit (kain katun tipis, biasanya berupa Batik atau Lurik), dan masih banyak lagi. Masing-masing ‘selimut’ ini pun memiliki sejarah panjangnya sendiri.

Selimut yang ditenun seluruhnya dari bahan alami ini, kata dia, telah memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan budaya selama berabad-abad. “Secara keseluruhan, koleksi ini menjanjikan untuk mengungkap keindahan, kekayaan, keterampilan, dan kearifan budaya Indonesia, khususnya dari Sumba,” ujar pria yang akrab disapa Edo tersebut.

Pameran Selimut Nusantara ini terbuka untuk umum di Musée du Louvre, Paris mulai 28 November 2023 sampai 3 Januari 2024 mendatang. Dalam pembukaan pameran, Ketua Bidang 1 Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) Franka Makarim menyampaikan kebanggaannya tentang kekayaan budaya Indonesia yang berhasil tampil di Musée du Louvre, Paris. “Dan apa yang ditampilkan di sini baru sebagian kecil dari keragaman karya budaya Indonesia,” ungkapnya.

Pameran Selimut Nusantara ini, lanjut dia, akan memberikan sebuah perjalanan visual dan budaya kepada publik internasional di Paris. Melalui pameran yang ditampilkan, publik bisa menangkap esensi dari warisan Indonesia yang kaya melalui lensa Edward Hutabarat dan ketertarikan abadi terhadap kekaryaan nusantara.

“Dan ini menjadi kali pertama bagi sebuah negara Asia, khususnya Indonesia, untuk melakukan pameran di museum seni terbesar di dunia ini,” katanya.

Pameran ini sekaligus menjadi ajang untuk launching Best of Indonesia yang ingin mendorong talent dan produk Indonesia tembus market Eropa. (mia/jpg)

SUMUTPOS.CO – Indonesia kian bersinar di mata dunia. Setelah memiliki ruangan khusus benda seni di Markas Besar UNESCO, giliran wastra Indonesia yang mencetak sejarah bisa tampil di Musée du Louvre, Paris, Prancis.

Mengangkat tema Selimut Nusantara, Kemen-terian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama desainer Edward Hutabarat sukses menampilkan Tenun Ikat dari Sumba, Timor, Bali, dan Sumbawa, serta Ulos dan Songket dari Samosir dalam gelaran tersebut. Setidaknya ada 20 looks yang ditampilkan Edward Hutabarat dalam gelaran tersebutn

Keindahan wastra-wastra nusantara kian mentereng dengan kemegahan Borobudur sebagai backgroundnya. Candi Borobudur dihadirkan dalam bentuk pameran foto untuk menyertai kekayaan kain Nusantara.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menuturkan, ini adalah salah satu upaya pengembangan Warisan Budaya Indonesia. Termasuk, upaya Diplomasi Budaya yang dilakukan oleh Indonesia.

“Kita bangga, kebudayaan Indonesia bisa tampil dengan berkelas di salah satu museum seni terbesar di dunia,” ujarnya dalam keterangannya kemarin (30/11).

Sang Desainer Edward Hutabarat pun mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih pada para pihak, terutama Kemendikbudristek yang mendukung penuh karyanya untuk bisa tampil di Musée du Louvre, Paris.

Diakuinya, peradaban Indonesia sangat erat kaitannya dengan ‘selimut’ (kain). Di mana, ‘selimut’ ini dikenal dengan nama-nama berbeda di masing-masing daerah di Indonesia. Seperti sarung (selembar kain yang kedua ujungnya dijahit menjadi satu), jarit (kain katun tipis, biasanya berupa Batik atau Lurik), dan masih banyak lagi. Masing-masing ‘selimut’ ini pun memiliki sejarah panjangnya sendiri.

Selimut yang ditenun seluruhnya dari bahan alami ini, kata dia, telah memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan budaya selama berabad-abad. “Secara keseluruhan, koleksi ini menjanjikan untuk mengungkap keindahan, kekayaan, keterampilan, dan kearifan budaya Indonesia, khususnya dari Sumba,” ujar pria yang akrab disapa Edo tersebut.

Pameran Selimut Nusantara ini terbuka untuk umum di Musée du Louvre, Paris mulai 28 November 2023 sampai 3 Januari 2024 mendatang. Dalam pembukaan pameran, Ketua Bidang 1 Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) Franka Makarim menyampaikan kebanggaannya tentang kekayaan budaya Indonesia yang berhasil tampil di Musée du Louvre, Paris. “Dan apa yang ditampilkan di sini baru sebagian kecil dari keragaman karya budaya Indonesia,” ungkapnya.

Pameran Selimut Nusantara ini, lanjut dia, akan memberikan sebuah perjalanan visual dan budaya kepada publik internasional di Paris. Melalui pameran yang ditampilkan, publik bisa menangkap esensi dari warisan Indonesia yang kaya melalui lensa Edward Hutabarat dan ketertarikan abadi terhadap kekaryaan nusantara.

“Dan ini menjadi kali pertama bagi sebuah negara Asia, khususnya Indonesia, untuk melakukan pameran di museum seni terbesar di dunia ini,” katanya.

Pameran ini sekaligus menjadi ajang untuk launching Best of Indonesia yang ingin mendorong talent dan produk Indonesia tembus market Eropa. (mia/jpg)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/