Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Akankah Mojtaba Khamenei Jadi Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

Juli Rambe • Senin, 2 Maret 2026 | 01:00 WIB

Mojtaba Khamenei. (Dok: Webangar.ir)
Mojtaba Khamenei. (Dok: Webangar.ir)

 

SUMUT POS- Pemerintah Iran belum juga menunjuk siapa yang akan menggantikan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.

Diketahui, Ayatollah Ali Khamenei wafat terkena gempuran Israel Amerika pada Sabtu (28/2/2026) kemarin.

Kini, nama Mojtaba Khamenei mendadak diisukan akan menggantikan peran ayahnya.

Menurut Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pemerintah Iran juga akan membentuk dewan kepemimpinan sementara pada Minggu (1/3/2026).

Melansir Aljazeera, Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Khamenei. Namanya termasuk di antara kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi berikutnya.

Ia dikenal memiliki pengaruh besar di kalangan para pejabat pemerintahan serta Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau badan militer paling kuat di Iran.

Namun, garis keturunannya juga menjadi salah satu hambatan terbesar yang dihadapinya. 

Ia dilaporkan menentang suksesi dari ayah ke anak. Praktik tersebut tidak disukai di Iran, terutama setelah monarki yang didukung Amerika Serikat di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi digulingkan pada 1979.

Sementara itu, Pasal 107 UUD Iran menyatakan, “Penentuan Pemimpin Tertinggi berada di tangan para ahli yang dipilih oleh rakyat." Ini menggarisbawahi wewenang satu lembaga untuk menyeleksi dan menunjuk pemimpin tertinggi negara.

Berada di pusat proses suksesi pemimpin tertinggi adalah Majelis Pakar, badan berpengaruh yang bertugas memilih otoritas politik dan agama tertinggi Republik Islam.

Majelis ini terdiri atas 88 ahli hukum dan ulama senior yang dipilih melalui pemilu untuk masa jabatan 8 tahun. Tanggung jawab utamanya adalah menunjuk pemimpin tertinggi baru jika terjadi kematian, pengunduran diri, atau ketidakmampuan menjalankan tugas.

Sejak revolusi 1979, Iran hanya memiliki dua pemimpin tertinggi, yakni Ayatollah Ruhollah Khomeini yang juga pendiri Republik Islam, dan Ali Khamenei, yang menggantikannya pada 1989.

Selain memilih pemimpin, badan ini bertanggung jawab untuk mengawasi kinerjanya serta memiliki wewenang untuk memberhentikannya jika gagal memenuhi tugas.

Pemilihan Majelis Pakar terakhir diadakan pada 2024, dan saat ini dipimpin oleh ulama senior Mohammad Ali Movahedi Kermani.

Setelah kematian Khomeini pada 3 Juni 1989, Majelis Pakar berkumpul untuk mengisi kekosongan kepemimpinan pada masa kritis. Saat itu Iran baru saja keluar dari perang 8 tahun melawan Irak. Khamenei terpilih sebagai pengganti, melalui rekomendasi pribadi Khomeini serta mendapat suara mayoritas selama proses pemilihan yang berlangsung emosional.

Berdasarkan kriteria konstitusi, pemimpin tertinggi haruslah seorang ahli hukum Islam yang berkualifikasi, adil dan saleh, berpengalaman dalam urusan politik dan sosial, serta mampu memimpin dan mengambil keputusan dengan bijaksana.

Jika tidak ada kandidat yang sepenuhnya memenuhi semua kualifikasi, Majelis Pakar dapat memilih individu yang menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang kuat dan kompetensi politik.

Setelah musyawarah, para anggota melakukan pemungutan suara internal, dan kandidat yang memperoleh mayoritas suara dari yang hadir diangkat. (bbs/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#Mojtaba Khamenei #Perang iran vs israel dan amerika #Pemimpin iran