
JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (11/6) setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul serangan militer Amerika Serikat ke sejumlah wilayah di negara tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut hampir selalu memicu gejolak harga minyak internasional.
Berdasarkan data Investing, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,26 persen menjadi USD 92,06 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak Brent naik ke level USD 94,90 per barel, mendekati ambang psikologis USD 95.
Lonjakan harga terjadi setelah Komando Militer Gabungan Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup bagi kapal tanker minyak maupun kapal komersial. Langkah tersebut dinilai sebagai respons langsung atas operasi militer Amerika Serikat yang kembali memperuncing konflik di kawasan.
Namun, situasi di lapangan masih memunculkan perbedaan informasi. Militer Amerika Serikat melaporkan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz masih berlangsung dan sejumlah kapal terus melintas keluar-masuk perairan tersebut.
Washington juga menegaskan tidak ada kapal perang AS yang menjadi sasaran serangan. Pernyataan itu bertolak belakang dengan klaim media pemerintah Iran yang menyebut kapal-kapal Amerika berada dalam jangkauan operasi militernya di sekitar kawasan tersebut.
Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pecahnya perang yang lebih luas. Serangan AS yang dimulai pada Rabu menandai berakhirnya ketenangan relatif setelah gencatan senjata yang tercapai pada awal April lalu.
Para pelaku pasar kini mencermati dampak jangka panjang terhadap pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.
Kekhawatiran tersebut diperparah oleh menurunnya cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Sejak konflik meletus pada 28 Februari, stok minyak AS dilaporkan telah menyusut sekitar 79 juta barel karena pemerintah dan pelaku industri berupaya menutupi potensi kekurangan pasokan akibat gangguan distribusi energi.


