alexametrics
27 C
Medan
Monday, June 27, 2022

9 Warga Binjai-Langkat di Ukraina Aman dan Sehat, Evakuasi Tunggu Jeda Perang

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keluarga 9 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Binjai dan Kabupaten Langkat yang terjebak di Ukraina, bisa merasa lega. Pasalnya, saat ini mereka dalam kondisi aman dan sehat di salah satu banker di Ukraina.

Menurut Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Ilegal (BP2MI), Benny Rhamdani, proses evakuasi 9 pekerja tersebut saat ini menunggu jeda perang masa kemanusiaan dan izin keselamatan dari Pemerintah Ukraina dan Rusia. Untuk saat ini, kata Benny, Pemerintah Indonesia sudah berhasil mengevakuasi 113 warganya di Ukraina.

Benny menejelaskan, kesembilan PMI asal Sumut yang bekerja di pabrik plastik sejak 2018 itu, saat ini dalam kondisi aman dan sehat. “Tinggal 9 orang ya. Mereka warga Sumatera Utara yang belum dipulangkan dan masih berlindung di banker di Ukraina. Mereka bekerja di pabrik plastik,” ujarnya.

Benny mengaku sudah berkordinasi dengan Duta Besar (Dubes) RI di Ukraina, Ghafur Darmaputra untuk memastikan keselamatan kesembilan PMI yang belum bisa dievakuasi sampai saat ini. “Saya juga sudah berkordinasi dengan Bapak Dubes agar menjamin mereka dalam kondisi aman,” kata Benny.

Diakuianya, proses evakuasi kesembilan warga Binjai-Langkat itu harus menunggu masa jeda kemanusiaan antara Ukraina dan Rusia, baru bisa dilakukan penjemputan oleh pihak Kedutaan Besar RIn

di Ukraina dan lalu dievakuasi serta diterbangkan ke Tanah Air. “Kemudian, izin keselamatan harus ditentukan Ukraina dan Rusia dari dua negara berkonflik itu. Jika sudah keluarkan, maka mereka akan dievakuasi dan diterbangkan,” jelas Benny lagi.

Dia berharap dan berdoa agar kesembilan PMI tersebut, selalu diberikan kesehatan dan keselamatan selama berada di banker Ukraina. “Doa kita tentu mereka sehat dan selamat,” tandas Benny.

Baca Juga :  Warga Binjai & Langkat di Ukraina, Tiap Malam Ada Ledakan, Kami Ketakutan...

Sebelumnya, istri dari salah satu pekerja asal Langkat, Yuli Kartika (26), mengkhawatirkan keselamatan suaminya Zulham Ramadhan yang saat ini berada di bunker perlindungan di kawasan pabrik plastik milik warga negara Dubai, tempat suaminya bekerja. “Setiap hari ada pengeboman, suami saya dan kawan-kawan bersembunyi di dalam bunker di belakang pabrik. Kalau sudah masuk bunker, sangat sulit berkomunikasi, karena susah sinyal,” paparnya.

Biasanya, kata ibu anak satu ini, suaminya selalu menelpon tiga kali setiap hari, sebelum gejolak perang. “Tapi sekarang, bisa nelpon sekali saja setiap hari rasanya senang sekali, kami was-was menunggu kabar setiap harinya,” ungkap Yuli.

Dikatakan Yuli lagi, saking was-wasnya keluarga terkait keselamatan Zulham, mereka sampai dilarang menonton berita-berita konflik Rusia-Ukraina di televisi. “Kata suami saya, ‘usah tonton berita-berita di televisi itu, cukup dengar kabar dari saya saja, biar tidak panik’, tapikan tidak bisa, tetap kita nonton tv lihat situasi disana,” lirihnya.

Yuli pun berharap, pemerintah segera melakukan penjemputan kepada suami dan rekan-rekannya. “Situasi di wilayah sekitar pabrik plastik sampai saat ini masih terdengar suara bom. Jadi pada saat suami saya sudah bersiap-siap (berkemas) tapi pihak KBRI tidak jadi menjemput mereka dan terpaksa harus bersembunyi lagi di bunker pabrik,” ujarnya.

“Rencananya suami saya puasa ini pulang, tapi karena situasi seperti ini, saya belum tahu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan dia,” harapnya.

Dia juga meminta Pemkab Langkat turun tangan mendorong pemerintah pusat mempercepat evakuasi suaminya dari Cherchiv, Ukraina. “Kami meminta Pemkab Langkat juga turut andil dalam evakuasi ini. Semoga suami saya baik-baik saja,” tutupnya.

Baca Juga :  Kemenlu Pastikan 9 WNI di Chernihiv dalam Kondisi Aman

Rasa was-was juga dirasakan, Ritami. Janda berusia 42 tahun ini terus mengkhawatirkan anak sulungnya Muhammad Raga Prayuda (22), yang harus berpindah-pindah tempat demi menyelamatkan diri. Ritami mengaku mendapat video yang diunggah anaknya ke media sosial Facebook pribadinya. Dalam video itu, Raga Prayuda yang akrab disapa Raga menunjukan situasi di Ukraina persisnya Kota Chernihiv.

Raga mau berjalan pindah ke tempat persembunyian yang aman menampilkan video situasi yang mengkhawatirkan. Video tersebut juga dilihat oleh sang ibu. Namun demikian, Raga tetap berupaya menenangkan ibunya dengan berujar dalam kondisi baik-baik saja. “Tapi mana bisa saya tenang melihatnya lari-lari gitu, semuanya bom. Bagaimana saya bisa tenang walau dia (Raga) bilang baik-baik saja, mamak jangan cemas,” ujar Ritami usai video konfres dengan KBRI di Ukraina.

Dia menangis ketika diwawancarai wartawan. Suaranya yang terisak-isak tidak dapat disembunyikannya. Menurut dia, kondisi Raga dan 8 tenaga kerja Indonesia lainnya saat ini sedang bersembunyi di bawah bunker. Bahaya terus mengintai akibat perang yang berkecamuk antara Rusia dengan Ukraina. “Sebelum video call sama saya, kayaknya masih tenang-tenang saja ini pemerintah, tapi begitu dia tunjukkan video lari bom semua mendengar, baru adalah solusinya lah dari sini,” beber dia.

Ritami mengakui ada rasa tenang sedikit setelah menyampaikan harapan kepada KBRI. Karenanya, dia berharap agar KBRI segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman. (gus/mag-2/ted)

 

 

teks foto:

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos

TEMU PERS: Kepala BP2MI, Benny Rhamdani didampingi Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi saat memberikan keterangan pers di Rumah Dinas Gubernur Sumut di Medan, Rabu (9/3).

 

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keluarga 9 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Binjai dan Kabupaten Langkat yang terjebak di Ukraina, bisa merasa lega. Pasalnya, saat ini mereka dalam kondisi aman dan sehat di salah satu banker di Ukraina.

Menurut Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Ilegal (BP2MI), Benny Rhamdani, proses evakuasi 9 pekerja tersebut saat ini menunggu jeda perang masa kemanusiaan dan izin keselamatan dari Pemerintah Ukraina dan Rusia. Untuk saat ini, kata Benny, Pemerintah Indonesia sudah berhasil mengevakuasi 113 warganya di Ukraina.

Benny menejelaskan, kesembilan PMI asal Sumut yang bekerja di pabrik plastik sejak 2018 itu, saat ini dalam kondisi aman dan sehat. “Tinggal 9 orang ya. Mereka warga Sumatera Utara yang belum dipulangkan dan masih berlindung di banker di Ukraina. Mereka bekerja di pabrik plastik,” ujarnya.

Benny mengaku sudah berkordinasi dengan Duta Besar (Dubes) RI di Ukraina, Ghafur Darmaputra untuk memastikan keselamatan kesembilan PMI yang belum bisa dievakuasi sampai saat ini. “Saya juga sudah berkordinasi dengan Bapak Dubes agar menjamin mereka dalam kondisi aman,” kata Benny.

Diakuianya, proses evakuasi kesembilan warga Binjai-Langkat itu harus menunggu masa jeda kemanusiaan antara Ukraina dan Rusia, baru bisa dilakukan penjemputan oleh pihak Kedutaan Besar RIn

di Ukraina dan lalu dievakuasi serta diterbangkan ke Tanah Air. “Kemudian, izin keselamatan harus ditentukan Ukraina dan Rusia dari dua negara berkonflik itu. Jika sudah keluarkan, maka mereka akan dievakuasi dan diterbangkan,” jelas Benny lagi.

Dia berharap dan berdoa agar kesembilan PMI tersebut, selalu diberikan kesehatan dan keselamatan selama berada di banker Ukraina. “Doa kita tentu mereka sehat dan selamat,” tandas Benny.

Baca Juga :  Dunia Desak Kadhafi Menyerah

Sebelumnya, istri dari salah satu pekerja asal Langkat, Yuli Kartika (26), mengkhawatirkan keselamatan suaminya Zulham Ramadhan yang saat ini berada di bunker perlindungan di kawasan pabrik plastik milik warga negara Dubai, tempat suaminya bekerja. “Setiap hari ada pengeboman, suami saya dan kawan-kawan bersembunyi di dalam bunker di belakang pabrik. Kalau sudah masuk bunker, sangat sulit berkomunikasi, karena susah sinyal,” paparnya.

Biasanya, kata ibu anak satu ini, suaminya selalu menelpon tiga kali setiap hari, sebelum gejolak perang. “Tapi sekarang, bisa nelpon sekali saja setiap hari rasanya senang sekali, kami was-was menunggu kabar setiap harinya,” ungkap Yuli.

Dikatakan Yuli lagi, saking was-wasnya keluarga terkait keselamatan Zulham, mereka sampai dilarang menonton berita-berita konflik Rusia-Ukraina di televisi. “Kata suami saya, ‘usah tonton berita-berita di televisi itu, cukup dengar kabar dari saya saja, biar tidak panik’, tapikan tidak bisa, tetap kita nonton tv lihat situasi disana,” lirihnya.

Yuli pun berharap, pemerintah segera melakukan penjemputan kepada suami dan rekan-rekannya. “Situasi di wilayah sekitar pabrik plastik sampai saat ini masih terdengar suara bom. Jadi pada saat suami saya sudah bersiap-siap (berkemas) tapi pihak KBRI tidak jadi menjemput mereka dan terpaksa harus bersembunyi lagi di bunker pabrik,” ujarnya.

“Rencananya suami saya puasa ini pulang, tapi karena situasi seperti ini, saya belum tahu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan dia,” harapnya.

Dia juga meminta Pemkab Langkat turun tangan mendorong pemerintah pusat mempercepat evakuasi suaminya dari Cherchiv, Ukraina. “Kami meminta Pemkab Langkat juga turut andil dalam evakuasi ini. Semoga suami saya baik-baik saja,” tutupnya.

Baca Juga :  Macet, Perdamaian Thailand-Kamboja

Rasa was-was juga dirasakan, Ritami. Janda berusia 42 tahun ini terus mengkhawatirkan anak sulungnya Muhammad Raga Prayuda (22), yang harus berpindah-pindah tempat demi menyelamatkan diri. Ritami mengaku mendapat video yang diunggah anaknya ke media sosial Facebook pribadinya. Dalam video itu, Raga Prayuda yang akrab disapa Raga menunjukan situasi di Ukraina persisnya Kota Chernihiv.

Raga mau berjalan pindah ke tempat persembunyian yang aman menampilkan video situasi yang mengkhawatirkan. Video tersebut juga dilihat oleh sang ibu. Namun demikian, Raga tetap berupaya menenangkan ibunya dengan berujar dalam kondisi baik-baik saja. “Tapi mana bisa saya tenang melihatnya lari-lari gitu, semuanya bom. Bagaimana saya bisa tenang walau dia (Raga) bilang baik-baik saja, mamak jangan cemas,” ujar Ritami usai video konfres dengan KBRI di Ukraina.

Dia menangis ketika diwawancarai wartawan. Suaranya yang terisak-isak tidak dapat disembunyikannya. Menurut dia, kondisi Raga dan 8 tenaga kerja Indonesia lainnya saat ini sedang bersembunyi di bawah bunker. Bahaya terus mengintai akibat perang yang berkecamuk antara Rusia dengan Ukraina. “Sebelum video call sama saya, kayaknya masih tenang-tenang saja ini pemerintah, tapi begitu dia tunjukkan video lari bom semua mendengar, baru adalah solusinya lah dari sini,” beber dia.

Ritami mengakui ada rasa tenang sedikit setelah menyampaikan harapan kepada KBRI. Karenanya, dia berharap agar KBRI segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman. (gus/mag-2/ted)

 

 

teks foto:

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos

TEMU PERS: Kepala BP2MI, Benny Rhamdani didampingi Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi saat memberikan keterangan pers di Rumah Dinas Gubernur Sumut di Medan, Rabu (9/3).

 

Most Read

Artikel Terbaru

/