Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dunia Terguncang! Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS–Israel, Iran Bersumpah Balas Dendam

J
Penulis: Johan Panjaitan❯

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (express.co)
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (express.co)


Advertisement

Sumutpos.jawapos.com-Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.

Kabar tersebut dikonfirmasi media pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency, yang menyebut kematian Khamenei sebagai pukulan besar bagi Republik Islam Iran. Pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Serangan yang menghantam sejumlah fasilitas pertahanan dan infrastruktur sipil di berbagai kota itu disebut Teheran sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.

Advertisement

Iran Siapkan Serangan Balasan Terbesar

Situasi langsung memanas. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa operasi balasan paling besar dalam sejarah militer Iran sedang dipersiapkan.

“Operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai,” tegas IRGC dalam pernyataan resminya.

Advertisement

Targetnya disebut tidak main-main: wilayah dan pangkalan Amerika Serikat yang dianggap sebagai “basis teroris” di kawasan Timur Tengah.

Pemerintahan Sementara Dibentuk

Seiring wafatnya Khamenei, Iran langsung membentuk dewan kepemimpinan sementara. Dewan ini terdiri dari presiden Iran, kepala kehakiman, dan seorang anggota Dewan Penjaga Konstitusi yang akan menjalankan tugas-tugas kepemimpinan negara untuk sementara waktu.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas politik di tengah ancaman konflik regional yang semakin luas.

Pernyataan Mengejutkan dari Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengumumkan kematian Khamenei melalui media sosialnya.

Trump menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil berkat intelijen dan teknologi pelacakan canggih AS, serta koordinasi erat dengan Israel.

Ia bahkan menyebut kematian Khamenei sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.”

Trump juga mengklaim terjadi kekacauan di dalam aparat keamanan Iran, termasuk di tubuh militer, polisi, dan Garda Revolusi.

“Banyak dari mereka tidak ingin melanjutkan perang dan sedang mencari jaminan keamanan,” kata Trump.

Meski begitu, ia menegaskan operasi militer AS akan terus berlanjut hingga tercapai stabilitas di Timur Tengah.

Timur Tengah di Ambang Perang Besar

Konflik mulai memuncak sejak 28 Februari 2026 ketika Israel melancarkan serangan awal ke Iran untuk menetralisir ancaman keamanan.

Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke wilayah Israel dan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk:

Bahrain

Qatar

Uni Emirat Arab

Kuwait

Arab Saudi

Situasi ini membuat negara-negara tersebut dilaporkan siap bergabung dengan koalisi AS dan Israel dalam operasi terhadap Iran.

Dengan kematian Khamenei dan ancaman balasan dari Teheran, para pengamat menilai kawasan Timur Tengah kini berada di ambang konflik militer besar yang berpotensi mengguncang stabilitas dunia.(bbs/han)

Advertisement

Artikel Terkait

Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat, AS Diminta Akhiri Perang di Timur Tengah

Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat, AS Diminta Akhiri Perang di Timur Tengah

Iran mensyaratkan AS mengakhiri perang di Timur Tengah sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.

Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir, Tegaskan Tak Akan Membiarkannya

Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir, Tegaskan Tak Akan Membiarkannya

Donald Trump mengklaim Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir dan menegaskan tak akan membiarkannya.

Trump Mulai Kembalikan Dana Tarif, Demokrat Minta Uangnya untuk Rakyat

Trump Mulai Kembalikan Dana Tarif, Demokrat Minta Uangnya untuk Rakyat

Pemerintah AS mengembalikan USD100 miliar tarif impor usai putusan Mahkamah Agung, memicu polemik di Kongres.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer