alexametrics
25 C
Medan
Sunday, August 14, 2022
spot_img

11 Jamaah Indonesia Wafat, Pemerintah Siapkan Program Badal Haji

SUMUTPOS.CO – Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan, satu orang lagi jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Arab Saudi. Total, jamaah haji yang meninggal hingga saat ini menjadi 11 orang. Juru Bicara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kemenag, Akhmad Fauzin mengatakan, berdasarkan data Kemenag dari awal keberangkatan hingga kemarin, terdapat 558 jamaah yang sakit. Rinciannya, sebanyak 383 orang dilakukan rawat jalan, 188 orang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 17 orang dirawat di RSAS.

“Jamaah wafat bertambah satu orang atas nama Alfin Hartini Soengeb, Perempuan, 59 tahun, asal kelompok terbang SUB 9 (Embarkasi Surabaya), sehingga sampai hari ini (kemarin) jumlah jamaah wafat sebanyak 11 orang,” kata Akhmad dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/6).

Kemenag mencatat, hingga hari ke-21 operasional haji 1443 Hijriah, total 61.070 jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan ke Tanah Suci, baik dari Bandara Jeddah maupun Madinah. Dari jumlah itu, sebanyak 47.488 jemaah sudah berada di Makkah, sisanya masih menjalani Ibadah Arbain di Madinah.

Sedangkan khusus kemarin, terdapat 2.866 jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka terbagi dalam tujuh kloter dan berangkat dari enam embarkasi. Dua kloter berangkat dari Embarkasi Jakarta – Bekasi/JKS (820). Masing-masing satu kloter berangkat dari Embarkasi Batam/BTH (450), Lombok/LOP (393), Solo/SOC (36), Surabaya/SUB (450), dan Makassar/UPG (393).

Ketentuan Badal haji

Lebih lanjut, Akhmad menyebut pemerintah menyiapkan program badal haji bagi jamaah yang memenuhi kriteria. Menurutnya, ada tiga kelompok jamaah yang bisa dibadalhajikan.

Pertama, jamaah yang meninggal dunia di asrama haji Embarkasi atau Embarkasi antara, saat dalam perjalanan keberangkatan ke Arab Saudi, atau di Arab Saudi sebelum wukuf di Arafah. “Kedua, jamaah yang sakit dan tidak dapat disafariwukufkan. Dan ketiga, jamaah yang mengalami gangguan jiwa,” ujarnya.

Lantas, bagaimana tahapan pelaksanaan badal haji? Pria yang akrab disapa Fauzin menjelaskan, ada beberapa tahap yang dilalui. Pertama, pendataan jamaah wafat sampai dengan tanggal 9 Zulhijjah jam 11.00 waktu Arab Saudi (WAS). Kedua, penyiapan petugas badal haji di Kantor Daker Makkah. Ketiga, petugas badal haji diberangkatkan ke Arafah pada pukul 11.00 WAS tanggal 9 Zulhijjah.

“Keempat, petugas badal haji melaksanakan wukuf dan dilanjutkan rangkaian ibadah haji yang bersifat rukun dan wajib, sampai dengan seluruh raangkaiannya selesai dan diakhiri dengan bercukur sebagai tanda tahallul,” tuturnya.

Baca Juga :  Jamaah Furoda Mulai Dapat Titik Terang, Keberangakatan Diperkirakan Bergeser

Selanjutnya petugas badal haji menandatangani surat pernyataan telah selesai melaksakan tugas badal haji. PPIH Arab Saudi lalu menerbitkan sertifikat badal haji. Terakhir atau ketujuh, sertifikat badal haji diserahkan ke PPIH Kloter untuk diberikan ke keluarga jemaah yang dibadalkan. “Pelaksanaan badal haji tidak dipungut biaya,” ungkap Fauzin yang juga Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi, Setjen Kemenag.

Pemerintah, lanjut Fauzin, mengimbau agar jamaah tidak melakukan transaksi badal haji dengan pihak yang tidak bertanggung jawab. Jamaah sebaiknya melapor kepada PPIH Kloter dan PPIH Sektor untuk memastikan pelaksanaan badal haji. Jemaah bisa juga berkonsultasi terkait badal haji melalui watshap center di nomor +966 503 5000 17.

Hipertensi Paling Banyak Diidap Jamaah Indonesia

Jamaah haji Indonesia diminta mewaspadai penyakit tidak menular yang dimiliki, agar bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar. Lantas, penyakit tidak menular apa yang paling banyak diidap para jamaah haji Indonesia?

Kepala Pusat Kesehatan Haji dr Budi Sylvana MARS menyebut, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi penyakit tidak menular yang paling banyak diidap jamaah haji asal Indonesia. Tercatat dari sekitar 3.000 kasus rawat jalan jamaah haji Indonesia baik di kloter, sektor, maupun KKHI, sebanyak 1.384 merupakan kasus hipertensi. “Untuk itu perlu ada kampanye gerakan peduli hipertensi bagi jamaah haji,” kata dr Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes RI, Jumat (24/6).

dr Budi menuturkan, gerakan peduli hipertensi bagi jamaah haji dapat dilakukan dengan enam langkah. Yakni pertama, rutin memeriksa kesehatan. Kedua, konsumsi obat secara teratur sesuai anjuran dokter. Ketiga, sesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatan. Kemudian yang keempat, jaga keseimbangan pola makan. Kelima, makan sayur dan buah. Dan keenam, hindari kelelahan.

Peningkatan tekanan darah jemaah haji disinyalir disebabkan oleh dehidrasi, aktivitas fisik yang berlebih, dan kelelahan. Untuk itu, asupan cairan saat beraktivitas menjadi hal yang harus diperhatikan bagi jemaah haji dan tenaga kesehatan haji (TKH).

Bangun Rumah Sakit di Madinah

Anggota Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis mengusulkan, Pemerintah membangun fasilitas rumah sakit di Madinah, Arab Saudi, untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi jamaah calon haji dan umrah dari Indonesia. Menurut Iskan, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, pembangunan rumah sakit tersebut diperlukan karena standar dosis obat di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia.

Baca Juga :  1.077 Calon Jamaah Haji Ikuti Manasik, Pemko Sediakan Layanan Tes PCR Gratis

“Kami ingin ke depan supaya kita boleh membuka rumah sakit, cita-cita kita. Itu di seluruh dunia boleh saja karena obat standar Arab berbeda dengan kita. Tabletnya gede-gede, kita kecil-kecil. Dosisnya juga beda, makanan beda. Jadi, kami upayakan nanti punya rumah sakit sendiri supaya jamaah bisa tertangani secara optimal,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah, pelayanan kesehatan di sana setara dengan pelayanan pada rumah sakit tipe C di Indonesia. Selain itu, tambah dia, Pemerintah Arab Saudi pun akan mengizinkan jika Pemerintah Indonesia hendak membangun fasilitas rumah sakit di sana.

“Putra Mahkota (Pangeran Mohammed bin Salman) sangat terbuka. Dia melihat standar pelayanan di Amerika bagaimana, di Emirat bagaimana. Saya rasa, ke depan, sangat mungkin kita buat rumah sakit, apalagi kita punya rumah sakit luar biasa. Di satu provinsi (di Indonesia), ada 20 rumah sakit. Artinya, kita bukan ‘kaleng-kaleng’ di bidang rumah sakit ini,” jelasnya.

Tidak hanya membangun rumah sakit, dia juga berharap Pemerintah Indonesia dapat membangun hotel di Arab Saudi bagi jamaah calon haji Indonesia. Cita-cita itu dapat diwujudkan karena dana haji Indonesia sudah terkelola dengan baik di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), tambahnya. “Apa salahnya kita punya hotel di Arab Saudi, penginapan. Ke depan, itu sangat mungkin karena di Arab Saudi sekarang itu boleh orang punya tanah 99 tahun, itu sama dengan Singapura,” katanya.

Jika rencana itu terwujud, tambahnya, maka hal tersebut dapat menekan biaya haji yang saat ini masih tergolong mahal meskipun Pemerintah juga memberikan subsidi yang banyak. Bahkan, tambah dia, beban biaya haji saat ini semakin bertambah dengan adanya dana masyair atau dana transportasi serta akomodasi jamaah calon haji senilai Rp1,46 triliun. “Kami mau haji layanan bagus, gratis tidak bisa. Sesuai visinya Arab Saudi, ke depan itu akan naik, bersiap saja,” ujar Iskan. (dtc/dth/jpc)

 

SUMUTPOS.CO – Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan, satu orang lagi jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Arab Saudi. Total, jamaah haji yang meninggal hingga saat ini menjadi 11 orang. Juru Bicara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kemenag, Akhmad Fauzin mengatakan, berdasarkan data Kemenag dari awal keberangkatan hingga kemarin, terdapat 558 jamaah yang sakit. Rinciannya, sebanyak 383 orang dilakukan rawat jalan, 188 orang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 17 orang dirawat di RSAS.

“Jamaah wafat bertambah satu orang atas nama Alfin Hartini Soengeb, Perempuan, 59 tahun, asal kelompok terbang SUB 9 (Embarkasi Surabaya), sehingga sampai hari ini (kemarin) jumlah jamaah wafat sebanyak 11 orang,” kata Akhmad dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/6).

Kemenag mencatat, hingga hari ke-21 operasional haji 1443 Hijriah, total 61.070 jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan ke Tanah Suci, baik dari Bandara Jeddah maupun Madinah. Dari jumlah itu, sebanyak 47.488 jemaah sudah berada di Makkah, sisanya masih menjalani Ibadah Arbain di Madinah.

Sedangkan khusus kemarin, terdapat 2.866 jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka terbagi dalam tujuh kloter dan berangkat dari enam embarkasi. Dua kloter berangkat dari Embarkasi Jakarta – Bekasi/JKS (820). Masing-masing satu kloter berangkat dari Embarkasi Batam/BTH (450), Lombok/LOP (393), Solo/SOC (36), Surabaya/SUB (450), dan Makassar/UPG (393).

Ketentuan Badal haji

Lebih lanjut, Akhmad menyebut pemerintah menyiapkan program badal haji bagi jamaah yang memenuhi kriteria. Menurutnya, ada tiga kelompok jamaah yang bisa dibadalhajikan.

Pertama, jamaah yang meninggal dunia di asrama haji Embarkasi atau Embarkasi antara, saat dalam perjalanan keberangkatan ke Arab Saudi, atau di Arab Saudi sebelum wukuf di Arafah. “Kedua, jamaah yang sakit dan tidak dapat disafariwukufkan. Dan ketiga, jamaah yang mengalami gangguan jiwa,” ujarnya.

Lantas, bagaimana tahapan pelaksanaan badal haji? Pria yang akrab disapa Fauzin menjelaskan, ada beberapa tahap yang dilalui. Pertama, pendataan jamaah wafat sampai dengan tanggal 9 Zulhijjah jam 11.00 waktu Arab Saudi (WAS). Kedua, penyiapan petugas badal haji di Kantor Daker Makkah. Ketiga, petugas badal haji diberangkatkan ke Arafah pada pukul 11.00 WAS tanggal 9 Zulhijjah.

“Keempat, petugas badal haji melaksanakan wukuf dan dilanjutkan rangkaian ibadah haji yang bersifat rukun dan wajib, sampai dengan seluruh raangkaiannya selesai dan diakhiri dengan bercukur sebagai tanda tahallul,” tuturnya.

Baca Juga :  1.077 Calon Jamaah Haji Ikuti Manasik, Pemko Sediakan Layanan Tes PCR Gratis

Selanjutnya petugas badal haji menandatangani surat pernyataan telah selesai melaksakan tugas badal haji. PPIH Arab Saudi lalu menerbitkan sertifikat badal haji. Terakhir atau ketujuh, sertifikat badal haji diserahkan ke PPIH Kloter untuk diberikan ke keluarga jemaah yang dibadalkan. “Pelaksanaan badal haji tidak dipungut biaya,” ungkap Fauzin yang juga Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi, Setjen Kemenag.

Pemerintah, lanjut Fauzin, mengimbau agar jamaah tidak melakukan transaksi badal haji dengan pihak yang tidak bertanggung jawab. Jamaah sebaiknya melapor kepada PPIH Kloter dan PPIH Sektor untuk memastikan pelaksanaan badal haji. Jemaah bisa juga berkonsultasi terkait badal haji melalui watshap center di nomor +966 503 5000 17.

Hipertensi Paling Banyak Diidap Jamaah Indonesia

Jamaah haji Indonesia diminta mewaspadai penyakit tidak menular yang dimiliki, agar bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar. Lantas, penyakit tidak menular apa yang paling banyak diidap para jamaah haji Indonesia?

Kepala Pusat Kesehatan Haji dr Budi Sylvana MARS menyebut, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi penyakit tidak menular yang paling banyak diidap jamaah haji asal Indonesia. Tercatat dari sekitar 3.000 kasus rawat jalan jamaah haji Indonesia baik di kloter, sektor, maupun KKHI, sebanyak 1.384 merupakan kasus hipertensi. “Untuk itu perlu ada kampanye gerakan peduli hipertensi bagi jamaah haji,” kata dr Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes RI, Jumat (24/6).

dr Budi menuturkan, gerakan peduli hipertensi bagi jamaah haji dapat dilakukan dengan enam langkah. Yakni pertama, rutin memeriksa kesehatan. Kedua, konsumsi obat secara teratur sesuai anjuran dokter. Ketiga, sesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatan. Kemudian yang keempat, jaga keseimbangan pola makan. Kelima, makan sayur dan buah. Dan keenam, hindari kelelahan.

Peningkatan tekanan darah jemaah haji disinyalir disebabkan oleh dehidrasi, aktivitas fisik yang berlebih, dan kelelahan. Untuk itu, asupan cairan saat beraktivitas menjadi hal yang harus diperhatikan bagi jemaah haji dan tenaga kesehatan haji (TKH).

Bangun Rumah Sakit di Madinah

Anggota Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis mengusulkan, Pemerintah membangun fasilitas rumah sakit di Madinah, Arab Saudi, untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi jamaah calon haji dan umrah dari Indonesia. Menurut Iskan, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, pembangunan rumah sakit tersebut diperlukan karena standar dosis obat di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia.

Baca Juga :  Incumbent Unggul, Nigeria Rusuh

“Kami ingin ke depan supaya kita boleh membuka rumah sakit, cita-cita kita. Itu di seluruh dunia boleh saja karena obat standar Arab berbeda dengan kita. Tabletnya gede-gede, kita kecil-kecil. Dosisnya juga beda, makanan beda. Jadi, kami upayakan nanti punya rumah sakit sendiri supaya jamaah bisa tertangani secara optimal,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah, pelayanan kesehatan di sana setara dengan pelayanan pada rumah sakit tipe C di Indonesia. Selain itu, tambah dia, Pemerintah Arab Saudi pun akan mengizinkan jika Pemerintah Indonesia hendak membangun fasilitas rumah sakit di sana.

“Putra Mahkota (Pangeran Mohammed bin Salman) sangat terbuka. Dia melihat standar pelayanan di Amerika bagaimana, di Emirat bagaimana. Saya rasa, ke depan, sangat mungkin kita buat rumah sakit, apalagi kita punya rumah sakit luar biasa. Di satu provinsi (di Indonesia), ada 20 rumah sakit. Artinya, kita bukan ‘kaleng-kaleng’ di bidang rumah sakit ini,” jelasnya.

Tidak hanya membangun rumah sakit, dia juga berharap Pemerintah Indonesia dapat membangun hotel di Arab Saudi bagi jamaah calon haji Indonesia. Cita-cita itu dapat diwujudkan karena dana haji Indonesia sudah terkelola dengan baik di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), tambahnya. “Apa salahnya kita punya hotel di Arab Saudi, penginapan. Ke depan, itu sangat mungkin karena di Arab Saudi sekarang itu boleh orang punya tanah 99 tahun, itu sama dengan Singapura,” katanya.

Jika rencana itu terwujud, tambahnya, maka hal tersebut dapat menekan biaya haji yang saat ini masih tergolong mahal meskipun Pemerintah juga memberikan subsidi yang banyak. Bahkan, tambah dia, beban biaya haji saat ini semakin bertambah dengan adanya dana masyair atau dana transportasi serta akomodasi jamaah calon haji senilai Rp1,46 triliun. “Kami mau haji layanan bagus, gratis tidak bisa. Sesuai visinya Arab Saudi, ke depan itu akan naik, bersiap saja,” ujar Iskan. (dtc/dth/jpc)

 

spot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Pengangkatan Fonaha Diprotes

Singgih Kembali Pimpin PBI Sumut

Artikel Terbaru

/